Pelajaran Teologi Alkitab
By:
Allen Ross , Th.D., Ph.D.
Tugas Teolog Alkitab
Tugas dari teolog Alkitab adalah mendapat dan
membangun suatu gambaran lengkap mengenai wahyu Yahwe. Menulis
teologi yang memuaskan menuntut pengelompokan ide teologis tertentu
yang didapat melalui eksegesis kedalam kategori universal. Prosesnya
melibatkan penemuan tema pemersatu diseluruh Perjanjian Lama dan
meletakan dasar bagi Perjanjian Baru. Itu merupakan proses yang
dimulai dengan eksegesis bagian tertentu dalam mencari kategori
teologis dari penulis itu sendiri dan berlanjut dengan menghubungkan
seluruh penemuan eksegesis diseluruh Alkitab. Maka dari itu, apa
yang dilakukan dalam sebuah bagian atau satu kitab hanyalah sebuah
permulaan.
Saat bagian-bagian PL tertentu seluruhnya telah
dianalisa teologi Alkitabnya, tugas berikut adalah menulis suatu
teologi Perjanjian Lama. Hal ini jelas merupakan proyek seumur hidup.
Tapi dalam mengerjakannya kita harus ingat:
1. Hal ini meliputi seluruh Perjanjian Lama (maka
dari itu, teolog harus menghindari pemilihan seenaknya atau
pengujian teks yang tidak bisa dipertanggung jawabkan);
2. Kategori, tema, dan pikiran penyatu haruslah
sekonsisten mungkin dengan kategori yang ada dalam pikiran para
penulis Perjanjian Lama; dan
3. Karena wahyu terbungkus dalam proses historis ?suatu
wahyu progresif, berkembang-tema-temanya harus dikembangkan secara
progresif (substansi dari teologi adalah perkembangan histories dari
Yahwism).
Setelah teologi Perjanjian Lama telah
diartikulasi dengan seksama, berikutnya harus dikorelasikan dengan
Perjanjian Baru. Untuk membuat korelasi ini, berkaitan dengan
eksegesis teks Perjanjian Lama yang sulit sekali, eisegesis dan
pengujian teks yang na裂kelihatannya lebih menggiurkan. Untuk
mewaspadai hal itu, atau menafsirkan sebuah bagian secara tidak
seharusnya, pada awalnya harus menentukan teologi Alkitab dari
bagian itu didalam teologi Perjanjian Lama.
Saat anda mulai mengeksegesis dan menguraikan
Perjanjian Lama, anda mulai mengembangkan ide teologis. Seminari
memberikan anda kerangka teologis dan biblical sehingga anda bisa
bekerja secara baik sejak awal, walaupun anda tidak bisa
mengeksegesis Perjanjian Lama dan mengakhiri teologi anda sebelum
mulai melayani. Tapi saat anda belajar dan mengajar, anda harus
menjaga batasan teologi Alkitab ini sebelumnya agar anda menyadari
kategori teologis yang lebih luas dan mampu menghindari eisegesis.
Maka, selama pelayanan anda bisa memperbaharui dan menyesuaikan
kategori teologi umum anda.
Dasar Preposisional
Pendahuluan
Mengenai peran dari presuposisi, R. A. F.
MacKenzie menulis:
Sangat ilmiah?dalam pengertian
rasionalsitik?objektifitas tidak terlalu mampu menangkap, apalagi
mengeksploitasi, nilai religius dari Alkitab. Maka awalnya harus ada
komitmen, pengakuan iman akan asal mula ilahi dan otoritas dari buku
ini, barulah orang percaya bisa dengan benar dan mendapat keuntungan
menerapkan seluruh teknik ilmiah, tanpa melanggar autonomi atau
mengkhianati ideal ilmiahnya (?The Concept of Biblical Theology,?
TT 4 [1956]:134).
Pernyataan seperti itu memiliki dasar dalam
pengajaran Alkitab sendiri; lihat I Korintus 2:10-16; 1
Thessalonians 1:5; dan terutama I Thessalonians 2:13: ??sebab kamu
telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai
perkataan manusia, tetapi -- dan memang sungguh-sungguh demikian --
sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.?
Cornelius Van Til juga menegaskan bahwa ?seorang
apologet sejati awalnya harus bermula dari presuposisi Allah
tritunggal, Bapa, Anak, dan Roh Kudus berbicara kepadanya dengan
otoritas absolut dalam Alkitab? (The Defense of the Faith, p.
179).
Presuposisi
Tuhan Ada. Presuposisi Tuhan ada
merupakan fondasi seluruh teologi.. A. B. Davidson menulis,
Posisinya berada jauh didepan. Bagaimana manusia
bisa menentang kalau Tuhan itu bisa dikenal, saat mereka terbujuk
mengenal Dia, saat mereka bersekutu denganNya, saat kesadaran dan
seluruh pikiran mereka dipenuhi dengan pikiran mengenai Dia, dan
saat melalui RohNya Dia menggerakan mereka, dan mengarahkan
keseluruhan sejarah mereka? (The Theology of the Old Testament,
p. 13).
Christopher R. North menjelaskan,
Hal ini jelas bukan abstrak pada awal mulanya,
suatu produk dari intelek abstrak. Ajaran Perjanjian Lama mengenai
Tuhan adalah respon orang Ibrani terhadap Tuhan yang hadir dalam
krisis, menyelamatkan, dan dalam bencana bangsa selama ratusan tahun
sejarah mereka (The Thought of the Old Testament: Three Lectures,
p. 24).
Jadi para penulis Perjanjian Lama tidak pernah
merasa terdorong untuk membuktikan keberadaan Tuhan. KeberadaanNya
tidak pernah mereka pertanyakan; hanya orang bodoh yang bisa
berkata, ?Tidak ada Tuhan? (Ps. 14:1; 53:2; Job 2:10). Keberadaan
Tuhan merupakan satu-satunya hal yang memberikan stabilitas bagi
segala hal lainnya.
Tuhan Menyatakan Dirinya.
Presuposisi kedua adalah Tuhan telah berbicara, bahwa dia membuat
kehendaknya diketahui. Maka dari itu, tulisan Alkitab adalah unik.
Itu bukan sekedar kumpulan teks religius dari Timur Dekat kuno. Itu
bukan pinjaman terseleksi dari pendahulu dalam perkembangan ide
religius. Gleason Archer berkata benar, ?Alkitab menuliskan
kesaksian mengenai kejeniusan Ibrani dalam kemurtadan? (A Survey
of Old Testament Introduction, p. 135). Alkitab menulis
pernyataan unik dari Tuhan yang hidup.
Walther Eichrodt menyatakannya seperti ini:
Pertama haruslah diperhatikan kalau penegakan
sebuah perjanjian melalui Musa terutama sekali menekankan satu
elemen dasar dari keseluruhan pengalaman Israel mengenai Allah,
yaitu nature asli dari wahyu ilahi. Pernyataan Tuhan tidak
dimengerti secara spekulatif, tidak dijabarkan dalam bentuk
pelajaran; tapi saat dia berjumpa dalam hidup umatNya dan memberikan
mereka pengetahuan akan diriNya (Old Testament Theology, I:
37).
Selain itu bisa ditambahkan perkataan dari
James 1. Packer:
Natur dari pewahyuan sebagai tindakan Allah
sekarang menjadi jelas. Wahyu adalah Pencipta kita dan Penopang
menasihati kita untuk bisa berteman dengan kita. Kita tidak
menemukan Dia; tapi, Dia menemukan kita. Dia melihat kita sebagai
pemberontak melawan Dia, dengan pikiran kita dibutakan dan karakter
kita dibengkokan oleh dosa, secara aktif tidak menghormati Dia
dengan mengabaikan kebenaranNya dan melayani allah palsu (God
Speaks to Man: Revelation and the Bible, p. 41).
Dalam mengklarifikasi presuposisi kedua harus
dikatakan bahwa Tuhan menyatakan dirinya baik dalam tindakan
histories dan pernyataan proposisional objektif yang bisa dianalisa
secara kognitif. Kedua aspek ini menunjukan kalau pewahyuan Tuhan
berlawanan dengan teologi dari Gerhard von Rad dan alirannya yang
melihat sejarah sebagai titik awal iman (lihat perdebatan Vriezen
terhadap von Rad dalam teologinya, pp. 188ff.). Ini juga berlawanan
dengan Neo-orthodoxy yang melihat pewahyuan semata subjektif,
menolak Tuhan bisa dipelajari secara objektif (lihat perdebatan
Gordon Clark mengenai hal ini dalam Revelation and the Bible,
edited by C. F. H. Henry, pp. 29ff.). Seluruh teologi, dan juga
seluruh eksposisi, bergantung pada presuposisi bahwa Alkitab adalah
wahyu Tuhan, dan peristiwa dan kata-kata yang ditulis memiliki
kepentingan rohani bagi umat Allah disegala zaman.
Kita juga mengakui bahwa wahyu efektif terbatas
pada tidak bisa salahnya Alkitab. Kemampuan kognitif manusia untuk
mengerti wahyu ini tergantung pada kondisi rohaninya dan juga
ketekunan dalam meneliti. Dia harus menggunakan metode penafsiran
melalui tata bahasa, kontekstual, dan histories. Penekanan kedua
Perjanjian dalam Alkitab ada pada ketekunan mempelajari Firman
Tuhan, bukan berarti seseorang yang secara rohani berhubungan dengan
Tuhan bisa secara alami mengerti seluruh pewahyuan.
Metode Teologi Alkitab
Pelajaran Inductive
Pelajaran teologi Alkitab haruslah induktif
(walaupun induksi yang tidak lengkap). Penekanan pada pelajaran
induktif artinya kategori, tema, motif, dan kesombongan harus secara
eksegetis berasal dari teks Alkitab. Eksegetor harus masuk kedalam
teks sebaik mungkin tanpa awalan logika, mental atau skema filosofis
dan kemudian dicampur kedalamnya sehingga pengetahuan Alkitab yang
dikemukakan memiliki campuran itu. Ini berlawanan dengan teologi
dogmatis.
Untuk menghindari kesewenangan, pengujian teks,
dan pemilihan, pandangan dasar setiap penulis kitab harus
dipastikan. Dari investigasi kitab terpisah ini, tema berlanjut yang
menyatukan Perjanjian Lama bisa ditemukan.
Presentasi Deduktif
Presentasi teologi Alkitab haruslah deduktif.
Itu tidak hanya menceritakan kembagi bagian-bagian (seperti yang
dilakukan von Rad), tapi teologi Perjanjian Lama yang teratur.
Presentasi harus mengemukakan perkembangan
histories dari setiap kategori. Pertimbangan seksama harus diberikan
pada saat tertentu dari wahyu ilahi?berkaitan dengan pembentukan
bangsa, pembentukan bangsa dibawa Musa, dan dimasa hakim-hakim,
monarki, penawanan dan saat kembali. Langkah berikut dalam
perkembangannya adalah hubungannya dengan Perjanjian Baru.
Pusat Teologi
Perdebatan
Ada suatu perdebatan yang terus berlanjut
mengenai teologi Perjanjian Lama, terutama mengenai pusatnya. Ada
orang yang menemukan kesatuan atau ide sentral teologi Perjanjian
Lama, dan ada yang hanya melihat pluralitas ide.
Menyederhanakan masalah ini, kita bisa
membedakan antara pandangan Eichrodt dan von Rad. Eichrodt melihat
teologi dipersatukan dalam konsep ?perjanjian? (tapi tidak
mencampurnya dengan covenant theology). Dia melihat perjanjian itu
sebagai hubungan Allah dengan umat manusia, masuknya kerajaan Allah
dibumi (lihat pembahasan dibawah ini dalam Penggunaan Mazmur). Von
Rad, sebaliknya, melihat Perjanjian Lama sebagai sekumpulan
kesaksian, atau pengakuan, oleh Israel mengenai iman mereka. Maka
dari itu, bagi dia pusat teologi adalah keseluruhan kumpulan
kesaksian itu.
Pendekatan Eichrodt lebih memuaskan karena
menyatukan ide teologis diseluruh Perjanjian Lama. Tapi kesulitan
dasar yang harus dihadapi setiap orang adalah keragaman dalam
Alkitab, yaitu, hubungan antar bagian terhadap keseluruhannya.
Banyaknya ide dalam Alkitab menunjukan sulitnya mengusahakan satu
ide sentral.
Materi Teologi
Seluruh Perjanjian Lama adalah keseluruhan
materi yang harus digunakan. Begitu banyak sehingga tidak semua bisa
diwakili dalam sebuah teologi. Tapi apa yang harus dipilih?
Jelas sekali, beberapa kriteria diperlukan, dan
didalamnya ada subjektifitas. Materi Alkitab adalah subjek yang
harus dipelajari; jika tidak ada kesatuan, kita tidak bisa
menciptakannya, jika memang ada kesatuan, kita harus menemukannya.
Syarat minimun bagi teologi untuk menjadi sebuah
teologi adalah masalah mengenai Tuhan. Baik kesatuan wahyu Diri
Tuhan dan keragaman sejarah pengertian manusia mengenai Tuhan dan
responnya terhadap Tuhan teradapat dalam karya ini. Dengan kata
lain, dalam Alkitab ada ketegangan antara agama popular dan agama
nubuat dan ini harus dipisahkan dalam pengertiannya. Jadi teolog
harus menelusuri Alkitab untuk melihat apa yang dikatakan setiap
penulis mengenai Tuhan, manusia, dan hubungan antara Allah dan umat
manusia.
Kesatuan Teologi Alkitab
Elemen penyatu utama dari teologi Alkitab adalah
pernyataan diri Yahwe, didukung oleh pengidentifikasian Yahwe oleh
umat manusia. Keluaran 6:2,3 memberi polanya; memberikan pernyataan
diri Allah bersama dengan catatan mengenai mengertinya manusia akan
wahyu itu.
?Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak
dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN
Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan
perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah
Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing.?
Maka dari itu, sebuah kesatuan nyata dalam
pewahyuan, tapi ada keragaman dalam cara wahyu itu diterima. Para
leluhur mengenal nama itu selama Kejadian 4:26, tapi mereka tidak
mengetahuinya dalam arti yang diterima generesi Musa, yaitu melalui
pengalaman pemenuhan janji-janji yang dibuat kepada para leluhur.
Keluaran 6:7 menegaskan arti ini dari kata kerja ?know,? atas
perkataan pada Israel ?yang barus menerima wahyu mengenai nama: ?and
you shall know that I am Yahweh your God.?
Keluaran 3:14-15 memiliki pengaruh yang sama:
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi
firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH
AKU telah mengutus aku kepadamu." Selanjutnya berfirmanlah Allah
kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah
nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah
mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan
itulah sebutan-Ku turun-temurun.?
Fenomena indentifikasi mengenai Tuhan?wahyu dan
pengertian?mengikuti Israel diseluruh sejarah.
Hal kedua yang memberi kesatuan bagi agama
Israel adalah keunikan Yahwe bahwa Dia Kudus. Kekudusannya
dinyatakan melalui kuasanya dan kebenarannya; dan Dia melindunginya
dengan sangat. Perintah untuk tidak memiliki allah lain (Exod. 20:3)
tidak memiliki analogi lain didunia kuno. Jadi perintah kedua, tidak
membuat berhala (Exod. 20:4). Ditengah politeism, Israel
diperintahkan untuk beribadah pada satu Tuhan yang nyata, secara
eksklusif. Ini mendatangkan pergumulan hidup mati melawan
sinkritisme dengan agama lain. Ide baru, epithets, dan appraisals
ikut bersama, tapi satu identifikasi konstan mengenai Allah sejati
tetap ada. Tulisan hukum menuntut ketaatan pada satu Tuhan, para
nabi menyatakan itulah iman sejati, dan tulisan hymne menjadi
saksinya. Dan sisa yang setia menaatinya.
Pergumulan dengan sinkritisme juga menjadi tetap
dalam agama Israel. Pembelaan iman, proklamasi tentang kedaulatan
Allah, menjadi elemen penyatu dasar dalam teologi. Prilaku tidak
toleran dari orang Ibrani berasal dari klaim mereka bahwa hanya
Yahwe saja adalah Tuhan. Iman hanya bertahan melalui penolakan
terhadap apa yang asing bagi Yahwism. Itu merupakan proses
penghancuran dan pemusnahan, perintah penghakiman dan polemik.
Perjanjian Lama menjadi kuburan bagi mitos yang mati dan allah-allah
yang diam. Yahwism yang menang dijelaskan melalui pergumulan, karena
polemik hanya menunjukan kalau kepercayaan kafir itu tidak bernilai,
tapi pertahankanlah iman sejati.
Keragaman dalam Teologi Alkitab
Ditengah kesatuan teologi dalam Perjanjian Lama
terdapat element berbeda. Terdapat bentuk teologis berbeda yang
melihat tindakan Allah secara berbeda, terutama karena ada
pergumulan dengan ?automaticity.?
Bentuk teologi pertama adalah salvation
theology. Banyak bagian Alkitab yang menggambarkan Yahwe
sebagai Allah penyelamat, gembala, pemimpin, atau penguasa,
membentuk materi ini. Bentuk dari teologi ini ditemukan dalam
tulisan-tulisan hymne, nubuat, dan histories. Penekanan bentuk
teologi ini adlaah iman pada Tuahn yang menyelamatkan dan didirikan
atas pengetahuan mengenai tindakan penyelamatanNya dimasa lalu. Tapi
Dia menyatakan kekuatan menyelamatkannya dalam cara dan waktu yang
berbeda.
Ketidakpercayaan pada Allah yang menyelamatkan,
terbukti pada ketidaktaatan akan perintahNya, mendatangkan kotbah
penghakiman dari para nabi. Pesan kehancuran dimaksudkan untuk
menimbulkan iman sebelum terlambat. Jadi reputasi Tuhan sebagai
Tuhan yang menyelamatkan terus dibawa kedalam krisis. Reputasi Tuhan
sebagai Tuhan yang menyelamatkan bisa berakhir jika bukan karena
nubuat leluhur memperbaharui janji lama. Mereka menyatakan bahwa
selain penghukuman atas bangsa Israel, suatu haris penyelamatan
?spiritual dan fisik ?akan datang. Terkadang, krisisnya disebabkan
oleh mekanisasi. Israel mulai bergantung pada Allah tanpa iman
(lihat pertempuran Aphek dalam 1 Samuel 4?meletakan Tuhan ?dalam
kotak? dalam pertempuran ?tapi itu ajaib ?sehingga mereka kehilangan
kotak dan perang). Penghukuman harus terjadi untuk membuat orang
sadar bahwa Tuhan memang adalah Tuhan yang menyelamatkan, tapi hanya
jika orang percaya. Maka dari itu, salah satu bentuk dari teologi
adalah yang menyatakan Allah sebagai penyelamat yang kuat bagi
mereka yang percaya.
Bentuk teologi kedua adalah cultic
theology, sebagian dari wahyu yang berurusan dengan ibadah
korban dan semua yang berkaitan dengan hal itu. Siklus yang sama
berkembang disini. Teologi kultik asli menyatakan Tuhan sebagai Yang
Kudus, yang berdiam di Tempat Kudus, dan yang hanya bisa dijangkau
oleh penebusan melalui ritual yang sudah ditentukan. Tapi
?automaticity? dari yang tidak percaya masuk kedalam. Ibadah kosong
mengambil alih iman. Jadi reaksi yang besar datang. Para nabi tidak
melawan upacara korban itu sendiri, seperti yang dikatakan teolog
yang tidak melihat kesatuan. Tapi, mereka menentang ibadah tanpa
iman; mereka ingin memperbaharui maksud dan roh dari cultic
theology, bukan korban itu sendiri. Ketaatan lebih baik daripada
korban; hati yang hancur merupakan korban sejati. Akan datang suatu
waktu, saat bait akan dihancurkan dan orang dicerai-beraikan, karena
tidak percaya. Kekudusan Tuhan sangat utama dalam teologi ini, dan
tanpa iman orang tidak bisa mendekat pada Allah seperti itu.
Bentuk ketiga dari teologi Perjanjian Lama
adalah order theology. Disini teks-teks yang
menggambarkan Tuhan sebagai pencipta dan penopang langit dan bumi,
penjamin hidup, keteraturan, masyarakat, keadilan dan alam. Ini
tidak terlalu banyak hadir dalam tulisan mengenai tindakan
penyelamatan, atau dalam hukum Imamat, seperti dalam tulisan hikmat.
Tapi itu juga berurusan dengan krisis ketidakpercayaan, suatu
ketidakpercayaan yang membuat teologi menjadi otomatis, bisa
diprediksi. Sistematik dogmatic dari hikmat lama tidak membiarkan
Tuhan secara bebas mengatur alam semesta melalui kehendak
berdaulatNya. Aturan menetapkan suatu pola sehingga legalism
menjadikan hidup bisa diprediksi (Tuhan memberkati orang benar, jadi
ketidakhadiran berkat merupakan tanda dosa). Kitab-kitab seperti
Ayub dan Pengkhotbah menunjukan kalau Tuhan tidak bisa diikat oleh
aturan seperti itu. Iman dalam kedaulatan Allah menjadi tuntutan
konstan dari tulisan-tulisan semacam itu.
Ini gambaran singkat dari tiga tema utama
tulisan-tulisan dalam Alkitab dari Perjanjian Lama, bagaimana
pesan-pesan mereka ditantang oleh agama popular dari kekafiran dan
ketidakpercayaan, dan bagaimana teolog mereka menumbuhkan kembali
roh iman melalui setiap krisis.
Esensi-esensi Teologi
Ide Eichrodt mengenai pusat Teologi sebagai
?Tuhan memerintah atas seluruh ciptaan? mendatangkan cukup luas
untuk dikerjakan disetiap bentuk teologi yang diambil tulisan. Itu
memberikan eksegetor teologis muda satu titik awal dalam
menformulasikan ide teologis dari setiap kita yang ingin
dipelajarinya. Pernyataan itu memiliki tiga bagian penting.
Tuhan. ?Hal yang kita temui dalam
Perjanjian Lama adalah dua subjek konkrete dan hubungannya. Tuhan
Israel, disatu sisi, dan Israel, umat dari Yehovah, disisi lain; dan
poin ketiga, yang diberikan bagi keduanya, adalah hubungan mereka.
Disitu jelas bahwa faktor utama dalam hubungan tersebut adalah
Yehovah? (The Theology of the Old Testament, p. 13).
Didalam mempelajari Tuhan dalam sebagian
tulisan-tulisan Alkitab, kita biasanya melihat nama, dan epithets
yang digunakan untuk Tuhan, atribut yang menggambarkanNya, dan karya
yang dikerjakanNya. Inilah cara yang Eichrodt gunakan untuk
membangun teologi Perjanjian Lamanya, jadi memperhatikan garis
besarnya bisa memberikan satu perbaikan terhadap hal yang
terlewatkan.
Membuat bagan sangat membantu dalam mempelajari
suatu bagian. Pada satu lembar kertas buat ketiga diatas isian
mengenai ?Tuhan? (biasanya saat mempelajari Mazmur pekerjaan itu
masuk dalam satu halaman). Disamping halaman itu buat kolom ?Nama?
dan ?Deskripsi? dan ?Karya.? Kemudian telusuri bagian itu dan
perhatikan item dibawah judul ini. Sebuah gambaran mengenai wahyu
Allah yang ditekankan dalam bagian ini akan mulai terbuka.
Ciptaan. Seluruh ciptaan tunduk
kepada aturan Tuhan dalam Perjanjian Lama. Tapi, dihampir seluruh
tulisan, umat manusia menjadi perhatian utama, dan didalam umat
manusia keturunan dan hubungannya dengan seluruh dunia membentuk
focus perhatian.
Ditengah bagian ketiga dihalaman itu letakan
judul ?Ciptaan?; kemudian disamping halaman anda bisa meletakan
kategori yang cocok dengan bagian itu: ?Alam? (jika diperlukan),
?Orang Percaya? dan ?Kafir.? Mungkin saja bagian itu hanya berbicara
mengenai orang percaya, atau mungkin orang percaya dan yang tidak.
Disini anda bisa mencatatnya dalam sub-categories bagaimana mereka
digambarkan dalam bagian itu dan bagaimana mereka bertindak?apa yang
mereka lakukan. Suatu gambaran tentang manusia akan mulai muncul
?suatu gambaran terlihat dalam hubungannya dengan presentasi dari
Tuhan diatas.
Bagian yang sedang dipelajari akan berbicara
banyak mengenai orang percaya dalam dunia. Mereka menunjukan cara
iman melawan cara kafir; mereka (apakah orang Israel atau bukan)
akan berfungsi sejalan dengan iman mereka. Sebaliknya, orang tidak
percaya akan mengikuti cara yang salah atau berlawanan. Banyak
tulisan yang diberikan mengenai perluasan iman atau menghasilkan
keturunan rohani, didalam Israel (reformasi) dan diluar (perintah
untuk membawa pesan kepada bangsa-bangsa). Seluruh ciptaan pada
suatu saat akan diperhadapkan dengan Tuhan.
Berhati-hatilah. Frasa seperti ?umatku? dan
?Israel? dan yang seperti itu tidak secara langsung dianggap suatu
kepercayaan. Didalam satu bagian seperti nubuat kuno, atau mazmur
seperti Mazmur 50 yang menggambarkan ?orang jahat??bisa berarti
orang Israel, dan mereka mungkin berpikir diri mereka ?benar,? tapi
mereka adalah orang tidak percaya dan tidak lebih baik dari orang
kafir. Ini sangat penting dalam menafsir dan menerapkan bagian itu.
Terlalu sering aplikasi yang salah dibuat karena penafsiran tidak
membedakan apakah Tuhan sedang berbicara kepada atau mengenai orang
percaya atau yang tidak.
Tuhan Memerintah. Ini merupakan
hubungan antar keduanya. Ini dimanifestasikan melalui tindakan Allah
dan tanggung jawab umat manusia. Ada dua aspek dari aturan ini:
pemerintahan Tuhan yang lalu yang sampai sekarang masih sebagian dan
belum lengkap dan masih berkembang, dan pemerintahan Tuhan dimasa
depan yang akan dilengkapi dan kekal. Keduanya ada dalam teologi
Perjanjian Lama.
Davidson sekali lagi menulis,
Didalam arti lengkapnya kerajaan Allah hanya
diawali oleh kedatangan Anak Allah kedalam dunia; dan dalam
pengertian ini seluruh hal yang terjadi sebelumnya dianggap sebagai
persiapan bagi kerajaan ini, atau membayanginya. Inilah pandangan
yang sering disebut dispensasi Perjanjian Lama, suatu bayangan akan
yang baru. Tapi ini bukan pandangan yang terjadi sendirinya;
kesadaran Israel seperti yang direfleksikan dalam pikiran para nabi
adalah itu sudah kerajaan Allah. Keraguan ini hilang dalam
pertimbangan mengenai apa kerajaan Allah itu. Itu adalah hubungan
manusia dan Allah dan sesama dalam kasih. Dalam arti sempurna hal
ini tidak bisa terjadi sampai kedatangan Anak yang didalamNya
hubungan ini direalisasikan sepenuhnya.
Pemerintahan Tuhan atas ciptaan, kerajaan pada
tahap awal, merupakan tema utama diseluruh Perjanjian Lama. Itu
dikembangkan oleh perjanjian dan janji, tapi kurang dari ideal
ditempat Perjanjian Lama diam. Harapan utama adalah Tuhan akan
berdiam dengan mereka, dan pemerintahannya diantara manusia suatu
hari akan sempurna.
Sementara itu penegakan pemerintahan Tuhan
dihati manusia terus berlanjut. Sebagian besar bagian Alkitab
menyatakan ini dengan caranya masing-masing. Jadi dibawah ketiga
kertas pelajaran, anda beri bagian mengenai ?Pemerintahan
Tuhan??bagaimana itu ditegakan, dinyatakan, diterima, ditolak
--apapun. Pada sisi Tuhan, ada item seperti atribut mengenai anugrah
dan keselamatan, tindakan belas kasih dan penyelamatan, dan
penegakan hubungan perjanjian. Pada sisi manusia ada kepercayaan,
pengakuan, ketaatan, dan ibadah serta proklamasi, atau
ketidakpercayaan dan penolakan yang diikuti oleh penghukuman.
Persyaratan mengenai umat manusia jatuh dalam dua wilayah: penegakan
hubungan perjanjian, dan pemeliharaannya.
Aspek kedua mendatangkan keseluruhan maksud dari
penegakan teokrasi Tuhan, persekutuan keturunannya dengan Tuhan yang
hidup. Itulah tujuan hidup beriman dimana anugrah Tuhan dinyatakan
dalam hati manusia.
Setiap pelajaran mengenai teks harus menggunakan
garis besar yang luas ini untuk menegaskan ide teologis fundamental
dari penulisnya. Tentu saja, banyak perbaikan dan kualifikasi yang
akan ditambahkan, tapi dititik ini berguna untuk pelajaran dimana
tema-tema saling berhubungan dengan tulisan Perjanjian Baru, karena
walaupun banyak tulisan Perjanjian Baru adalah pemenuhan dari yang
Lama, yang Barupun meneruskan janji pemenuhan yang akan datang, dan
harapan itu adalah pemerintahan Tuhan atas seluruh ciptaan.
Terakhir, hal harus anda lakukan adalah mengatur
materi menjadi presentasi yang berguna. Setelah membuat bagan
tema-tema teologis dan ide-idenya, pelajari secara seksama untuk
melihat pola yang muncul, hal-hal apa yang diulangi, kontras apa
yang dibentuk, dan lainnya. Anda harus mampu menentukan secara cepat
dalam mazmur tekanan teologis apa yang ada dalam bagian itu. Ide
yang anda kembangkan akan dengan mudah diharmonisasikan dengan
bentuk mazmur yang sedang anda pelajari (sebuah mazmur pujian,
sebagai contoh, akan berfokus pada sifat Allah yang telah dinyatakan
melalui beberapa intervensi ?hal ini akan membawa anda kepusatnya).
Saat anda mendapatkan pusat teologis dari mazmur itu, anda harus
bisa menyatakannya dalam suatu pernyataan proposisional
teologis yang jelas. Apa yang anda katakana adalah apa yang
telah anda pelajari dalam mazmur itu (arti kata, bahasa kiasan, tipe
mazmur, bentuk dan fungsi) anda bisa mengatakan bahwa Tuhan sedang
berbicara melalui bagian ini ?ini dan itu.? Pernyataan teologis ini
akan mirip dengan ringkasan pesan anda dari garis besar, tapi tidak
ditulis dalam gaya deskriptif (?David prays for victory ??) tapi
dalam bentuk prinsip teologis (?God is able to deliver ??). (Lihat
dibawah, review mengenai metode dalam melakukan eksegesis dan garis
besar eksposisi --tedious tapi sangat penting). Penulisan ide
teologis membentuk transisi dari eksegesis ke eksposisi. Atas alasan
ini, ini merupakan salah satu tahap paling penting dari keseluruhan
proses. Ini membutuhkan pemikiran yang seksama dan analisa, dan
sejumlah penulisan kembali pernyataan sampai benar, atau sebaik
mungkin disaat itu. Prinsip teologis sebaiknya merupakan ?big
idea?--the central thesis?dari kotbah anda; tapi untuk kotbah lebih
baik sedikit dibentuk agar secara retoris efektif. Walaupun
demikian, substansi dari penemuan teologis anda yang menjadi inti
dan maksud eksposisi.
Subjek Teologis dari Kitab-kitab Perjanjian Lama
Daftar berikut ini merupakan ide teologis
disetipa kitab Perjanjian Lama menurut Waltke, bisa membantu
pelajaran anda, dan menunjukan apa maksudnya ide-ide teologis
Alkitab bukannya ide-ide teologis sistematis (yang merupakan hasil
dari memasukan materi-materi keseluruhan Alkitab kedalam kategori
yang lebih luas). Sebagian ditulis sebagai topik; agar lebih
membantu, mereka akan dinyatakan dalam kalimat lengkap yang
menyatakan maksud teologis dari kitab tersebut.
I. PENTATEUCH (Musa): Pendirian Teokrasi: ?Allah
memerintah atas seluruh ciptaan.?
A. KEJADIAN: Asal mula, dibelakang pendirian
teokrasi: janji berkat keturunan ditanah itu.
B. KELUARAN: Penebusan keturunan Abraham keluar dari
perbudakan dan pemberian suatu konstitusi kepada mereka.
C. IMAMAT: Manual atau peraturan-peraturan yang
memampukan Yahwe untuk hidup ditengah-tengah umatnya, menjadikan
mereka kudus (cf. Lev. 26:11-12).
D. BILANGAN: Hukum kultik dalam perjalanan
diperkemahan: pengaturan militer dan consensus para suku dan membawa
tabut: janji berkat tidak bisa dirusak dari dalam atau dari luar.
E. ULANGAN: Perjanjian diperbaharui dalam bentuk
nubuat hukum.
II. PARA NABI
A. PARA NABI PENDAHULU:
1. YOSUA: Pemenuhan histories dari janji Yahweh
kepada leluhur dan Musa untuk memberi Israel tanah perjanjian
melalui perang suci (cf. 1:2-6, 11:23; 21:43).
2. HAKIM-HAKIM: Kegagalan teokrasi dibawah
hakim-hakim dan kebutuhan adanya raja.
3. SAMUEL: Penegakan monarki manusia bukannya
teokrasi.
4. RAJA-RAJA: Kegagalan teokrasi dibawah monarki:
raja-raja Israel dan Judah bisa memerintah yang lain tapi tidak diri
mereka sendiri.
B. PARA NABI UTAMA:
1. YESAYA: Tuhan yang kudus tidak mengijinkan
kenajisan dalam diri umatNya, dan menghadapinya dengan cara menegur
serta memurnikan mereka dan membuat mereka bisa masuk berpartisipasi
dalam rencanaNya memperluas pemerintahanNya atas non-Yahudi (awalnya
pendisiplinan dibawah non-Yahudi, dan kedua, janji perjanjian yang
tidak bisa digagalkan).
2. YEREMIA: Yerusalem akan jatuh jika orang-orangnya
tidak bertobat; tapi, pemerintahan Tuhan ditegaskan melalui
perjanjian yang baru.
3. YEHEZKIEL: Kejatuhan Yerusalem dan penawanan di
Babilonia merupakan cara yang diperlukan bagi kemuliaan Tuhan untuk
memperbaiki ketidaktaatan manusia; tapi ?saatnya akan datang ketika
Yehovah akan memperbaharui sisa yang bertobat dari umatnya dan
menetapkan mereka kedalam hari kemuliaan teokrasi dimasa yang akan
datang dengan bait yang baru? (Archer).
C. PARA NABI KECIL:
1. HOSEA: Selain ketidak setiaan Israel, kasih setia
Yahweh pasti menang.
2. YOEL: Penghakiman Ilahi akan datang atas Israel
dihari Yahweh.
3. AMOS: Yahweh setia pada perjanjian dan hukumNya.
4. YUNUS: Walau Israel merupakan pelayan yang tidak
efektif dan sering didisiplin, Yahwe yang berdaulat menyatakan
keselamatan kepada non-Yahudi melalui pembawa pesan nubuatNya.
5. OBAJA: Yahweh akan membalaskan bagi Israel
terhadap Edom.
6. MIKAH: Hasil dari iman yang menyelamatkan adalah
pembaharuan social dan kehidupan yang kudus didasarkan pada
kebenaran dan kedaulatan Allah.
7. NAHUM: Nineveh akan jatuh karena kekejaman dan
kebejatannya dan karena Yahwe maha kuasa.
8. HABAKKUK: Hidup benar melalui iman dihadapan
kesulitan yang kelihatannya menghalangi janji Tuhan.
9. ZEFANIA: Yahweh mengontrol seluruh dunia walau
tanpaknya berlawanan, dan dia akan membuktikannya dimasa yang akan
datang diHari Yahwe didalamnya penghukuman atas semua yang tidak
taat menjadi jelas.
10. HAGAI: Carilah dahulu kerajaan Allah dan
kebenaranNya dan semua ini akan ditambahkanNya kepadamu
11. ZAKARIA: Penglihatan dan nubuat mengenai
pemurnian Israel serta pemulihannya sebagai imamat rajani dimasa
yang akan datang.
12. MALEAKHI: Yahweh akan datang dengan cepat dengan
api dan upah untuk memurnikan teokrasinya.
III. HAGIOGRAPHA:
A. MAZMUR: Pemazmur memperlihatkan Yahwe sebagai
raja alam semesta yang menegakan pemerintahannya atas bumi melalui
umatnya; mereka berdoa agar itu terjadi dan memuji serta percaya
pada Yahwe (McDaniel).
B. AYUB: Orang yang menderita harus belajar hidup
dalam iman pada pencipta dan pemerintah alam semesta yang berdaulat.
C. AMSAL: Sekumpulan maksim diberikan kepada pelajar
mengenai keahlian hidup benar dan produktif.
D. RUT: Yahweh secara berdaulat, tapi secara
tersembunyi, mempengaruhi kelahiran rajanya.
E. KIDUNG AGUNG: Suatu perayaan dalam lagu sukacita
persatuan dua jenis manusia dalam pernikahan.
F. PENGKHOTBAH: Selain kesia-siaan yang terlihat
dalam keberadaan manusia, dia akan hidup dalam percaya pada Allah
yang berdaulat, baik, dan adil.
G. RATAPAN: Suatu lagu ratapan kehancuran Yerusalem
dengan harapan akan masa depan yang didasarkan pada kesetiaan Tuhan.
H. ESTER: Sebuah ilustrasi keturunan fisik dari
Abraham tapi bukan keturunan rohani.
I. DANIEL: Sebuah gambaran sejarah Israel dibawah
kekuatan non Yahudi sampai dimasa kerajaan.
J. EZRA-NEHEMIA: Sebuah cerita mengenai penegakan
teokrasi selama penindasan non Yahudi.
K. TAWARIK: Sejarah Israel didisain untuk
membangkitkan dukungan teokrasi selama penindasan non Yahudi.
Contoh:
Teologi Alkitab Kitab Yunus
Ide Teologis Yunus
Tuhan. Walaupun kitab ini membawa
nama nabi dan menuliskan aktifitasnya, Tuhan adalah karakter utama
dalam kitab ini, Dia yang menggiring peristiwa kepada akhir yang
dimaksud. YHWH dan ?elohim menjadi sebutan utama Tuhan
dalam kitab ini; tapi penggunaan sebutan kedua menunjukan kontras
dengan ?allah? orang kafir, deskripsi itu menggunakan kata yang
sama. Yahwe menunjukan Dirinya adalah Tuhan.
Atribut Tuhan yang direfleksikan dalam kitab ini
sangat banyak. Perkataan Yunus dalam 4:2 menyatakan kalau Dia itu
murah hati, belas kasih, sabar, sangat kasih, dan enggan
menghancurkan. Ini merupakan alasan Yunus kabur?dia tahu karena
semua itu Tuhan akan berbelas kasih. Belas kasih itu, hus
(pronounced khoos), menjadi atribut Allah utama dalam kitab
ini yang membentuk objek pelajaran dalam pasal 4, pesan dari Yahwe
melalui Yunus. Hal ini menyatukan ide sebelumnya mengenai belas
kasih Yahwe terhadap Yunus dan para pelaut. Faktanya, pernyataan
bahwa keselamatan adalah dari Yahwe (2:10) dijelaskan oleh hal ini.
Karya dari Yahwe yang berasal dari
atribut-atribut ini sangat banyak. Hal pertama yang kita perhatikan
adalah wahyu Tuhan. Hal ini dilakukan dua kali melalui komunikasi
langsung kepada sang nabi dalam pengutusan (1:1 and 3:1), melalui
pembuangan undi (1:8), dan melalui keadaan badai serta pelajaran
dari pasal 4. Faktanya, perkataan Tuhan kepada Yunus adalah suatu
panggilan pelayanan dan janji dimasa yang akan datang berbicara
melalui dia (3:1). Saat sang nabi enggan untuk taat, perkataan Tuhan
kepadanya berupa teguran (4:4 and 4:9). Saat Tuhan berbicara kepada
ikan (2:11) tidak menemui kesulitan yang sama.
Wilayah kedua dari tindakan Tuhan dinyatakan
dalam kitab itu menunjukan kedaulatanNya atas seluruh ciptaan. Dia
memberikan badai (1:4) dan menakutkan semua. Dia mengontrol
pengundian (1:8) sehinggan Yunus ketahuan. Dia dikenal sebagai Allah
yang empunya langit (1:9) yang menciptakan laut dan daratan.
Gelombang dan ombak dibawah kekuasaanNya (2:4). Dia mempersiapkan
ikan untuk melakukan kehendakNya (2:1), pohon untuk bernaung (4:6),
ulat penghancur (4:7), dan angin membuai dari timur (4:8). Semua
dibawah kekuasaanNya. Berurusan dengan orang kafir lebih mudah
daripada berurusan dengan Yunus, karena Dia menjawab doa mereka dan
menyelamatkan mereka dari kematian. Tapi melalui Yunus menjadi jelas
kalau Tuhan menghukum yang ketidak taatan (1:10ff), karena dia
membuang Yunus kekedalaman (2:4). PenghukumanNya juga jatuh atas
Nineveh (3:4) jika mereka tidak berbalik dari kejahatannya.
Penghukuman atas mereka itu merupakan manifestasi murka Allah (3:9).
Penghukuman atas Yunus adalah sebuah disiplin dan bukti belas
kasihNya (4:9).
Belas kasih Allah dinyatakan melalui
penyelamatan para pelaut, Yunus, dan orang Asiriah, dan Yunus dari
permohonannya. Pengiriman pesan penghukuman merupakan tindakan belas
kasih, karena Tuhan dan Yunus tahu kalau mereka mendengar dan
bertobat, Tuhan akan berbalik dari murkaNya (3:9, 10). Maka dari
itu, gambaran Tuhan, yang muncul dari kitab ini, adalah Tuhan yang
berdaulat atas seluruh ciptaan menyebarkan anugrah kepada mereka
yang mau bertobat dan berbalik dari jalannya yang salah. Sub-plot
yang terdapat diseluruh tema teologis ini adalah Yunus juga perlu
belajar belas kasih yang sama.
Umat Manusia. Banyak hal yang bisa
dipelajari mengenai umat manusia dari kitab ini, tapi disini kita
perlu membuat perbedaan antara umat manusia pada umumnya dan Yunus
secara spesifik sebagai nabi Tuhan. Kitab ini merefleksikan
pengakuan kalau manusia itu hebat dan mampu membuat kota besar
(3:3). Tapi terikat pada jalannya yang salah kepada kejahatan dan
kehancuran (1:2; 3:8). Ditangan Tuhan manusia itu lemah dan rapuh
(2:3; 3:8ff). Kerapuhannya terlihat dalam ketakutan (1:5; 1:10) dan
pertobatan atas peringatan (3:8). Umat manusia juga sangat religius,
karena dia berdoa kepada allah (1:5), membuang undi (1:7), peduli
terhadap jiwa yang tidak bersalah (1:14), dan memuja berhala (2:9).
Seluruh kegiatan religiusnya sia-sia karena secara rohani dia tidak
peduli (4:11) sampai berhadapan dengan Tuhan yang benar dan hidup.
Keinginan umat manusia dalam kitab ini
menunjukan prioritasnya. Dia menilai hidup sangat tinggi dan tidak
ingin binasa (1:6, 3:9). Dia berdoa agar tidak binasa (1:14; 4:4-9).
Dia berusaha mempertahankan hidup yang lain (1:13, 14).
Ironisnya, Yunus terlihat berlawanan dalam drama
dikitab ini. Dia tidak menaati perkataan Yahweh (1:2) dan berkeras
(1:5). Dia ingin mati (1:13) dan sebenarnya berdoa agar dia bisa
mati (4:2ff). Dia marah melihat Tuhan tidak jadi memurkai saat orang
Asiria bertobat (4:a). Dia mengklaim takut akan Tuhan (1:9), tapi
faktanya dia menulis kitab ini untuk dibaca bangsa itu yang
menunjukan dia berbalik dari janjinya.
Hubungan Tuhan dan Manusia. Belas
kasih Allah menjelaskan drama itu yang mendahului pelajaran dimana
kata itu pertama kali digunakan; maka dari itu, penegakan hubungan
perjanjian antara Tuhan dan manusia dalam kitab ini adalah karya
Tuhan. Bagian Tuhan, langkah-langkah menegakan pemerintahan ini
adalah: pernyataan agar pesan penghukuman disampaikan (1:2, 3:1),
menunjukan belas kasih kepada para pelaut (1:6), perluasan khesed
kepada mereka yang adalah milikNya (2:9), berbalik tidak jadi
menghukum (3:9) sehingga mereka tidak binasa. Melalui pola yang
muncul ini, pelajaran puncaknya tidak hanya menegur prilaku Yunus
tapi juga menjelaskan maksud Tuhan. Dia punya belas kasih bagi orang
jahat.
Manusia, bagian mereka, harus merespon perkataan
dan karya Yahweh. Ditengah badai dimana kematian bisa dipastikan,
atau dalam penantian penghukuman dimana kematian juga bisa
dipastikan, mereka berdoa (1:14; 3:8-9). Bahkan Yunus dalam
kepastian kematian dalam perut ikan dia berdoa (2:2). Ini merupakan
suatu pengakuan kalau keselamatan dari kematian hanya datang dari
Yahwe semata.
Bagi para pelaut, respon lanjutan terhadap
perlakuan Tuhan terjadi setelah badai ditenangkan. Pernyataan luar
biasa akan kehendak Allah diantisipasi oleh mereka (1:16), dan saat
itu terjadi mereka takut akan Yahweh. Korban dan sumpah mereka
(1:16) bisa ditafsirkan sebagai ibadah atau hal gaib dalam sebuah
budaya kafir, tapi dalam kitab ini mencerminkan suatu kemurnian
ingin berbalik kepada Tuhan. Sumpah berikut yang terdapat dalam
kitab ini adalah dari Yunus (2:10). Jadi respon terhadap keselamatan
adalah ibadah.
Bagi orang Asiria, proses ini sedikit berbeda.
Doa bagi keselamatan mereka adalah doa kepada Allah untuk tidak
menghukum. Maka dari itu, pertobatan dari hidup yang berdosa adalah
sebuah keharusan (3:10). Berpuasa, merobek pakaian, dan berbalik
dari kejahatan, semuanya mencerminkan sebuah kesungguhan takut
terhadap perkataan Tuhan. Maka dari itu, takut menjadi motif
menonjol dalam kitab ini?baik para pelaut dan orang Asiria takut
terhadap Yahweh, dimana Yunus hanya mengklaim takut akan Dia.
Titik balik bagi para pelaut berasal dari fakta
bahwa mereka percaya (hiphil dari ?aman dalam 3:5
memiliki ide melihat kata yang diberitakan bisa dipercaya dan
diandalkan). Kepercayaan adalah murni saat berbalik bertobat dan
takut seperti terlihat dalam tindakan mereka. Maka dari itu, Tuhan
tidak jadi murka atas mereka.
Kita bisa berkata, saat umat manusia merespon
tindakan dan perkataan Tuhan melalui iman, dan berbalik dari berhala
kafir untuk taat beribadah dan takut akan Dia, Tuhan akan
menyelamatkan mereka dari kematian yang mendekat. Semia ini
dimungkinkan karena belas kasihNya. Yunus berusaha menghalangi belas
kasih Tuhan, sehingga Tuhan membawa dia kesatu kesadaran tentang apa
yang dia lakukan dengan menyingkirkan dia, Yunus, dari objek belas
kasihnya.
Struktur Tulisan Kitab Yunus
Dalam mempelajari kitab ini kita harus melihat
unit tulisannya melalui analisa komposisi dan membandingkan unit
yang mirip untuk pengaturan strukturalnya. Saat menghubungkan
bagian-bagian kepada keseluruhan, kita harus berusaha membedakan
bentuk tulisan yang digunakan oleh penulis untuk menunjukan
pesannya. Dalam proses itu, jangan salah gunakan konsep genre
tulisan. Genre tulisan adalah suatu klasifikasi karya yang
didasarkan pada bentuk luar (specific meter and structure) dan juga
bentuk dalam (attitude, tone, purpose--sederhananya, subjek dan
audience). Analisa genre tidak selalu membantu.
Sebagai contoh, Leslie Allen dalam tafsirannya
mengelompokan Yunus sebagai sebuah perumpamaan. Hal ini tidak hanya
tidak membantu, tapi tidak benar. Sebuah perumpamaan adalah suatu
simile diperluas (e.g., ?The kingdom of heaven is like ? ? dan
kemudian cerita akan berlanjut). Hal terbaik yang bisa dikatakan
mengenai Yunus adalah sebuah narasi didaktik mengenai kehidupan sang
nabi.
Hal lanjutan bisa diperoleh melalui mempelajari
struktur kitab dari perspektif gaya Ibrani, i.e., repetisi.
Observasi berikut ini dibuat untuk bisa melihat bagaimana struktur
memperluas teologi.
1. Kita akan melihat struktur seimbang dari
kita untuk melihat parallelism:
?The word of Yahweh came to Jonah?--Jonah 1:1, 3:1.
Pasal satu menunjukan ketidak taatan; pasal tiga ketaatan. Setengah
awal kelihatannya mengilustrasikan setengah berikutnya dari kitab
ini: pesan bahwa ?salvation out of certain death is of Yahweh?
pertama kali dialami oleh sang nabi dan kemudian kepada orang
Asiria.
Landes, dalam tulisannya ?The Kerygma of the
Book of Jonah,? menunjukan bagaimana mazmur cocok dalam dua sisi
struktur simetrikal:
1:17 fokus berpindah ke Yunus 4:1-11 fokus berpindah
ke Yunus
2:10 Yunus diselamatkan 4:1 Yunus marah karena
Niniwe diselamatkan
2:1 Yunus berdoa 4:2a Yunus berdoa
2:2-6a Dia merujuk balik kepadanya 4:2a Dia merujuk
balik kepada
situasi menekan di Palestina
dikedalaman
2:6b-7 Dia berseru pada Tuhan 4:2a Dia menarik
keputusan terhadap pikiran bahwa Tuhan yang berbelas kasih bisa
menyelamatkan Niniwe: dia harus kabur ke Tarshish
2:8 Dia mencapai pengertian 4:2b Dia menyerukan
belas kasih Tuhan yang membawa keselamatan
dari keselamatannya:
penyembah berhala mengabaikan
Dia yang mengasihi mereka
2:9 Respon Yunus terhadap 4:3 Respon Yunus terhadap
Yahweh: permintaan agar mati
Yahweh: ibadah dengan
Korban dan sumpah
2:10 Respon Yahweh terhadap 4:11 Respon Yahweh
terhadap Yunus: dia bertindak sehingga
Yunus: dia bertindak sehingga nabi itu bisa berespon
dengan benar terhadap
Nabi itu mendapatkan misi ilahi (telah selesai).
Berespon dengan benar terhadap
misi (masih harus
diselesaikan)
2. Kita juga harus memperhatikan penekanan kuat
dalam kitab ini atas aktifitas Tuhan dalam membuat pelayannya
menjadi pembawa pesan belas kasih dari Tuhan yang berbelas kasih.
Tuhan secara literal (dan berdaulat) menggerakan langit dan bumi
berkaitan dengan mujizat: dia mempersiapkan (menggerakan) badai,
memilih ikan, memerintah ikan, mempersiapkan pohon, mendatangkan
ulat, dan memanggil angin timur ?semua karena nabi keras kepala ini.
3. Kita juga melihat talionic (?eye for eye,
tooth for tooth?) keadilan bagi Niniwe. Bencana ( ra? )
diberitahukan pada mereka dalam istilah kejahatan yang sedang mereka
lakukan ( ra?) yang telah sampai kepada Tuhan. Saat Yunus
memberitakan pesan itu, rencana Tuhan itu tidak dilakukan, tapi
tetap jahat ( ra?a? ) baginya.
Mereka percaya ( ?aman ) terhadap pesan
Tuhan dan berbalik ( shub) dari kejahatan mereka. Tuhan
melihat pertobatan mereka, dan Dia relented/repented/undur (
nakham ) atas kehancuran/kejahatan ( ra? ) yang dikatakan
ingin dilakukanNya, berbalik ( shub) dari murkanya (kharon)
dan menyelamatkan mereka dari kepastian kematian. Ironi dari kitab
ini terlihat dalam fakta bahwa Yunus menjadi marah ( kharah)
atas apa yang menurut dia sebuah hal yang jahat. Singkatnya, pembawa
pesan Tuhan tidak memiliki belas kasihan yang sama seperti Tuhannya.
4. Dalam menjabarkan cerita ini, emosinya
tinggi: takut, sukacita, dan kemarahan sangat banyak ditunjukan oleh
karakter prinsip (perhatikan adverbial accusatives). ?Alas,? atau
terlebih lagi ?Oh!? diulangi: sekali digunakan oleh para pelaut yang
akan mati dan tidak mau mati, dan sekali oleh Yunus yang ingin mati.
Ekspresi ?lest we perish? digunakan dua kali:
sekali oleh para pelaut yang sangat ketakutan, dan sekali oleh orang
Assiria yang percaya dan berharap diselamatkan dari kematian. Tapi
Yunus tidak sensitive terhadap seruan mereka: dalam ucapan pertama
dia tertidur, dan yang kedua dia marah. Faktanya, pergumulan hidup
mati dibawa diseluruh kitab ini: dua kali Yunus ingin mati?sekali
untuk para pelaut, dan sekali karena orang Asiria. Tidak seorangpun
ingin mati kecuali Yunus, dan dia ingin mati karena orang Asiria
tidak mati.
5. Kita memperhatikan doa-doa yang ada dalam
kitab ini. Kata kerja palal, sha?al, qara?, dan shiwwa?
semua digunakan. Para pelaut, Yunus, orang Asiria, dan sekali
lagi Yunus, semua berdoa. Ketiga doa pertama adalah untuk
keselamatan dari kematian, dan semuanya terjawab; doa terakhir untuk
kematian, dan tidak terjawab.
6. Kita telah melihat bahwa Tuhan ingin
menyelamatkan orang dari kematian. Pelajaran utama mengikat seluruh
pesan: khus, ?memiliki belas kasih,? adalah kata kunci (ini
jelas harus dipelajari dalam setiap eksposisi kitab ini). Arti
?memiliki belas kasih? dalam pengertian menyelamatkan hidup.
Hasilnya dalam keselamatan dari kehancuran. Penghakiman dihindarkan
karena khus saat Tuhan mundur dari rencana penghukumanNya.
Anugrah dan belas kasih sedang bekerja dalam mendatangkan
keselamatan, tapi mereka dipaksa melalui ?diselamatkan karena belas
kasih.?
Dengan ini, dan observasi lain atas kitab ini,
kita bisa melihat bagaimana struktur itu menambah pesan.
Tujuan Kitab Yunus
Langkah berikut dalam menentukan inti teologi
dari kitab ini adalah menentukan prilaku penulis, pembaca kitab, dan
argumennya. Mengenai prilaku penulis, yang kita asumsikan Yunus,
harus dikatakan kalau dia bergerak karena belas kasihan Tuhan
terhadap orang Asiria. Kitab ini diam dengan teguran Yahwe, dan
sebenarnya tidak mengatakan kalau Yunus tergerak oleh belas kasih.
Tapi, fakta bahwa Yunus menuliskan seluruh peristiwa dalam kitab
ini, peristiwa yang memalukan bagi dirinya, sangat menunjukan kalau
dia akhirnya tergerak oleh belas kasih. Tuhan, jika bisa kita
katakana demikian, merupakan pahlawan dalam kitab ini?dia yang
menentukan. Diamnya Yunus berbicara mengenai penerimaannya.
Pembaca kitab ini adalah orang Israel, orang
yang dia nubuatkan. Para nabi di Israel dan Judah menulis dengan
tujuan mengajarkan satu jalur tindakan. Banyak peristiwa aneh dalam
kehidupan para nabi yang merupakan paradigma bagi orang-orang
(terutama lihat Hosea, Yesaya). Kita tahu kalau Israel dimasa Yunus
tidak taat padaNya. Faktanya, kita bisa katakana Israel sedang dalam
disiplin ilahi (menurut kitab Raja-raja Yunus bernubuat ditahun
750s; kerajaan Israel makmur dan memuaskan diri sendiri). Musuh
mereka, dan sumber disiplin mereka, berasal dari kerajaan Asiria.
Prilaku Yunus lebih seperti prilaku bangsa Israel.
Tapi prilaku ini berlawanan dengan ajaran Tuhan
bagi bangsa itu. Menurut Keluaran 19 dan Ulangan 20, mereka adalah
imamat rajani yang mewakili Yahweh kepada bangsa-bangsa. Saat mereka
menutup diri, mereka tidak taat dalam beberapa hal. Jika mereka
menaati pesan keselamatan Yahweh kepada bangsa itu, mereka tidak
perlu membagi belas kasihNya. Jika mereka membagi belas kasih itu,
mereka akan menyadari kembali kalau mereka ada karena anugrah dan
belas kasihNya, karena Dia yang telah menyelamatkan mereka dan
membuat mereka beribadah padaNya.
Argumen dari kitab ini, berkaitan dengan
keselamatan dari kematian yang pasti bagi non Yahudi, karena Yahweh
adalah Tuhan yang belas kasih.
Teologi Kitab Yunus
Pernyataan teologis yang harus dibuat tapi juga
ditekankan, adalah walaupun Israel adalah pelayan yang tidak
efektif dan sering dibawah disiplin, Yahweh yang berdaulat
memperluas belas kasih kepada non Yahudi melalui pembawa pesan
nubuat yang enggan. Hal yang membuat ketegangan begitu kuat
dalam drama ini adalah non Yahudi ini adalah musuh yang dibenci, dan
Yunus tidak ingin belas kasih Tuhan ditunjukan atas mereka.
Korelasi dengan Perjanjian Baru
Kapanpun ide teologis seperti ini diekspresikan,
langkah berikut adalah menentukan hubungannya dengan Perjanjian
Baru. Kita harus mewaspadai perubahan utama antar perjanjian, tapi
seperti ini, i.e., bahwa belas kasihan Tuhan menuntun Dia untuk
menyatakan keselamatan bagi non Yahudi, tidak begitu sulit
menghubungkannya dengan dunia sekarang. Fakta keselamatan itu
sendiri bersifat insidental bagi tujuan kitab ini, karena tujuannya
berkaitan dengan mengubah umat Tuhan menjadi orang-orang yang
memiliki belas kasih pada orang jahat yang secara rohani tidak
peduli.
Pelajaran bagi Yunus adalah, juga menjadi
pelajaran bagi kita dimasa kini: kita harus memiliki belas kasih
bagi mereka yang akan binasa, tidak peduli seberapa jahat mereka.
Bahayanya adalah umat Tuhan terlalu sering mengarahkan ?belas kasih?
pada hal-hal yang memiliki nilai bagi mereka (seperi Yunus terhadap
pohon tempat dia berteduh). Kita juga memiliki belas kasih bagi
hal-hal seperti itu (lading yang sekarat, pohon berteduh, alat rusak
yang kita hargai) yang remeh, dan tidak sensitive terhadap mereka
yang akan binasa. Ini juga terjadi dalam usaha penginjilan, kita
berusaha menjangkau individu yang menurut kita bisa menguntungkan
gereja. Sisanya, kita anggap neraka tidak cukup panas bagi mereka,
kecuali kita memang tidak peduli.
Pikiran ini terlihat kejam, tapi bagi Yunus
teguran Tuhan atas belas kasih yang salah arah juga sama kejamnya.
Dia bahkan tidak perduli jika binatang-binatang juga dihancurkan.
Teguran itu adalah bagi dia, dan Israel yang memiliki prilakunya,
dan juga terhadap kita. Tuhan adalah Tuhan yang berbelas kasih, dan
kita tidak menentukan siapa yang menerima belas kasihNya. Kita harus
membawa pesan itu kesemua yang mau mendengar, dan bersukacita atas
iman mereka saat mendengar perkataan ini.
Ini adalah beberapa ide untuk mengilustrasikan
bagaimana kita bisa mulai menjembatani jurang antara analisan
eksegesis dan presentasi homiletik.
Penggunaan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru
Pendahuluan
Anda tidak bisa melakukan Teologi Alkitab dan
tetap dalam materi Perjanjian Lama?setidaknya sebagai orang Kristen
dalam melakukan teologi, untuk menemukan pernyataan terakhir dan
pemenuhan Perjanjian Lama dalam Kristus Yesus. Jadi setiap karya
eksegetis yang anda lakukan perlu menunjukan dimana pesan anda
digunakan dalam Perjanjian Baru, dan bagaimana aplikasi itu bisa
mempengaruhi pandangan anda akan teks asli.
Sudah jelas kalau Alkitab Ibrani dilihat sebagai
pewahyuan Tuhan melalui Yesus, para rasul, juru tulis, dan orang
Farisi. Sebuah pelajaran mengenai istilah biasa digunakan dalam
mengutip Kitab Suci juga menunjukan kalau adanya persetujuan atas
kitab mana yang masuk dalam kanon (orang Samaria dan Saduki
membatasi kanonisitas hanya pada Taurat).
Tapi survey kita mengenai penyalinan dan
penerjemahan Alkitab juga menunjukan kalau dimasa Injil (sekitar 50
B.C. sampai 150 A.D.) ada serangkaian kitab ?gulungan kitab Ibrani
berbeda, terjemahan Yunani berbeda, sebagian karya awal dalam bahasa
lain, ditambah Samaritan Pentateuch dan Aramaic Targum. Jadi salinan
Alkitab mana yang mereka gunakan? Mereka tahu kalau Perjanjian Lama
adalah perkataan kekal Allah, dan berbicara kepada mereka seperti
kepada pembaca aslinya; mereka tahu kalau prinsip janji dan
penggenapannya menggaris bawahi arti Alkitab, karena Allah selalu
menggenapi perkataanNya dan setiap penggenapan merujuk pada janji
yang lebih besar. Banyak penggunaan Alkitab dalam beragam tingkatan
literal, dan penggunaan itu harus kita mengerti untuk mengetahui
bagaimana menafsirkan Perjanjian Lama untuk masa kini.
Suatu masalah utama muncul dalam pemikiran kita
saat kita mulai berbicara mengenai ?kutipan? dari Perjanjian Lama
dalam PB, karena konsep kutipan langsung tidak bisa dilakukan.
Mereka adalah Kitab Suci untuk menunjukan penggenapan atau
menegaskan yang baru tapi ajaran yang berkaitan; tapi mereka kadang
mencapainya pada arti literal dan denotasi aslinya. Faktanya, sekali
teks diubah ke Yunani atau Aramik, sedikit perubahan arti dikenalkan
(berkaitan dengan perubahan dalam konteks). Petrus menyatakan ?Be
holy, because I the LORD your God am holy? dari Imamat, terlihat
seperti ?word perfect,? tapi arti kata Yunaninya hanya mendekati
arti kata Ibraninya, ini yang terdekat. Tapi arti menjadi kudus bagi
orang Ibrani agak berbeda dari arti menjadi kudus orang Kristen.
Mereka memiliki aturan puasa dan ritual pemurnian dan pembatasan
atas pakaian dan pertanian ?semua sangat berbeda, tapi dalam
jangkauan teologi kekudusan yang berkembang dalam wahyu Tuhan.
Maka dari itu, kita perlu berpikir dalam istilah
progresif dalam Alkitab, melihat bagaimana Tuhan memajukan ide dan
motif PL. Kita perlu berpikir bagaimana mereka menggunakan
Perjanjian Lama dengan beragam hubungannya. Seperti yang telah anda
ketahui dari membaca catatan eksegetis saya puas dengan tiga
kategori umum untuk menggambarkan hubungannya; Saya telah
memperkenalkannya dalam pembahasan mazmur kerajaan, tapi akan saya
ilustrasikan lebih luas disini. Anda perlu memikirkan seluruh subjek
ini bagi kepuasan anda, karena berkaitan dengan eksegesis, kritik
tekstual, dan prosedur pengaplikasian. Berusaha memaksakan arti
Perjanjian Baru kedalam bagian Perjanjian Lama, tidak hanya
mengabaikan tata bahasa, sejarah, eksegesis tekstual yang kita
ikuti, tapi juga menyederhanakan masalah bagaimanan penulis
sesudahnya menggunakan Alkitab Ibrani.
Kategori I: Nubuat Langsung
Penggunaan PL dalam PB yang memiliki hubungan
arti terdekat antar dua bagiannya adalah nubuat langsung. Penulis
atau pembicara dalam Perjanjian Lama menyadari fakta bahwa apa yang
dinyatakannya harus digenapi dimasa yang akan datang, dan itu
biasanya dalam zaman Mesianik. Kategori ini, bisa sedikit
membingungkan, karena kebanyakan nubuat memiliki penggenapan
langsung yang tidak sepenuhnya memiliki arti lengkap, maksudnya,
penggenapan pertama menjadi tipe dari arti utamanya (seperti Yesaya
7:14).
Contoh 1: Mikah 5:1 dan Matius 2:6
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang
terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit
bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah
sejak purbakala, sejak dahulu kala (PL).
Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau
sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah
Yehuda, karena dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang
akan menggembalakan umat-Ku Israel (PB).
Seharusnya jelas bahwa ini merupakan nubuat
langsung mengenai kelahiran Mesias di Betlehem. Tapi seharusnya
cukup jelas kalau Matius tidak menggunakan Ibrani yang kita miliki,
tapi Perjanjian Lama Yunani (tapi bahkan disitu ada beberapa
perbedaan). Cukup menarik, dia tidak membaca bagian terakhir yang
berbicara mengenai keunikan dia yang akan datang. Kelihatannya
Matius hanya menggunakan terjemahan Yunani biasa dimasanya untuk
menyatakan penggenapan nubuat, dan tidak ingin mendapat bacaan tepat
teks Ibrani, dimana orang-orang tidak terbiasa. Maksudnya adalah
untuk menunjukan kalau nubuat itu sekarang telah digenapi.
Contoh 2: Maleakhi 3:1 dan Matius 11:10
Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia
mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! (PL).
Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau,
ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu (PB).
Yesus jelas merujuk nubuat Maleakhi mengenai
pendahulunya, dalam evaluasi panjang tentang Yohanes Pembaptis. Tapi
perhatikan, dia dengan bebas mengubah pronoun-nya untuk menunjukan
kalau dia adalah Tuhan yang akan datang kebaitNya (seperti
kelanjutan perkataan Maleakhi dalam 3:1). Tuhan berbicara dalam
Maleakhi (?aku? = Yahweh), dan Yesus ingin pendengarnya tahu kalau
dialah Yahweh.
Contoh 3:Yesaya 61:1 dan Lukas 4:17
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN
telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar
baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk
hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara ? (PL).
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah
mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang
miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan
kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas ? (PB).
Ini jelas bukan teks yang sama. Yesus masuk
kedalam sinagoge dan membaca dalam bahasa Ibrani dari gulungan
Yesaya. Lukas, saat menuliskan cerita dalam bahasa Yunani,
mengetahui kalau Yesus telah membaca dari bagian itu, dan hanya
menuliskannya, mungkin dari Alkitab Yunani. Ini mengenalkan masalah
utama dari para penulis injil dalam menuliskan pesan dan aktifitas
Yesus. Dia mengajar dalam bahasa Aramik dan Ibrani, tapi
terjemahannya adalah yang paling dekat dengan perkataan Yesus ?pada
intinya identik kecuali yang hilang dalam terjemahan.
Kemungkinan bagian ini juga memiliki penggenapan
ganda. Yesaya mungkin berpikir (dan menurut saya) dialah yang
diurapi untuk berkotbah?dan memang demikian. Tapi perkataannya
terutama merujuk pada Yesus Kristus.
Kategori 2: Tipologi
Tipologi adalah sebuah bentuk nubuat, nubuat
tidak langsung, karena kita tidak tahu itu adalah nubuat sampai
penggenapannya atau antitype-nya diketahui. Saat antitype besarnya
ada, baru kita bisa melihat kebelakang dan melihat apa yang dimaksud
Tuhan. Tipologi biasanya memiliki seseorang atau karya Mesias
sebagai tujuannya. Jadi terdapat pola jelas dari paralel motif, tapi
tipe dan antitipe memiliki realitas dan arti yang independen.
Sisi praktis dari observasi ini adalah eksegetor
harus mengetahui kalau tipe itu memiliki arti independen dalam
perkembangan pewahyuan. Kita bisa menjelaskan arahnya dalam wahyu
lengkap; tapi kita tidak bisa berasumsi kalau orang Israel
mengetahuinya, atau perlu tahu untuk bisa mengerti wahyu Tuhan
kepada mereka.
Contoh 1: Keluaran 12 dan 1 Korintus 5:7
Paulus dalam 1 Korintus 5:7, mengatakan ?Sebab
anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus,? dan
dalam ayat 8 menambahkan, ?Karena itu marilah kita berpesta, bukan
dengan ragi yang lama ? . ?
Keluaran 12 menunjukan Paskah Israel?domba
korban, roti tak beragi, darah pada pintu, penebusan anak sulung.
Semuanya itu memiliki arti yang luar biasa bagi penebusan Israel
dari Mesir. Tapi Roh Kudus mengatur semua itu dengan suatu pandangan
mengenai karya penebusan Yesus Kristus. Kita tidak bisa memisahkan
kedua bagian ini dalam pikiran kita; tapi dalam proses eksegesis
kita awalnya harus menentukan apa artinya bagi orang Israel, dan
menelusuri apa yang Tuhan lakukan dengannya dalam penggenapan wahyu.
Antitipe memberi kedalaman arti saat yang lama sepenuhnya
dimengerti. Tapi antitipe ada pada level berbeda, level rohani
(bukan ragi, tapi kejahatan dan iri hati adalah arti barunya); dan
penebusan domba paskah kita adalah rohani dan kekal, bukan bangsa
dari perbudakan Mesir. Jadi Kita mencari perbedaan dan juga
hubungannya, menyadari kalau tipe ini adalah nubuat secara
ilustrasi.
Contoh 2: Keluaran 16 dan Yohanes 6:29-41
Ini cerita mengenai mana dari langit. Orang
Israel menggerutu karena tidak punya makanan, dan Tuhan mengirimkan
mana dari langit, dengan aturan ketat dalam menerimanya. Dia
melakukan ini untuk mengajarkan mereka agar tidak hidup oleh roti
semata tapi dari setiap perkataan dari Tuhan (lihat Deut. 8:3).
Mengambil motif mana sebagai sebuah metafor,
Yesus menyatakan kalau dia adalah mana dari langit, dan orang yang
menerimanya tidak akan pernah lapar lagi. Mana adalah sebuah tipe,
ilustrasi bentuk awal dari ilahi mengenai aspek pelayanan Yesus. Dia
datang dari langit seperti mana, untuk memenuhi kebutuhan Israel
seperti mana, tapi sekarang dalam pengertian rohani bukan fisik.
Jika mereka percaya padanya, mereka akan menerima mana sorgawi ini,
seperti orang Israel mempercayai perkataan TUHAN, mereka pergi dan
mengumpulkan mana. Ironisnya, setelah Yesus menyelesaikan ajarannya,
orang banyak menggerutu.
Eksposisi dari Keluaran 16 memiliki tema
pemeliharaan Tuhan atas kebutuhan fisik umatNya untuk mengajarkan
mereka bergantung padaNya; eksposisi Yohanes 6 memiliki tema
pemeliharaan Tuhan atas kebutuhan rohani manusia melalui Yesus
Kristus. Hal pertama bisa menyebut bagaimana Perjanjian Lama
mengaplikasikannya kepada Kristus; kedua akan melihat Keluaran untuk
menjelaskan maksud Yesus.
Contoh 3: Mazmur 22 dan Matius 27
Mazmur 22 adalah tulisan mengenai penderitaan
Daud ditangan para musuhnya. Bahasa yang dia gunakan adalah
hiperbolis; tapi secara histories dan literal benar dalam
penderitaan Yesus diatas salib. Itulah tipe Mesias yang diakui oleh
Yahudi dan orang Kristen. Perjanjian Lama merujuk Mazmur ini
setidaknya tujuh kali untuk menunjukan kalau itu adalah sebuah tipe
dari kematian dan pemuliaan Kristus.
Mazmur 22:2 mengatakan, ?Allahku, Allahku,
mengapa Engkau meninggalkan aku?? Matius 27:46 menulis, ?Eli Eli,
lama sabachthani?? artinya, ?Allahku, Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?? Kita memperhatikan kalau Yesus menggunakan bahasa
Aramik sabachthani, dimana Ibraninya dalam Mazmur 22 menulis
?azabthani. Markus 15:34 menulis, ?Eloi, Eloi, lama
sabachthani?? Jadi disini juga terdapat beberapa pertanyaan
mengenai bahasa yang Yesus gunakan untuk menunjukan Allah Bapa;
?eli adalah bahasa Ibrani, ?my God,? dan ?eloi variannya.
Mazmur 22:9 dalam Ibraninya menulis: ?"Ia
menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia
yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya.? Matius 27:43
menulis perkataan pencemooh sebagai berikut: ?Ia menaruh harapan-Nya
pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan
kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.? Jelas
teks ini menggunakan Mazmur 22, tapi bukan suatu kutipan langsung.
Kata kerja pertama yang mengikuti Mazmur dalam Yunaninya, tapi itu
hanya mendekati. Saya pikir, yang terjadi adalah orang yang
mencemooh Yesus mengetahui (1) kalau Mazmur 22 adalah Mesianik, dan
(2) Yesus mengklaim sebagai Mesias. Jadi mereka mengingat perkataan
itu dan menggunakannya, tidak menyadari kalau saat itu mereka
menggenapi nubuat import.
Penggunaan ini dan lainnya menunjukan suatu tipe
dari Kristus. Mazmur memiliki suatu arti bagi pribadi menderita
seperti Daud, tapi memiliki arti yang lebih besar bagi Yesus yang
menderita.
Kategori 3: Midrash
Seperti didefinisikan dalam pembahasan mengenai
mazmur kerajaan, sebuah midrash adalah sebuah aplikasi analogis.
Ekspositor akan menemukan dalam bagian di Alkitab yang analogis
dengan situasi mereka dan menggunakannya untuk mendukung ajaran
mereka, menunjukan kalau pengajaran mereka sejalan dengan perbuatan
Tuhan dimasa yang lalu. Saya mengira setiap kali seseorang dimasa
kini membawakan eksposisi, dia sedang melakukan midrash karena
aplikasi bagi masa kini sedang dibuat.
Karena itu merupakan aplikasi analogis, Midrash
setidaknya tepat sehubungan dengan pengkalimatan dan arti teks dalam
bahasa Ibrani. Tapi, tidak harus berpusat pada pribadi dan karya
Mesias semata, tapi melihat pada kehidupan komunitas orang percaya
?penerapan yang bisa digunakan semua orang. Orang yang sedang
membuat penerapannya kelihatannya mengembangkan sebuah prinsip dasar
dari bagian tersebut, walaupun dia bermain dengan kata dalam
prosesnya. Dia tidak bisa mengatakan teks aslinya berkata demikian;
dia menerapkannya dalam situasi yang berhubungan.
Contoh 1: Keluaran 34:29-35 dan 2 Korintus 3:12-18
Didalam kitab Keluaran, ceritanya adalah Musa
naik gunung untuk mendengar perkataan Tuhan. Saat dia kembali kepada
umatnya, dia tidak sadar kalau wajahnya bersinar, menyatakan
kemuliaan. Jadi untuk menghalangi orang melihat sinarnya berangsung
hilang, dan karena itu bisa disimpulkan perjanjian itu bersifat
temporal, dia menyelubungi wajahnya. Saat dia kembali kepada TUHAN,
dia melepas selubungnya. Paulus menggunakan cerita ini untuk
mendukung maksudnya bahwa orang Yahudi tidak mengerti Alkitab karena
mereka tidak menerima Kristus. Paulus berkata, ?Bahkan sampai pada
hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang
menutupi hati mereka? mengenai orang Yahudi yang tidak percaya
kapanpun kitab Musa dibacakan di Sinagoge. Tapi, saat dia berbalik
kepada TUHAN (Paulus mengubah Yunaninya dari LXX dari apostrepho
menjadi epistrepho), selubungnya disingkirkan, karena Roh
TUHAN ada, disitu ada kemerdekaan.
Maksud Paulus tetap benar apakah dia menggunakan
cerita Keluaran maupun tidak. Terdengar seperti dia pernah mendengar
hal ini dibacakan dalam Sinagoge, dan menggunakannya untuk
mengutarakan maksudnya, dan menyimpannya bagi surat-suratnya. Bagian
aslinya jelas tidak berarti Musa bertobat setelah kembali kepada
TUHAN dan selubungnya disingkirkan?tapi memberikan ilustrasi yang
baik terhadap maksudnya karena paralel dengan kekerasan hati Israel.
Hal yang menarik adalah Paulus menggunakan metode midrash Yahudi
untuk mengemukakan maksudnya. Jadi hermeneutic bukan masalah mereka;
penolakan terhadap Kristus merupakan masalahnya.
Contoh 2: Kejadian 21:10 dan Galatia 4:21-31
Disini Paulus juga menggunakan cerita Perjanjian
Lama untuk mendukung maksudnya dalam argumen kitabnya. Dia
menegaskan kalau janji itu telah digenapi dalam Kristus?dan kita
diselamatkan oleh anugrah?kita tidak berada dibawah Taurat untuk
pengudusan. Dan dia menarik cerita Ismail dan Ishak.
Didalam Kejadian 21 Sarah melihat Ismail
?bermain? ( tsakhaq ) dengan Ishak kecil, anak yang
dijanjikan. Dia menerima ancaman disini, dan menuntut agar budak dan
anaknya diusir. Perkataannya dikutip oleh Paulus dalam penggunaan
?alegoris? bagian tersebut [dia tidak menggunakan ?alegori? seperti
yang digunakan dimasa kini; dia menggunakan alegori dalam pengertian
klasik, jadi hati-hati] untuk mengatakan bahwa anak dari budak harus
diusir. Menarik diperhatikan kalau Paulus mengambil terjemahan
Yunani yang menggunakan ?give way to hilarity,? sebuah terjemahan
mengintensif dari bahasa Ibrani, tapi kemudian memodifikasinya
menjadi ?persecute.? Paulus, dilatih dibawah Gamaliel, menghafal
Perjanjian Lama Ibrani; ini merupakan perubahan penafsiran
disengaja. Paulus menggunakan Ismail untuk mengemukakan tentang
ancaman dari Judaizers. Perkataannya menafsirkan apa yang mungkin
ditakutkan Sarah?jika anak budak ini diijinkan terus ada akan
mengancam anak perjanjian. Bahwa Paulus membuat analogi terlihat
jelas dari perbandingannya ?like Isaac.? Bagi Paulus, Taurat membawa
kita kepada Kristus, tapi saat Kristus datang, Taurat sudah usang.
Maka, mereka yang percaya pada Kristus juga menjadi anak perjanjian,
seperti Ishak, anak dari wanita merdeka. Kembali ke Taurat merupakan
penolakan terhadap penggenapan janji dan hidup menurut daging, i.e.,
ajaran Judaizers.
Sekarang jika anda mengeksegesis Kejadian21,
anda tidak akan sampai pada aplikasi analogis ini tanpa tulisan
Paulus. Pesannya berpusat pada beberapa aspek pemeliharaan
perjanjian melalui Abraham. Tapi anda tidak bisa menyimpulkan kalau
Hagar dan Ismail adalah orang yang tidak percaya. Faktanya, bukti
merujuk sebaliknya, setidaknya Hagar.
Contoh 3: Yeremia 32:6-9, Zakaria 11:12,13, dan Matius 27:9
Matius menulis cerita kematian Yudas, dan
menambahkan kalau hal itu menggenapi perkataan nabi Yeremia,
?"Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan
untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel
dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti
yang dipesankan Tuhan kepadaku?
Tapi bagian dalam Yeremia hanya menulis kalau
Yeremia membeli lading seharga 17 sikal perak sebagai harga
penebusan. Didalam Zakaria mereka menimbang 30 buah perak sebagai
upah, tapi TUHAN memerintahkannya untuk melemparkan itu keladang
tukang periuk. Sekarang, sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi
dalam penggunaan teks ini. Kedua konteks berkaitan dengan tema
penebusan, seseorang membeli sebuah ladang (mengharapkan
pengembalian dari pembuangan) dan yang lain membuang uang ke tukang
periuk. Matius, mungkin menggunakan kombinasi popular dari pesan
nubuatan dimasukan dalam gaya konkordansi, bekerja dengan midrash
untuk menunjukan kalau beberapa tema nubuat Perjanjian Lama
disatukan pada aspek karya penebusan Kristus, i.e., kematian Judah.
Hal itu dimulai dengan Yeremia, dan dirujuk padanya, karena itu
menjadi titik awal dari lingkaran ayat-ayat tersebut.
Kesimpulan
1. Telah jelas kalau sejumlah besar penafsiran
membentuk penggunaan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru (juga
dalam teks Rabinis). Untuk mengerti bagian-bagiannya, kita harus
terbiasa dengan beragam cara penggunaan Alkitab Ibrani oleh orang
Yahudi. Mereka selalu mencari artinya, penerapannya, atau
penggenapannya.
2. Mereka tidak hanya memiliki beragam
penggunaan Alkitab Ibrani dalam pengalaman barunya, tapi memiliki
beragam terjemahan Alkitab yang bisa mereka pilih. Mereka
kelihatannya banyak menggunakan Yunani umum, untuk berkomunikasi,
tapi terkadang mereka mengubahnya atau menggunakan yang lain jika
pengkalimatannya lebih baik dalam penafsiran mereka. Penggunaan
mereka terhadap terjemahan Alkitab seperti kita?kita bisa menyebut
semuanya dengan ?firman Tuhan??tapi kita tahu secara teologis
inspirasi diterapkan hanya pada yang asli bukan salinan.
3. Jika anda melakukan eksposisi eksegesis dari
bagian Perjanjian Lama (bagian yang ditafsirkan seperti ini dalam
PB), anda harus menentukan apa arti bagian itu dalam konteks aslinya
sebelum menghubungkan penggunaannya dalam PB. Sebagai contoh, jika
anda mengajar dari Imamat 23 mengenai Pesta Hasil Tuaian Pertama,
pelajaran anda adalah mengenai mengucap syukur pada Tuhan. Anda
mungkin menyebutkan bagaimana Paulus menerapkan hal ini pada
kebangkitan jika itu yang anda inginkan?tapi pelajaran anda bukan
mengenai kebangkitan Kristus. Jika anda ingin melakukannya, gunakan
1 Korintus 15 disini Paulus mengajarkannya, menggunakan pesta
sebagai tipe penggenapan dalam kebangkitan Kristus. Singkatnya, kita
berusaha untuk sedekat mungkin dengan arti teks aslinya dalam
konteks yang kita jabarkan; penyimpangan akan membingungkan
pendengar dan kemungkinan eisegesis terjadi jika kita tidak jelas.
4. Anda harus mengenali bagaimana perkembangan
pewahyuan terjadi dalam pengertian Perjanjian Lama. Israel tidak
memiliki Injil, atau Roma, atau Ibrani, untuk membantuk mereka
mengerti dimana arah Tuhan pada akhirnya dengan materi ini. Tapi
Alkitab ada maksud bagi mereka. Jadi kita berusama menentukan bagian
teologi Alkitab yang kekal. Teologi Alkitab ini akan dihubungkan
dengan teologi Perjanjian Baru?tapi keadaannya akan berbeda. Sebagai
contoh, teologi kekudusan, yang disebutkan diatas, menjadi motif
dalam eksposisi; tapi kita harus menelusuri perkembangannya.
Kristologi Perjanjian Lama
?Tuhan Sebelum Inkarnasi?
Teologi Alkitab pastilah mengenai Tuhan. Tapi
saat anda melihat Perjanjian Lama anda akan menemukan beberapa hal
yang kelihatannya mendua diberbagai bagian mengenai identitas
TUHAN?orang yang mana? Di banyak tempat tidak banyak perbedaan?itu
TUHAN. Tapi saat kita mendatangkan pertimbangan teologis, terutama
dalam melihat Perjanjian Baru menggunakan Perjanjian Lama, ada
ketepatan yang lebih baik disana. Didalam Sistematik Teologi
biasanya kita mengatakan Bapa yang menetapkan, Anak yang menjalankan
dan menyatakan Bapa, dan Roh yang memampukan itu dilakukan.
Ketiganya terlibat, karena mereka tidak bisa terbagi, satu dalam
esensi. Dan juga, sebagai contoh, ciptaan adalah ketetapan
Tuhan?jadi kita bisa katakana Allah Bapa menciptakan segala sesuatu.
Tapi Perjanjian Baru menjelaskan kalau Anak menciptakan segala
sesuatu. Dan ini melalui Roh Kudus.
Berurusan dengan bagian-bagian dimana Tuhan
secara aktif terlibat dalam kegiatan manusia, maka secara teologis
dibenarkan dan pada umumnya aman untuk melihat pribadi kedua dari
trinitas dalam pikiran kita (walaupun secara teknis tidak disebut
?Kristus? sampai Perjanjian Baru). Dan ini dikonfirmasikan melalui
penggunaannya, karena ada banyak petunjuk dalam Alkitab yang
menyatakan kalau Kristus memang TUHAN yang adalah pusat dari
pewahyuan. Yesus berkata, ?Selidiki Kitab Suci karena mereka
berbicara mengenai Aku.? Dan jika anda terlibat dalam eksegesis
Alkitab anda akan melihat petunjuk terhadap TUHAN dalam Alkitab
Ibrani sebenarnya merujuk pada pribadi kedua sebelum inkarnasi dari
trinitas.
Dalam bagian singkat ini, saya ingin mensurvey
beberapa bagian penting untuk menjelaskan gambaran pewahyuan TUHAN
dalam Perjanjian Lama dan Baru. Survey singkat dan selektif ini akan
mendukung maksud Paulus ?that in all things He [Christ] might have
the pre-eminence? (Col. 1:18).
Pernyataan Tuhan dalam Perjanjian Lama
Diseluruh Alkitab Ibrani kita bertemu dengan
pernyataan mengenai Tuhan (?elohim ) dan TUHAN (Yahweh),
tapi mereka tidak diklarifikasi atau dibedakan sebelumnya. Roh Tuhan
kelihatannya selalu berbeda, dinyatakan sebagai Roh Kudus, Roh
Tuhan, atau Roh dari TUHAN.
Great Shema? bisa menyatakan kesatuan dan
keunikan Allah Israel: ?Hear (shema?) O Israel,
Yahweh our God, Yahweh is one? (or: Yahweh is our God, Yahweh
alone). Penafsiran ?one? (?ekhad ) menerima banyak perhatian,
apakah itu berarti ?one? dalam angka atau ?one, alone? dalam
keunikan. Saat Roh Tuhan ditambahkan ke-sebutan Tuhan (seperti dalam
ciptaan, Kej. 1:1-3), ada kebingungan. Kita pikir penggunaan istilah
itu dalam Kejadian 2 bagi Adam dan Hawa, yang keduanya adalah ?satu
daging?. Ini menunjukan kata itu memiliki jangkauan arti yang lebih
luas. Jadi Ulangan 6:4 harus dipelajari sepenuhnya dalam konteks
teologi kitab Ulangan; disana akan menunjukan kalau pengajarannya
adalah Yahweh adalah satu-satunya Allah Israel yang benar-benar
unik, dan hanya ada satu Allah sebagai lawan politeisme kafir.
Gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama menunjukan
dua aspek trandensi dan imanensi Tuhan. Bagian pertama Alkitab dalam
penciptaan menunjukan bentuk ini: didalam Kejadian 1 Tuhan secara
berdaulat memerintahkan segala sesuatu menjadi ada; tapi dalam
Kejadian 2 Yahweh memberi nafas kehidupankepada manusia. Terkadang
Tuhan itu tinggi, mengatasi segala hal; disaat yang lain dia masuk
kedalam dunia secara ajaib (biasanya dalam bagian-bagian yang
memiliki banyak bahasa anthropomorphic).
Saat nature dari Ketuhanan kelihatannya
membingungkan dalam bagian kitab. Maleakhi 3 adalah contoh yang
baik. Ayat 1 berkata ?Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia [ini
adalah Yohanes Pembaptis dalam Perjanjian Baru] mempersiapkan jalan
di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan [?adon] yang kamu cari
itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki
itu, sesungguhnya, Ia [ini adalah Yesus Kristus] datang, firman
TUHAN semesta alam.? Jadi Yahweh semesta alam mengirimkan Tuhan dari
perjanjian ke baitNya. Kemudian dalam ayat 5, lanjut nubuatan itu,
Yahweh semesta alam berkata, ?Aku akan mendekati kamu untuk
menghakimi.? TUHAN, pengirim, adalah Tuhan, yang akan datang. Karena
bait selalu ?rumah Yahweh,? maka dia yang TUHAN kirim menyebutnya
?baitNya? merupakan hal yang penting. Ini sangat sulit dimengerti
tanpa inkarnasi, seperti nubuat Elijah (Mal. 4:5) sulit bagi kita
untuk mengerti tanpa kedatangan kedua.
Amsal 30:4 salah satunya, dan tidak bisa
dianggap sebagai puisi parallelism dengan semudah itu. ?Siapakah
yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan
angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan
kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa
namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!.?
Yesaya 48:12 memulai nasihat dari TUHAN yang
sangat jelas menunjukan pembicaranya adalah Allah Yahweh:
?"Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil!
Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang
terkemudian! Tangan-Ku juga meletakkan dasar bumi, dan tangan
kanan-Ku membentangkan langit. Ketika Aku menyebut namanya, semuanya
bermunculan ? . Aku, Akulah yang mengatakannya ? . Mendekatlah
kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata
dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ." Dan
sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya? (vv. 12-16).
Bagian ini mendatangkan beragam penafsiran; tapi saya tunduk pada
wahyu menyeluruh dalam Alkitab dimana sekarang kita ketahui kalau
pembicaranya adalah Anak Allah sebelum inkarnasi, pribadi kedua dari
trinitas, dikirim oleh Bapa, dengan Roh.
Maksud yang ingin saya buat adalah diseluruh
tulisan ini setiap bagian bisa membantu menjelaskan beberapa hal
untuk menyelesaikan pertanyaan mengenai penafsiran, tapi saat
dilihat secara keseluruhan, mereka secara konsisten merujuk pada
satu arah, dan saat pernyataan Perjanjian Baru mengenai Yesus
Kristus ditambahkan, maka kesimpulan Perjanjian Lama ditegaskan.
Maka dari itu, ?Marilah kita? dalam cerita penciptaan bisa
dijelaskan sebagai Tuhan berbicara kepada para malaikat, atau sidang
ilahi, atau plural of majesty, atau potensial; tapi saat keseluruhan
pewahyuan ada, kita setidaknya bisa mengatakan bahwa bahasa yang
digunakan dalam Kejadian diijinkan untuk pewahyuan lengkap
atau lanjutan dari trinitas Ketuhanan.
Nubuat-nubuat Mengenai Mesias yang mendekati Ketuhanan
Saat kita mensurvey beberapa nubuat mengenai
Mesias, kita menemukan satu gerakan konstan kearah bahasa yang
terlalu megah bagi manusia semata, dan ini tidak bisa dengan mudah
dijelaskan sebagai pujian semata atau dimampukan oleh Tuhan.
Yesaya 40:3-11
?"Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk
TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!.?
Bagian ini mengatakan bahwa Allah Yahweh akan datang dengan upah dan
penghukuman. Tapi Dia kelihatannya muncul sebagai seorang gembala.
Diseluruh Perjanjian Lama menggembalakan diasosiasikan dengan
pekerjaan Mesias (lihat Zechariah 11). Nubuat mengenai Mesias ini
melihat kedatangan Allah Yahweh sebagai seorang gembala. Perjanjian
Baru menegaskan kalau inilah Kristus, Mesias Israel, mengikuti
Yohanes Pembaptis dalam mempersiapkan jalan. Gembala yang Baik
(Gembala Utama, dan Gembala Agung) adalah Tuhan, dikirim kedalam
dunia ini.
Mikah 5:1
Sang nabi mengumumkan bahwa akan muncul di
Bethlehem Ephrata, ?seorang yang akan memerintah Israel, yang
permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.? Matius 2:6
menegaskan kalau nubuat ini digenapkan dalam kelahiran Yesus di
Betlehem. Tapi maksudnya adalah Mesias, yang dikatakan Mikha masih
akan datang dari Betlehem, memiliki asal mula yang sejak dahulu
kala. Buku tafsiran memberikan beragam penafsiran mengenai hal ini;
tapi ayat ini kelihatannya menunjukan setidaknya Mesias memiliki
sebuah pre-existence.
Yesaya 9:5-6
?Sebab seorang anak telah lahir untuk kita,
seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada
di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib,
Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.? Ketepatan
perkataan nabi ditegaskan oleh klaim Perjanjian Baru mengenai
Yesus?seorang anak telah lahir di Betlehem, tapi Anak telah
diberikan. Menyebut raja yang akan datang ini dengan ?Allah yang
Perkasa? terlalu ambisius. Sedangkan istilah ?Allah? (disini ?el
) merujuk pada seorang raja manusia dalam Alkitab, tidak pernah
digunakan dengan cara demikian dalam Yesaya. Lebih jauh, sebutan
raja ini sebagai ?Bapa? mengejutkan, karena perjanjian (2 Sam. 7)
mengatakan Yahweh adalah Bapa, raja adalah anak. Yesus menyatakan,
?Aku dan Bapa adalah satu? (John 10:30), klaim itulah yang membuat
mereka ingin merajam batu Yesus, menuduh Dia membuat diriNya
samadengan Tuhan (v. 33). Dan Yesus disalibkan atas tuduhan
penghujatan, membuktikan mereka mengerti Dia mengklaim sebagai
Tuhan.
Yesaya 7:14
Penggunaan kata ?Allah? (?el ) dalam
Yesaya datang sangat kuat dalam sebutan bagi Mesias yang akan datang
yang memiliki kelahiran yang istimewa melalui ?seorang dara? (?almah).
Dia akan disebut Immanuel--?Tuhan bersama kita.? Biasanya ini bisa
dijelaskan sebagai sebuah kelahiran yang menunjukan betapa Tuhan
memberkati umatNya; tapi Yesaya memiliki sesuatu yang lebih agung
dalam pikirannya mengenai Kitab Immanuel (Isaiah 7-11), dan
Perjanjian Baru menegaskan hal ini, menunjukan inkarnasi Tuhan
menjadi menusia. Perkataan nabi memiliki arti penuhnya dalam
kelahiran Yesus sang Mesias dari seorang dara.
Mazmur 110, 45, dan 2
Suatu ?royal psalms? adalah mazmur-mazmur yang
secara tipologis bentuk awal pemerintahan Mesias, Raja dari
keturunan Daud. Maka dari itu, mereka seringkali dikutip dalam
Perjanjian Baru. Mazmur 110 memprediksi kedatangan Raja untuk
memulai pemerintahannya: ?Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku:
"Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi
tumpuan kakimu.? Kata ?tuanku? adalah keturunan Daud yang akan
menjadi Tuannya; Yesus sendiri menggunakan mazmur ini untuk
menyatakan klaimNya sebagai ilahi. Bukan hanya raja Tuhan yang akan
datang, tapi Dia juga adalah seorang imam selamanya mengikuti
keturunan Melkisedek, satu hal yang diberi bahasan yang cukup banyak
dalam kitab Ibrani. Tapi ini agak membingungkan, karena keturunan
Raja (Judah) dan Imam (Levi) tidak bisa disatukan dalam satu
pribadi. ?Yahweh? dalam mazmur itu pastilah Allah Bapa, karena Dia
yang mengirim Raja dari keturunan Daud untuk mengklaim
keberadaanNya.
Mazmur 45 merayakan ?perkawinan? dari pengantin
kerajaan, seorang raja yang memerintah dengan kebenaran penuh dan
integritas. Pada satu titik pemazmur menaikan pujian bagi penguasa
ini dalam istilah yang tidak biasanya bagi seorang manusia:
?Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya ?
sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak
sebagai tanda kesukaan.? Pujian semata? Jika ini sebuah bagian
tersendiri kita bisa menganggapnya demikian; tapi dilihat bersama
dengan seluruh mazmur dan para nabi hal ini lebih dari itu. Ibrani
mengutip bagian ini secara langsung mengarah pada Anak Allah yang
akan memerintah dengan kebenaran dan keadilan, karena Allah Bapa
telah mengurapi Dia dengan minyak tanda kesukaan.
Mazmur 2 adalah liturgy penobatan. Bagian ini
mengutip Perjanjian Daud, ?"Anak-Ku engkau! Engkau telah
Kuperanakkan pada hari ini.? Walaupun ini bisa digunakan disetiap
penobatan raja dari keturunan Daud, Ibrani menggunakan ini dalam
pengertian peninggian Anak Allah dari keturunan Daud, Yesus,
membuktikan dia Anak Allah melalui kebangkitan (Rom. 1:4; Rev. 1:5).
Didalam mazmur ini, memberontak melawan Yahweh sama dengan
memberontak melawan rajaNya; tunduk pada raja sama dengan tunduk
pada Yahweh dan lolos dari hukuman. Mereka berbeda; mereka sama.
Mazmur 97
Sebagai sebuah contoh ?mazmur penobatan? bagian
ini berguna. Ini mengumumkan tema agung: ?Yahweh bertahta.? Walau
perhatian besar telah diberikan bagi mazmur-mazmur ini, deskripsi
penting mengenai pemerintahan ini adalah ketetapan yang tidak bisa
disingkirkan?pemerintahan akan ditegakan dengan epiphany agung.
Bahasanya bisa dijelaskan sebagai murni puisi, kecuali para nabi
menggunakannya secara detil dalam mengumumkan kedatangan ?Hari
TUHAN,? dan Yesaya menggunakan ekspresi ini untuk memberitahu
kedatangan TUHAN memerintah bumi. Penafsiran eskatologis dari
mazmur-mazmur dan para nabi hanya cocok dengan kedatangan Yesus
kedua kali, yang berkali-kali dinyatakan Perjanjian Baru bersama
dengan epiphany.
Pemazmur tidak pernah meletakan mazmur kerajaan
dan mazmur penobatan secara bersamaan. Sang ?Anak? akan memerintah
dalam kekuasaan dan kemuliaan seperti Tuhan, atau Yahweh akan
memerintah dengan epiphany dan otoritas absolut. Hanya pada
kegenapan waktulah hal ini bisa jelas, bahwa Anak Allah yang akan
memerintah adalah Yahweh yang datang dalam awan-awan. Bagian lain
dalam para nabi mulai meletakan semua ini secara singkat.
Yeremia 23:5,6
Didalam bagian ini baik keilahian dan
kemanusiaan Mesias diperlihatkan. Dibawah sebutan ?Tunas? raja dari
keturunan Daud akan datang memerintah. Dua hal dalam bagian ini
sangat penting. Pertama, Dia akan disebut ?TUHAN keadilan kita.?
Jangan lupa pentingnya hal itu; Yesaya 42:8 menjelaskannya, bahwa
Yahweh adalah nama Tuhan dan Dia tidak akan membagi kemuliaanNya
dengan siapapun. Maka dari itu, Raja yang akan datang ini dengan
namaNya pastilah Yahweh. Lebih lagi, sebutan ?Tunas? (Zech 3 dan Jer
33) digunakan dalam para nabi akan menyatukan jabatan Raja dan Imam,
sesuatu yang tidak bisa dilakukan raja-raja keturunan Daud manapun.
Hanya Yesus yang bisa menggenapi Taurat yang menegakan sebuah
keimaman baru.
Daniel 7:13,14
?Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu,
tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak
manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa
ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan
kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku
bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan
yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan
yang tidak akan musnah.? Daniel melihat penglihatan ini yang telah
digambarkan oleh pemazmur?Bapa memberikan kerajaan kepada Anak.
Allah bukan orang tua, tapi penglihatan menggunakan itu untuk
membedakan Dia dari Anak. Saya pikir ?anak manusia? digunakan untuk
mengkontraskan raja ini dengan penguasa dunia?semua kejam. Ini
adalah manusia dan manusiawi. Tapi bagian itu dengan jelas
menunjukan kalau Yesus Kristus telah ada sebelum inkarnasi, dan
keberadaan itu ada disorga dengan kemuliaan, dan kekuasaanNya jelas.
Klaim-klaim Kristus
Sebuah survey beberapa (dan hanya sedikit)
bagian Perjanjian Baru semakin menerangi pengertian kita tentang
Perjanjian Lama. Disini kita akan melihat bagian-bagian mengenai
Yesus dan juga hal-hal yang Yesus katakan.
Klaim-klaim Pre-existence
Menarik bagi saya kalau teologi Rabinis dan
teologi Kristen bergabung disini. Banyak guru Yahudi percaya kalau
Mesias (siapapun dia) sudah ada sejak dahulu kala. Tidak kekal, tapi
sudah ada sebelumnya. Didalam Yohanes 17:5 Yesus berkata, ?Oleh
sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan
kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.? Banyak
teks dimana Yesus menegaskan kalau Dia berasal dari sorga, Dia
dikirim kedalam dunia, Dia dari atas bukan dari bawa dan Dia akan
kembali kepada BapaNya disorga (lihat John 6:33,38141. 50, 51, 58,
62). Dan tentu saja Phil. 2:6 menegaskannya, mengatakan Yesus, ?yang
walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah
mengosongkan diri-Nya sendiri ? .? Ada kelahiran di Betlehem, Yesus
dilahirkan; tapi Anak telah diberi, Anak telah ada disorga sebelum
inkarnasi.
Logos, Firman
Sebuah prologue dari Yohanes dengan jelas
mengatakan, ?Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama
dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.? Selain itu ditambahkan
?Segala sesuatu dijadikan oleh Dia? dan pada waktunya Firman itu
?telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,? KemuliaanNya
merupakan kemuliaan ?yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal
Bapa.? Yohanes pasal pertama dengan jelas menunjukan kalau Yesus
Kristus adalah Firman tersebut, dan karena itu adalah Allah. Firman
itu adalah pribadi ilahi yang menjadi daging.
Maksud gambaran pasal satu itu adalah Yesus
Kristus bukan hanya pencipta segala sesuatu tapi menyatakan Tuhan.
Kejadian mencatat cerita penciptaan; dipasal 1 perkataan adalah agen
penciptaan (?Jadilah / Let there be? adalah yehi,
suatu bentuk singkat dari nama Yahweh), dan Yohanes menjelaskan
kalau Yesus adalah Firman yang menciptakan segala sesuatu; didalam
pasal 2 Allah Yahweh membentuk manusia dari debu dan memberi nafas
kehidupan, Yohanes menegaskan kalau hal ini juga adalah Yesus
Kristus (lihat John 20:22). John 1:1-18 mengajarkan bahwa terang dan
hidup berasal dari Dia. Tapi penggunaan istilah ?Firman? juga
berbicara mengenai pewahyuan; diseluruh Alkitab Yesus Kristus
dikenal sebagai pernyataan Allah (John 1:18 menyatakan, ?Tidak
seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah,
yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya?).
Selain itu kita menambahkan perkataan rasul
Paulus dalam Kolose 1:15-20, yang berkata, ?Ia adalah gambar Allah
yang tidak kelihatan ? karena di dalam Dialah telah diciptakan
segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang
kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun
kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu
diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari
segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia ? Karena seluruh
kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.? Dan dalam sorga
perkataannya, ?"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima
puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan
segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan
diciptakan? (Rev. 4:11).
Ide bahwa Yesus Kristus merupakan gambar Allah
merupakan ide yang sepenuhnya terlibat (Col. 1:15). Sebuah image
adalah realitas yang dinyatakan, dan disini gambar Allah yang tidak
kelihatan (Yesus menegaskan dalam Yohanes 4 bahwa Allah adalah roh).
Kristus, adalah manifestasi nyata dari Tuhan yang tidak terlihat,
baik yang ada sebelum dunia ada dan setelah berinkarnasi. Hal ini
secara konsisten dijalankan, baik Perjanjian Lama atau Baru, saat
Tuhan yang tidak kelihatan menyatakan Dirinya dalam dunia dalam
suatu bentuk, itulah pribadi kedua ketuhanan yang melakukannya.
Ibrani 1:3 menambahkan Yesus adalah gambaran Allah sepenuhnya,
membawa kesan sebenarnya dari sifat ilahi. Inkarnasi adalah
pernyataan penuh, pernyataan jelas kepada semua tentang siapa Tuhan.
Bagian-bagian ?I Am?
Didalam Yohanes 8:58 Yesus menyatakan, ?Before
Abraham was, I AM (sebelum Abraham jadi, Aku telah ada).? Karena itu
mereka ingin merajamNya dengan batu?tuduhannya penghujatan. Cukup
mudah menunjukan kalau disini Yesus sedang mengklai sebagai I AM
(Aku)-nya Keluaran3, Tuhan yang menyatakan dirinya kepada Musa. ?I
am? dalam bahasa Ibraninya adalah ?ehyeh; ?He is? dalam
Ibrani adalah Yahweh. Ini adalah bukti terjelas bahwa Yesus
mengklaim sebagai Yahweh Perjanjian Lama, Yahweh yang menyatakan
diri pada umat manusia. Seluruh bagian penting yang terdapat kata ?I
AM? sejalan dengan ini --I am the way, the truth, the life; I am the
resurrection and the life; etc.
Saya telah menyebutkan bagaimana Yeremia
memprediksikan kalau Mesias akan disebut ?Tuhan keadilan kita.? Teks
lain membuat identifikasi Yahweh yang sama berkaitan dengan Yesus
sang Mesias.
Zakaria 12:10. Yahweh yang berbicara; Dia
berkata, ?"Aku akan mencurahkan ? roh pengasihan dan roh permohonan
atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan
memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia
seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan
pedih seperti orang menangisi anak sulung ? .? Yahweh akan ditikam,
dan mereka pada akhirnya akan memandang Dia. Wahyu 1:7 kelihatannya
mengambil ide ini, dalam perkataan, ?Lihatlah, Ia datang dengan
awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah
menikam Dia.?
Saya tidak perlu masuk kedalam pembahasan ini,
tapi hal ini memperkenalkan seluruh bagian-bagian mengenai mesias
yang menderita --Mazmur 22 (terutama ayat 17-- mereka menusuk tangan
dan kakiku), Yesaya 53 mengenai Pelayan yang Menderita (terutama
ayat 10 dengan penggunaan ?asham, ?reparation offering??yang
membentuk hubungan kesemua kurban-kurban Israel secara tipologis
merupakan kematian Yesus Kristus) dan banyak bagian lainnya. Lukas
24 mengajarkan kalau Yesus mampu menelusuri Perjanjian Lama dan
menunjukan bagaimana Kristus harus menderita dan memasuki
kemuliaanNya.
Mazmur 68:19. Yahweh adalah subjek dari
lagu kemenangan yang menggambarkan kemenanganNya: ?Engkau [Yahweh]
telah naik ke tempat tinggi, telah membawa tawanan-tawanan; Engkau
telah menerima persembahan-persembahan ? .? Seperti yang telah
dikenal, Efesus 4:8-10 mengutip ini sebagai rujukan pada kemenangan
Yesus melalui salib dan memberi karunia-karunia rohani kepada para
pengikutNya. Jika Yesus bukan Yahweh, penerapan ini sangat
menduga-duga.
Yesaya 48:12, 41:4, 44:6. Beberapa kali
dalam Yesaya, Yahweh menyatakan ?Akulah yang terdahulu, Akulah juga
yang terkemudian.? Ini jelas dimaksudkan sebagai penjabaran nama
ilahi Yahweh?Dia secara kekal ada. Didalam Wahyu 22:13 Yesus
menyatakan ?Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang
Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.?
Yesaya 8:13,14. Sang nabi menyatakan
?Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang
Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu
gentar. Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu
sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta
menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem ? .? Bagian ini
diterapkan kepada Yesus dalam 1 Peter 2:7-8. Tentu saja, jika itu
satu-satunya bagian, kita bisa mengatakan kalau itu adalah pinjaman
untuk bahasa kiasan. Tapi dampak kumulatif dari semua hubungan yang
diklaim Yesus menjadikannya lebih dari sekedar bahasa pinjaman.
Mazmur 102. Didalam Mazmur ini delapan
kali Yahweh disebut. Puncaknya adalah stanza yang dikutip dalam
Ibrani 1:10ff. bagi Yesus: ?Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan
langit adalah buatan tangan-Mu. Semuanya itu akan binasa, tetapi
Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti
pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka
berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak
berkesudahan.?
Yesaya 6:1-13. Pada panggilan misinya
Yesaya melihat TUHAN --Yahweh?tinggi, dengan jubahnya memenuhi bait,
dan para malaikat menyanyi ?Kudus, kudus, kudus? dan menyatakan
bahwa seluruh bumi dipenuhi kemuliaanNya. Sedikit sekali bagian
Alkitab lain yang bisa dibandingkan dengan penglihatan kemuliaan
TUHAN ini. Didalam Yohanes 12 Yesus dua kali mengutip dari Yesaya
untuk menjelaskan mengapa orang Yahudi tidak percaya kepadanya. Dia
menambahkan dalam ayat 41, ?Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia
telah melihat kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang
Dia??Yesus, TUHAN yang mulia, yang ditolak orang Yahudi. Salah satu
bagian yang dikutip adalah Yesaya 53. Menurut Yesus, Dia adalah
Yahweh, Tuhan yang Maha Tinggi, yang ditinggikan dan dimuliakan.
Maleakhi 3:1 dan Zakaria 9:9.
Bagian-bagian ini memprediksikan Raja yang akan datang, rendah,
mengendarai seekor keledai, dan akan masuk kebaitnya. Penggenapannya
adalah saat Yesus memasuki Yerusalem, ditulis dalam Matthew 21:1-14
dan John 12:12-15. Hal yang menarik adalah saat Yesus mengusir
penukar uang, dia berkata mereka telah membuat ?rumahku? menjadi
sarang pencuri. Diseluruh Perjanjian Lama bait adalah ?rumah
Yahweh.? Maka dari itu, dia menjadikan Dirinya sebagai Yahweh. Sama
seperti itu, didalam Matius 11 saat Yesus mengutip Maleakhi 3, dia
mengubah pronoun membuat dirinya setara dengan Yahweh --?he shall
prepare the way before your face? (Malachi mengatakan ?My face?).
Jika Yohanes sebagai pendahulu, maka Yesus adalah Yahweh.
Malaikat TUHAN
Saat kita membuat penelitian yang seksama
terhadap kata ?Angel of Yahweh? [petunjuk tepatnya] dalam Perjanjian
Lama, kita melihat bahwa didalam beberapa bagian Dia diidentifikasi
sebagai Yahweh (e.g., Gen. 16:7-13) dan disaat yang lain Malaikat
Yahweh adalah pribadi berbeda dari Yahweh (e.g., Zech. 1:12-13
disini Malaikat Yahweh berbicara kepada Yahweh). Wahyu lengkap dari
Kitab Suci, didalam pembahasan diatas, memberikan solusi mudah
terhadap masalah membingungkan ini ?Kristus adalah Malaikat Yahweh.
Maka dari itu, saat Malaikat Yahweh diidentifikasi sebagai Yahweh,
itu merupakan suatu pernyataan keilahianNya; saat Malaikat Yahweh
dibedakan dari Yahweh, itu merupakan pribadi berbeda didalam
Ketuhanan.
Bukti bagi asosiasi ini cukup mudah. (1) Kita
tahu dalam Perjanjian Baru pribadi kedua dari trinitas adalah Tuhan
yang terlihat. Sedangkan suara Bapa terdengar dari sorga, dan Roh
yang turun disimbolkan dengan seekor merpati, Kristus adalah
pernyataan sempurna Allah yang tidak terlihat dalam bentuk terlihat.
Logis untuk mengatakan kalau pribadi yang sama dalam Perjanjian Baru
juga memilih muncul dalam bentuk seorang Malaikat dalam Perjanjian
Lama. (2) Malaikat Yahweh tidak lagi muncul setelah inkarnasi Yesus
Kristus. Tidak satu kalipun. Logis menyimpulkan kalau dia sekarang
adalah Kristus yang berinkarnasi (dan dimuliakan). (3) Baik Malaikat
Yahweh dalam Perjanjian Lama dan Kristus dalam Perjanjian Baru
dikirim oleh Bapa. Didalam sifat tritunggal Bapalah yang mengirim
Anak dan Roh, pribadi pertama tidak pernah mengirim Diri sendiri.
Maka, pelayanan yang mirip dari Malaikat dan Kristus lebih jauh lagi
menyatukannya ?untuk menyatakan kebenaran, menyatakan Tuhan,
membimbing, menebus, dan menghakimi. (4) Malaikat Yahweh tidak bisa
Bapa atau Roh. Menurut Yohanes 1:18, ?Tidak seorang pun yang pernah
melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa,
Dialah yang menyatakan-Nya [exagasato].? Ayat ini menyatakan
bahwa hanya Kristus yang bisa terlihat oleh manusia, tidak
seorangpun bisa melihat Allah Bapa atau Roh dalam kemuliaan mereka.
Malaikat Yahweh adalah Dia yang dikirim, Dia pasti bukan Bapa,
Pribadi pertama. Malaikat Yahweh adalah Tuhan dalam bentuk tubuh,
Dia bukan Roh Kudus, yang tidak bermateri, dan pelayananNya tidak
dikarakteristikan oleh atribut fisik. Tidak ada alasan kuat mengapa
Malaikat Yahweh tidak diidentifikasikan sebagai Kristus dalam
Perjanjian Baru.
Jadi dalam bagian seperti Kejadian 32 dimana
Yakub bergumul dengan seorang ?pria? dan berkata dia telah melihat
Tuhan muka dengan muka ?itu adalah Kristus, penampakan Kristus
sebelum inkarnasi. Penampakan Tuhan Israel kepada para tua-tua
digunung dalam Kejadian 24 juga merupakan penampakan Kristus. Sama
seperti itu, kemuliaan TUHAN yang muncul kepada Musa dan menyebabkan
wajahnya bersinar adalah kemuliaan Kristus, seperti perbandingan
Paulus dalam 2 Korintus 3. Kemungkinan setiap manifestasi kelihatan
dari Tuhan dalam bentuk tubuh bisa diidentifikasikan sebagai Tuhan
Yesus dalam Perjanjian Baru (Josh. 5:13-15; Ezek. 1:1-28; Dan.
10:1-21).
Terminologi Bapa-Anak
Walau terminology ini terbatas pada Perjanjian
Baru, penting untuk mengklarifikasi karena sebutan ?anak? muncul
dalam liturgy kerajaan terhadap Mesias, dan sebutan Raja Agung dalam
Yesaya.
Ekspresi yang perlu disebutkan ada dalam kitab
Yohanes, ?Anak tunggal.? Ini berbeda dari sebutan Mazmur 2 yang
menggambarkan Raja sebagai ?anak? Allah melalui adopsi/penobatan,
dan Kristus melalui kebangkitan dari antara orang mati. Sebuah ?monogeneis?
adalah sebuah istilah yang menggambarkan esensi nature Yesus yang
ilahi dan kekal, dan karena itu pasti sebuah bahasa kiasan, seperti
ditegaskan pengakuan iman, ?begotten, not made.? Kata kerja ?beget?
sangat berbeda dari ?make? atau ?create.? Kita hanya bisa mendapat
anak dengan nature kita sendiri. Jadi menggambarkan Yesus berasal
dari Tuhan sama dengan mengatakan Dia memiliki nature yang sama
seperti Bapa?kekal, ilahi, kudus, maha hadir, dll. Dia adalah Tuhan.
Anda dan saya milik Allah melalui adopsi, dan kita menerima nature
Allah melalui Roh oleh anugrah. Tapi Yesus berbeda?Dia unik,
?satu-satunya? dari Bapa. Penggambaran ini merujuk pada keilahianNya
sebagai Tuhan, dan sejalan dengan wahyu Tuhan diseluruh Perjanjian
Lama.
Hubungan khusus pribadi pertama dan kedua dari
trinitas dipertahankan oleh penggunaan bahasa Bapa dan Anak secara
terus menerus. Didalam doa Yesus membuat perbedaan ini: Dia merujuk
Tuhan sebagai ?BapaKu?; Dia mengajar kita berdoa kepada Tuhan
sebagai ?Bapa Kami.?
Pengamatan Akhir
Ada banyak bagian lain yang perlu dipelajari
mengenai tema ini, seperti sifat mujizat Yesus, kuasa mengampuni
dosa, kemenangan keturunan wanita pada waktunya, nubuat kebangkitan
?Dia yang Kudus?, dan lainnya. Tapi menurut saya sudah cukup bukti
bahwa Perjanjian Lama memulai menyatakan kebenaran yang kemudian
ditegaskan Perjanjian Baru, bahwa Yesus Kristus adalah Yahweh dalam
Perjanjian Lama, saat Yahweh menyatakan Ketuhanan dengan wahyu
melalui penglihatan dan penampakan, atau saat Yahweh menciptakan,
menebus atau menghakimi dunia.
Bagi saya sangat mengejutkan kalau dimasa ini,
perenungan Kristen terhadap pribadi kedua telah surut kelatar
belakang. Saya tidak cemas dengan radikal teologi yang mencari
banyak allah, atau dewi, tapi mengenai Kekristenan yang tetap
mencemaskan. Teologi liberal lebih ingin berbicara mengenai ?Tuhan?
atau ?Allah Semesta Alam??mungkin Bapa, karena bisa mengabaikan
masalah tentang Yesus dan klaim keilahianNya. Orang Kristen
konservatif didalam pembaharuan atau tradisi karismatik, berusaha
menghidupkan gereja, seringkali memberi penekanan besar pada Roh
Kudus. Ini boleh saja kecuali mengambil kemuliaan Kristus, yang
harusnya diutamakan. Yesus sendiri berkata bahwa Roh Tuhan tidak
akan berbicara mengenai Dirinya, tapi mengenai Kristus. Pelayanan
sah dari Roh Kudus adalah meninggikan Yesus Kristus sebagai Tuhan.
Sehingga kesaksian Alkitab, warisan sejarah Kekristenan, dan
pelayanan Roh, semuanya berpusat pada Kristus. Tidak ada nama lain
dibawah langit dimana manusia bisa diselamatkan. Pada akhir zaman
setiap lutut akan bertelud kepada Yesus Kristus, dan mengakui kalau
Dia adalah Tuhan. Seharusnya tidak heran, kalau dari Kejadian sampai
Wahyu Anak Allah aktif, menyatakan Tuhan yang tak terlihat dan
menyelesaikan karya penebusan.
Didalam eksegesis Perjanjian Lama ini, kita
harus bekerja dengan batasan-batasan dari pewahyuan yang progresif.
Tapi sebagai teolog Kristen, kita harus menghubungkan teologi kita
dengan seluruh Alkitab. Dan jika seluruh Alkitab berfokus pada fakta
bahwa Yahweh merupakan pribadi kedua dari tritunggal, maka eksposisi
kita memimpin pada pemuliaan dan peninggian Yesus, Kristus, Anak
Allah yang kekal.