Risalah Puisi
By:
Allen Ross , Th.D., Ph.D.
Definisi
Penyelidikan mengenai risalah puisi akan
melibatkan lebih dari sekedar kiasan yang digunakan dalam Alkitab,
karena sebelum kita bisa mengerti lebih baik dan menghargai
sepenuhnya ragam kata yang digunakan oleh para penulis kita harus
lebih dulu mengerti nature dari bahasa puisi.
Hunt memberikan satu definisi yang memasukan
sebagian besar hal-hal yang ingin dimasukan, ?Puisi adalah
pengutaraan dari keinginan mendapatkan kebenaran, keindahan dan
kekuatan, mewujudkan dan menyatakan pengertiannya melalui imajinasi
dan khayalan, dan mengubah bahasanya pada prinsip keragaman dalam
kesatuan? (dikutip oleh Abrams). Scott membedakan aspek
komunikatifnya dengan mengatakan bahwa pelukis, orator, dan penyair
masing-masing memiliki motif menggembirakan pembaca, pendengar, atau
pengamat, suatu nada dari perasaan yang mirip dengan yang ada dalam
rahimnya, apakah itu dinyatakan melalui pensil, lidah atau penanya.
Objek dari artislah, singkatnya ? untuk mengkomunikasikan, dan juga
apa yang bisa dilakukan oleh warna-warna dan kata-kata, sensasi yang
sama yang telah mendikte komposisinya sendiri.
Maka penyair menciptakan kembali pengalaman
emosionalnya melalui pemilihan kata sehingga pembacanya bisa
mengimitasi sensasi tersebut. Mengkomunikasikan emosi seperti itu
memerlukan bahasa kiasan. Orang berpikir dalam bentuk gambar dan
symbol, dan pembicaraan mereka dipenuhi dengan ekspresi seperti itu.
Maka dari itu, tulisan yang dengan indah ditulis yang menggunakan
kiasan yang efektif memuaskan keinginan aestetik manusia dan
bermakna bagi kebutuhan image manusia.
Hal ini seharusnya tidak mengherankan, kalau
bahasa puisi bisa ditemukan hampir disetiap halaman Alkitab, baik
Perjanjian Lama dan Baru. Tuhan memilih untuk mengkomunikasikan
kebenarannya kepada umat dengan kiasan rendah dan tinggi! Bahasa
seperti itu tidak hanya membawa kualitas aestetik bagi Alkitab, tapi
juga membawa Firman Tuhan ketingkatan pengalaman manusia sehingga
bisa dimengerti baik kebenarannya dan semangatnya.
Ringkasan berikut ini menangkap maksud yang
sedang kita buat disini:
?Perlu diperhatikan bahwa ?dalam mengubah? kata,
penyair sering menukar posisikan atau meletakan kata itu kedalam
suatu wilayah semantic yang bukan pada tempat biasanya. Sebagai
contoh, dalam kalimat ?the LORD is my shepherd / TUHAN adalah
gembalaku? kata ?shepherd / gembala? yang milik jangkauan
semantiknya dari perawatan hewan ditukar posisikan untuk diterapkan
pada Keberadaan rohani. Saat Daud berdoa: ?Cause me to hear joy and
gladness / membuat aku mendengar sukacita dan kegembiraan? dia
menukar posisikan suatu kata yang merujuk pada suatu keadaan
psikologis sebagai objek dari suatu kata kerja yang menunjukan
aktifitas fisik. Ditempat lain penyair itu berkata: ?the mountains
clapped / gunung-gunung bertepuk tangan? disini dia menempatkan
suatu kata kerja yang merujuk pada aktifitas manusia kepada subjek
yang tidak hidup dan bergerak. Suatu tukar posisi dari jangkauan
arti semantic juga terjadi saat Caesar berkomentar mengenai Brutus:
?Karena Brutus adalah orang terhormat; maka mereka semua orang
terhormat / For Brutus is an honorable man; so are they all
honorable men,? karena satu kata mengenai kebajikan ditempatkan
untuk menggambarkan perbuatan manusia yang dijelaskan oleh komposisi
lainnya. Penempatan, tukar posisi kedalam wilayah semantic lain
sering menyadarkan pembaca bahwa penulis telah menggunakan suatu
kiasan.
?Lebih jauh, saat seorang penulis secara seni
mengubah kata-katanya, dia tidak sepenuhnya menjelaskan maksudnya
karena dia juga berusaha menciptkan suatu rasa dalam diri
pembacanya. Dengan kata lain, seluruh kiasan elliptical dan banyak
yang mengajak / evocative. Atas alasan ini eksegetor dalam
perjalanan menciptakan kembali dalam pikirannya apa yang ada didalam
pikiran penulis berusaha mengisi pikiran dan perasaan yang tidak
dinyatakan. Sebagai contoh, saat Daud berkata: ?the LORD is my
shepherd? dia membangkitkan gambaran seorang gembala yang menjaga
dombanya, gambaran itu menghasilkan pikiran tentang gembala yang
memberi makan (v. 1), menyegarkan (v. 2), membimbing (v. 3) dan
melindungi (v. 4) dombanya. Pikiran lengkapnya seperti: ?as a
shepherd is good and lovingly loyal to his sheep, so the LORD is
good and lovingly-loyal to me / seperti seorang gembala itu baik dan
mengasihi serta setia terhadap dombanya, demikian juga TUHAN itu
baik dan memiliki kasih setia terhadap saya? (v. 6). Maka, melalui
gambaran ini penulis membangkitkan suatu perasaan perhatian kasih.
Karena penulis tidak sepenuhnya menjelaskan pikiran atau perasaan
yang dimaksudnya, eksegetor terlebih dulu harus menebak maksud
penulis dan mencoba menguji dugaannya melalui petunjuk lain yang ada
dalam komposisi tersebut. Rekonstruksi ini sebagian besar intuitive,
maka dari itu prosesnya bersifat seni daripada ilmiah. Maka itu,
pembaca abad keduapuluh berbeda jauh dari manusia agraris di Zaman
Besi. Maka dari itu pembaca modern harus berusaha masuk kedalam
budaya penulis agar bisa berpikir dan merasakan seperti penyair itu
(Bruce K. Waltke).
Pengertian yang Salah Mengenai Puisi
Sedih melihat banyak orang yang mempelajari
Alkitab tidak memberi waktu untuk bekerja dengan bahasa puisi, hal
ini dasar bagi penafsiran dan tidak bisa dibuang sebagai pelajaran
aneh yang tidak berhubungan dengan prosedur eksegetis. Keengganan
untuk bekerja dengan puisi sebagian disebabkan oleh kegagalan
mengerti sifatnya.
I. C. Hungerland dalam Poetic Discourse
menyatakan kalau diantara kritik puisi ada pendapat bahwa arti
literal dan arti puisi berlawanan. Dia menjelaskan kalau pemikiran
ini dinyatakan secara na裂dan canggih (pp. 107ff.). Pada bentuk
naifnya, pendapat sebagian besar percaya bahwa bahasa ?khayalan?,
bahasa yang menunjukan banyak kiasan, merupakan karakteritiknya
puisi. Pada bentuk canggihnya pendapatnya terdapat secara implicit
dalam ajaran masa kini bahwa abiguitas, paradoks, dan ironi secara
esensi milik puisi.
Apakah diekspresikan secara na裂maupun canggih,
ada sedikit kebenaran didalamnya. Agar bisa melihat sedikit
kebenaran ini dan menghindari kesalahan membatasi bentuk bahasa yang
digunakan puisi, lebih baik memulai pelajaran mengenai kiasan dengan
melihatnya dalam pidato sehari-hari.
Kita menerima begitu saja ekspresi seperti: ?the
White House said today,? ?He waited an eternity,? ?She floated into
the room,? ?He?s a pig.? Tapi ekspresi lain, walau biasa digunakan,
sedikit membingungkan bagi kita: ?She dropped her eyes,? ?They faced
the difficulty,? ?It is crystal clear,? ?They were up in arms,? ?Her
almond eyes? .?
Juga, jika kita berusaha mengevaluasi ekspresi
slang kita kesulitan dengan beberapa kiasan: ?It?s raining cats and
dogs,? ?I?ll take a raincheck on that,? ?He?s the spit?n image of
his father.? ?This baby has four hundred horses under the hood,? ?I
needed that like I needed a hole in the head,? dan ekspresi yang
ditujukan pada seorang pilot dari Bronx sebelum lepas landas, ?Give
with the woid, and I?ll make like a boid.?
Kriteria dalam Mempelajari Puisi
Apa kriteria kita dalam membedakan literal dan
kiasan dalam ekspresi yang umum seperti diatas? Kita bisa
menformulasikannya dengan cara ini: suatu ekspresi kiasan adalah
yang, saat komponen kata-katanya digunakan dalam cara yang biasa
atau dibentuk, menjadi salah atau pernyataan yang tidak masuk akal.
Singkatnya, kiasan menunjukan suatu pelanggaran terhadap beberapa
aturan penggunaan. Harus diperhatikan kalau tidak semua pelanggaran
dalam penggunaannya merupakan bahasa kiasan.
Kriteria ini bisa dilihat melalui pertimbangan
berikut. Pertama, patut diingat kalau bahasa puisi biasanya
digunakan sebagai alat dalam pidato penjelasan dan ekspositor,
apakah berbentuk keseharian atau ilmiah. Penggunaan kiasan akan
menolong menjelaskan dan menentukan subjek masalah.
Lebih jauh, ekspresi kiasan memiliki paraphrases
atau terjemahan yang, dilihat secara literal, masuk akal. Walaupun
demikian kita harus hati-hati, karena arti dari suatu kiasan tidak
akan sama persis seperti kiasan itu. Terjemahan dari kiasan itu akan
berbeda dari aslinya dalam nada, baris usulan, dan informasi yang
dibawa oleh pembicara.
Jadi kesimpulan bahwa bahasa puisi disatu sisi
hanyalah khayalan dan kiasan, atau ambigu dan mistikal disisi lain,
gagal mengerti sifat dari bahasa puisi. Dua syarat kami memberi
suatu dasar untuk menafsirkan dan mengevaluasi bahasa kiasan (Saya
bilang evaluasi karena satu bagian penting dari penyelidikan ini
adalah menentukan efektifitas dari kiasan dalam maksud penulis):
1. harus ada beberapa titik yang bisa
dipastikan dalam deviasinya dari penggunaan asli (pelanggaran dalam
penggunaan harus disengaja), dan
2. harus tersedia arti literal dari ekspresi
yang dipertanyakan.
Prosedur kita akan mengidentifikasi kiasan yang
digunakan dan mengartikulasi arti literalnya serta perasaan(suasana)
yang dibawanya. (Walaupun beberapa ekspresi kiasan bisa saja
merupakan deviasi yang disengaja dalam penggunaannya dan memiliki
arti literal, mereka tetap masih tidak memenuhi standar tinggi dari
bahasa puisi yang baik. Kita mendengar ekspresi itu terlalu sering
dalam musik popular atau country, pada banyak musik Kristen modern,
iklan, atau jurnalisme ? terutama olahraga ? sehingga kita dengan
mudah kehilangan sentuhan bagi bahasa puisi yang efektif. Bisa
dikatakan jika bahasa kiasan dibuat-buat dan biasa maka itu bukan
poetic discourse yang baik).
Kita harus mengetahui bagaimana penyair
menggunakan kata-kata. Mereka memiliki dua sisi kata-kata yang
mereka pilih: langsung, arti eksplisit dari kata itu (denotasinya);
dan diberi, arti yang diusulkan (konotasi). Setiap kata, atau
kelompok kata, menjadi alat yang secara hati-hati dipilih penyair
untuk menghasilkan pengaruh ganda dari suatu pernyataan atau
komentar mengenai sesuatu dan menyatakan perasaan atau ide diluar
maksud literalnya.
Konteks dimana kata itu muncul, seringkali
menolong untuk menentukan perasaan kita terhadap kata itu.
Pertimbangkan kedua pernyataan ini:
1. His father stood over him while he did
three problems in subtraction.
2. The little cousin is dead by foul
subtraction.
Arti denotasi dari pembagian diterapkan dalam
kedua kalimat; tapi konotasi dari kata dalam kalimat kedua, terutama
?salah? dan juga ide tentang kematian, menciptakan potensi emosi
bagi kata itu. Disini, dalam konteks ini, istilah matematis memiliki
nada tragis. Jadi kita bisa melihat bahwa konteks bisa memulai satu
kata umum dinyatakan dalam cara yang tidak biasa.
Konotasi emosional, konotasi intelektual,
allusion effects dan efek suara semuanya meningkatkan jangkauan arti
dalam suatu kata. Perhatikan baris dari ?Fern Hill? (Dylan Thomas)
? it was all
Shining, it was Adam and maiden
Kata ?maiden? memiliki beberapa implikasi: 1)
emosional, karena kata itu menunjukan kesegaran, keindahan dan
sukacita; 2) intelektual, karena kata itu menunjukan keluguan,
kurang pengalaman; 3) allusion, karena nama Adam merupakan bagian
dari konteks dan petunjuk kepada Hawa, wanita pertama, mendukung
konotasi diatas tapi menambahkan potensi emosi penderitaan; 4)
bunyi, karena kata itu lembut dan anggun saat digunakan dalam frase
A-dam and Maiden, karena itu menghasilkan musik, meningkatkan
kualitas.
Kita bisa melihat elemen yang sama itu dalam
perkataan nabi Yesaya (1: 18):
?though your sins be as scarlet
they shall be white as snow;
though they be red like crimson
they shall be as wool.?
Disini kita memiliki repetisi dari dua simile
untuk menekankan maksud yang dingin dibuat. Selain itu, urutan kata
membuat kontras didalam baris ini lebih jelas: dua kata benda yang
membentuk kontras bertemu ditengah, dan cola pertama dan terakhir
menggunakan yihyu sedangkan yang kedua dan ketiga Hiphil dari
kata kerja menunjukan warna.
Konotasi emosional dan intelektual dari
kata-kata yang digunakan disini sangat mengejutkan. The ?scarlet? (sani)
merujuk pada warna merah yang dihargai tinggi dihasilkan dari
Kermococcus vermillio Planch biasa digunakan untuk menghasilkan
cat terkenal (Sanskrit krmi; Persian Kerema, kirm;
Pahlevi kalmir; Hebrew karmil; and our carmine and
crimson. Lihat juga Persian sakirlat and Latin scarlatum).
Inilah simbolisme luar biasa dalam Alkitab bagi warna. Didalam
Wahyu, sebagai contoh, Pelacur besar dalam warna ungu dan merah
sedangkan Orang Kudus dalam jubah putih. Mengapa Yesaya menggunakan
warna merah untuk dosa? Dreschler mengatakan itu berarti pertumpahan
darah ?suatu jubah yang ternoda darah menutupi pendosa. Delitzsch
menafsirkannya sebagai hidup membara yang egois dan penuh nafsu,
suatu hidup yang ditandai oleh kekerasan liar. Pemikiran ini bisa
jadi memang ada dalam pemikiran Yesaya. Setidaknya kita bisa berkata
kalau merah menunjukan hal membara --conspicuous and glaring.
Berlawanan dengan kirmizi dan kesumba adalah
putihnya salju dan bulu domba. Istilah ini tidak hanya mewakili
kemurnian, dibersihkan dari dosa, tapi membawa rasa lembut dan
segar. Emosi nada dari damai dan ketenangan berlawanan dengan
kekerasan dan nafsu.
Konotasi
1. Konotasi Emosional. Konotasi emosional
berkaitan dengan emosi kita terhadap suatu kata, bagaimana kata itu
terkait dengan emosi takut, senang atau jijik kita. Satu contoh yang
menunjukan rasa senang, gembira terlihat dalam puisi E. E. Cummings:
anyone lived in a pretty how town
with up so floating many bells down
Kata ?up? dan ?floating? dan ?bells? yang
digunakan dalam konteks semua memiliki potensi emosi senang.
Sebaliknya, puisi Richard Eberhart ?For a Lamb?
mengejutkan kita melalui penggunaan dua kata yang tidak terduga:
I saw on the slant hill a putrid lamb,
Propped with daisies ?
Kita mengharapkan domba (lamb), seekor mahluk
yang lugu, bermain dipadang rumput bukannya propped and putrid.
Kedua kata ini menodai puisi dengan emosi jijik dan pukulan.
Terakhir, sebuah contoh mengenai konotasi emosi
datang dari David Ferry?s ?Adam?s Dream?:
He was the lord of all the park,
And he was lonely in the dark,
Till Eve came smiling out of his side
To be his bride.
?Sweet Rib,? he said, astonished at her,
?This is my green environ!?
Eve answered no word, but for reply
The wilderness was in her eye.
Seperti digunakan dalam konteks, kata
?wilderness? menunjukan takut (fear) atau bingung(dismay). Kata itu
tidak berarti ?fear? atau ?dismay,? tapi menunjukan alam sekitar,
adegan yang belum tergarap. Tapi kata itu memiliki nada emosional
mengenai ancaman Kejatuhan.
Zakaria menekankan rasa ngeri terhadap dosa
melalui pemilihan katanya:
?Now Joshua was clothed with excrement-bespattered
garments,
and was standing before the Angel? (3:3)
Yesaya juga membawa kesia-siaan perbuatan baik
manusia melalui penggunaan kata yang bermuatan emosional:
?All our righteousnesses are like filthy rags?
(64:5)
Kata ?idda merujuk pada noda menstruasi.
2. Konotasi Intelektual. Konotasi
intelektual berkaitan dengan arti intelektual dari sebuah kata
harusnya melebihi pengertian denotasinya. Kata, seperti kita tahu,
seringkali memiliki beberapa pengertian denotasi pada saat yang
sama. Konotasi emosional terdapat dalam perasaan atau emosi kita,
tapi konotasi intelektual berkaitan dengan pikiran dan seringkali
melibatkan permainan kata yang cerdas.
Sebagai contoh, W. H. Auden menulis tentang
seorang prajurit Cina yang terbunuh dalam perang dengan Jepang: ?Far
from the heart of culture he was used.? Kata ?heart? memiliki arti
ganda merujuk pada pusat budaya dan juga perhatian emosi; dia mati
dalam sebuah dunia yang tidak peduli dan dingin.
Melalui penggunaan kombinasi ambiguitas semantic
dan sintaktikal, penyair mendapatkan kedalaman atau kekayaan arti
yang jarang dimiliki penulisan prosa yang langsung. Tantangan kita
dalam membaca puisi adalah sensitive terhadap suasana dari arti yang
dimungkinkan dalam kombinasi artistic kata-kata dari puisi.
Satu kasus khusus mengenai konotasi intelektual
adalah ironi yang berkaitan dengan visi ganda suatu pengalaman
dimana kata-kata tidak bisa sepenuhnya diandalkan untuk menyatakan
realitas dari situasi itu. Lihat sebuah puisi oleh Wilfred Owen,
penyair Inggris yang terbunuh dalam Perang Dunia I:
So Abram rose, and clave the wood, and went,
And took the fire with him, and a knife.
And as they sojourned both of them together,
Isaac the firstborn spake and said, My Father,
Behold the preparations, fire and iron,
But where the lamb for this burnt-offering?
Then Abram bound the youth with belts and straps,
And builded parapets and trenches there,
And stretched forth the knife to slay his son.
When lo! An angel called out of heav?n.
Saying, Lay not thy hand upon the lad,
Neither do anything to him. Behold.
Abram, caught in a thicket by its horns;
Offer the Ram of Pride instead of him.
But the old man would not so, but slew his son,
And half the seed of Europe, one by one.
Ini sangat ironis saat dibandingkan dengan
cerita sebenarnya; Owen ingin mendramatisir kalau manusia
mengijinkan perang untuk membunuh anak-anak mereka dari generasi ke
generasi. Manusia menetapkan presedennya sendiri bagi kekerasan yang
secara ironis membunuh anaknya sendiri.
Didalamnya kita memiliki pandangan ganda dalam
membaca kata-kata dan pengetahuan akan situasinya.
Lagu ratapan Yehezkiel terhadap raja Tirus bisa
menggambarkan hal ini dari Alkitab (Ezek. 28:11-19).
11 The word of Yahweh came unto me, saying,
12 ?Son of man, take up a lament concerning the king
of Tyre
and say to him: ?This is what the Lord Yahweh says:
You were the model of perfection,
full of wisdom and perfect in beauty.
13 You were in Eden, the garden of God;
every precious stone adorned you:
ruby, topaz and emerald,
chrysolite, onyx and jasper,
sapphire, turquoise and beryl.
Your settings and mountings were made of gold;
on the day you were created they were prepared.
14 You were anointed as a guardian cherub,
for so I ordained you.
You were on the holy mount of God;
you walked among the fiery stones ?
17 Your heart became proud
on account of your beauty,
and you corrupted your wisdom
because of your splendor.
So I threw you to the earth;
I made a spectacle of you before kings ??.?
Pernyataan nubuat mengenai raja Tirus ini
kelihatannya mengandung petunjuk mengenai asal mula setan dan
kejatuhannya. Kelihatannya semua itu ada bersamaan dalam pikiran
Yehezkiel.
3. Efek Allusion. Saat satu kata dalam
sebuah puisi memiliki satu referensi tertentu mengenai satu tempat
dalam geografi, peristiwa sejarah atau tulisan, atau seseorang,
nyata atau hanya dalam tulisan, kata ini disebut sebuah allusion.
Allusion dalam puisi merupakan alat yang berpotensi menciptakan arti
emosional dan intelektual.
Perhatikan allusion-allusion dalam karya T. S.
Eliot ?Journey of the Magi?:
Then at dawn we came down to a temperate valley,
Wet, below the snow line, smelling of vegetation;
With a running stream and a water-mill beating the darkness,
And three trees on the low sky,
And an old white horse galloped away in the meadow.
Then we came to a tavern with vine-leaves over the lintel,
Six hands at an open door dicing for pieces of silver,
And feet kicking the empty wine-skins.
But there was no information and so we continued
And arrived at evening, not a moment too soon
Finding the place; it was (you may say) satisfactory.
All this was a long time ago, I remember,
And I would do it again, but set down
This set down
This: were we led all that way for
Birth or Death: There was a Birth, certainly
We had evidence and no doubt. I had seen birth and death,
But had thought they were different; this Birth was
hard and bitter agony for us, like Death, our death.
We returned to our places, these Kingdoms,
But no longer at ease here, in the old dispensation,
With an alien people clutching their gods.
I should be glad of another death.
Sekarang kita melihat allusion-allusion dalam
bagian-bagian Perjanjian Lama:
23. ?I beheld the earth, and lo, it was waste and
void;
and the heavens, and they had no light.
24. I beheld the mountains, and lo, they trembled,
and all the hills moved to and fro.
25. I beheld, and lo, there was no man,
and all the birds of the heavens were fled.
26. I beheld, and lo, the fruitful field was a
wilderness,
and all the cities thereof were broken down
at the presence of Yahweh
at the presence of His fierce anger? (Jer. 4:23-26).
Disini nabi jelas sekali merujuk pada cerita
penciptaan dari Kitab Kejadian dalam ucapannya mengenai penghakiman,
tapi penggunaan istilah dan frasanya membalikan urutannya, seperti
mengatakan kalau penghakiman akan mengembalikan ciptaan.
Dalam cara yang mirip Zefania merujuk pada
kebingungan bahasa di Babel dalam pesannya, menggunakan
istilah-istilah seperti ?pure language,? ?Kush,? ?dispersed,?
?proudly exulting? and ?mountain?:
9. ?For then I will turn to the peoples a pure
language that they may call upon the name of Yahweh
to serve Him with one consent.
10. From beyond the rivers of Kush, my suppliants,
even the daughter of my dispersed shall bring my
offering.
11. In that day shall you not be put to shame
for all your deeds wherein you transgressed against
me
For then I will take your proudly exulting ones
and you shall no more be haughty in my holy
mountain? (Zeph. 3:9-11).
Pemazmur juga banyak mengambil gambar dan motif
awal. Pada Mazmur 36 kita melihat Daud merujuk pada Eden
(?pleasure?) dengan mata air kehidupan (dalam kata-kata yang
ditemukan juga dalam Perjanjian Baru). Tapi sebagian dari para imam
dalam ruang kudus juga memberi dia gambaran berkat ilahi.
8[7] ?How precious is Your loyal love, O God,
that humans may take refuge under the shadow of Your
wings!
9[8] They shall be abundantly satisfied with the
fatness of Your house;
and You will make them drink of the river of Your
pleasures.
10[9] For with You is the fountain of life;
in Your light we see light? (Ps. 36:7-9).
4. Efek Bunyi. Sekarang kita bisa
menambahkan fakta bahwa satu kata tertulis mewakili suatu
bunyi?tidak menyenangkan, menyenangkan, lucu, aneh, atau netral
?tapi satu bunyi. Penyair mempergunakan bunyi dalam baris puisinya
saat dia bisa, sebagai cara menekankan arti, atau cara menyatukan
baris puisinya kedalam bentuk yang secara artistic lebih kompak.
Kita melihat bunyi sebagai cara memperkuat arti, atau mengerti
denotasi dan konotasi dari kata.
Repetisi bunyi kita sebut alliteration (initial
syllable), consonance (consonants), assonance (vowels), dan rhyme
(syllable sounds). Perhatikan efek bunyi dalam T. S. Eliot?s ?East
Coker?:
The wounded surgeon plies the steel
That questions the distempered part;
Beneath the bleeding hands we feel
The sharp compassion of the healer?s art
Resolving the enigma of the fever chart.
Our only health is the disease
If we obey the dying nurse
Whose constant care is not to please
But to remind of our, and Adam?s curse,
And that, to be restored, our sickness must grow worse.
The whole earth is our hospital
Endowed by the ruined millionaire,
Wherein, if we do well, we shall
Die of the absolute paternal care
That will not leave us, but prevents us everywhere.
The chill ascends from feet to knees,
The fever sings in mental wires.
If to be warmed, then I must freeze
And quake in frigid purgatorial fires
Of which the flame is roses and the smoke is briars.
The dripping blood our only drink,
The bloody flesh our only food:
In spite of which we like to think
That we are sound, substantial flesh and blood--
Again, in spite of that, we call this Friday good.
Salah satu contoh yang baik cara Ibrani
menggunakan bunyi untuk memperkuat arti bisa terlihat dalam cerita
perpecahan di Babel (Gen. 11:1-9). Narasinya diatur untuk
mencerminkan ironi peristiwa setelah Yahwe berkunjung: ?saat itu
bumi memiliki satu bahasa, sekarang dikacaukan; disaat mereka bisa
berbicara satu sama lain, sekarang tidak bisa lagi; saat mereka
ingin mendapat nama bagi diri mereka sendiri, mereka diberi nama
yang kacau; saat mereka ingin bersama, mereka disebarkan; dan saat
mereka ingin membuat menara kelangit, Yahweh turun melihatnya dan
mereka meninggalkan bangunan itu?.
A all the earth had one language
B there
C one another
D come let us make bricks
E let us build for ourselves
F a city and a tower
F? the city and the tower
E? which the sons of man began to build
D? come ? let us confuse
C? everyone?s language
B? from there
A? the language of all the earth (confused)
Struktur antitetikal ini menunjukan pembalikan
yang dilakukan ilahi terhadap peraturan manusia. Faktanya, kata-kata
kunci disetiap bagian adalah kebalikan:
?make bricks?
?confound?
Lebih lagi, bunyi-bunyi ini membawa kepada
permainan kata terhadap nama ?Babel? dalam ayat 9, menurut struktur
dan disain bagian itu adalah klimaks pesan. Nama bab-ili (?gate of
god / gerbang tuhan? dalam bahasa Babylonian) dijelaskan oleh
narrator dengan balal ( dalam suatu permainan phonetik kata
yang cerdas --?to confuse / membingungkan?). Sehingga kekuatan
kerajaan dan kesombongannya menjadi contoh kepada orang Israel akan
penghukuman karena ketidaktaatannya.