Pelajaran Kritik Teks
By:
Allen Ross , Th.D., Ph.D.
Pendahuluan
Ada beberapa aspek eksegesis yang lebih rumit
daripada melakukan kritik teks. Ini merupakan disiplin yang
mengharuskan eksegetor menguasai bahasa, tapi seluruh informasi
mengenai manuskrip dan ragam versinya serta kecenderungan juru tulis.
Hal ini juga berasumsi kalau kritik tekstual akan lebih biasa dalam
Alkitab, terutama karakteristik tulisan dan kecenderungan setiap
penulis. Sebagian besar mahasiswa seminari tidak cukup dipersiapkan
untuk pekerjaan ini. Mereka bisa saja, tapi kurikula dalam institusi
tersebut telah berayun dari disiplin alkitabiah dan teologis kepada
penekanan profesi. Tekanan tambahan itu baik, dan mungkin diperlukan
?tapi tidak dengan mengorbankan disiplin tradisional.
Didalam tulisannya yang berjudul ?The Textual
Criticism of the Old Testament,? Harry Orlinsky menulis:
Beberapa decade yang lalu kita melihat penelitian
Perjanjian Lama berkembang dibawah pengaruh penemuan arkeologi.
Wilayah yang disebut dalam Alkitab, Irak, Siriah, Libanon, Palestina
dan Mesir, saat mereka dibawah kontrol Inggris dan Prancis, menjadi
tempat subur penemuan dengan penggalian di Fertile Crescent. Dan
walaupun struktur ekonomi dan social beragam bagian di Timur Dekat ?seperti
kekuasaan Eropa ?mulai berubah ditahun duapuluhan, tigapuluhan, dan
empatpuluhan, dan Inggris serta Prancis mulai tergantikan oleh
kekuasaan Amerika dan Soviet, dan pengelompokan politik baru seperti
Republik Arab, Kerajaan Hashemite di Yordan, dan Israel sedang
terbentuk, dengan akhir yang belum terlihat, pekerjaan arkeologis
tetap berlangsung ?lebih banyak di Israel daripada Transjordan dan
Iraq?untuk memuaskan para sarjana Alkitab, atau keinginan para ahli
dibidang arkeologi Alkitab.
Pada saat yang sama, trend baru mulai terasa dalam
pendidikan tinggi dikedua sisi Laut Atlantik: ilmu kemanusiaan dan
social mulai memberi jalan bagi ilmu terapan. Kurikula dari sekolah
pada umumnya semakin merampas tata bahasa Latin dan Yunani ?menjadi
bayang saat sekolah publik sering disebut sekolah Latin atau sekolah
tata bahasa!
Konsekuensi kritik tekstual terhadap Perjanjian
Lama cepat terasa. Disini, disatu sisi, dokumen tertulis dan tidak
yang dibongkar oleh arkeologi menarik perhatian pelajar tentang
dunia dimasa Kitab Suci ditulis; dan, disisi lain, pelajar dibidang
penelitian yang sama menemukan diri mereka semakin tidak bisa
menangani kritik tekstual dari Alkitab Ibrani, karena mereka masuk
dan keluar dari seminari dan departemen Semitik mereka dengan
pengetahuan bahasa Ibrani, Aramik, dan Latin bukan dari sumber
langsung disbanding pelajar dimasa sebelumnya. Kita telah jauh
berbeda disbanding saat Ezra Stiles, president dari Yale University,
mengajar mahasiswa baru dan kelas bahasa Ibrani, ditahun 1781 dalam
bahasa Ibrani. (in The Bible and the Ancient Near East, ed.
By G. Ernest Wright [Doubleday, 1965]).
Pada tahun-tahun setelah Orlinsky menulis
artikel ini, hal-hal tersebut tidak menjadi lebih baik; faktanya,
pelajaran Teologi dan Alkitab secara umum telah dikurangi. Sebagai
hasilnya, pelayan dan pendidik lain dimasa kini lebih dari
sebelumnya, harus memberi keputusan penting mengenai terjemahan,
penafsiran Alkitab, dan keputusan besar tentang teologi dan etika,
semua dengan pelatihan formal yang kurang untuk melakukannya. Hal
yang dilakukan dalam seminari dan program sarjana adalah menawarkan
suatu survey tentang disiplin melakukan kritik tekstual jika
seseorang ingin mempelajarinya. Tapi pelajar seminari memerlukan
survey ini, agar mereka lebih hati-hati dalam melakukan pekerjaan
eksegetisnya. Karena terlatih atau tidak, mereka harus
menghadapinya.
Perkenalan pertama pelajar terhadap kritik
tekstual Perjanjian Lama biasanya gagal karena jumlah informasi yang
diperlukan untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Ada banyak sekali
tulisan mengenai ragam teks dan tipe teks Perjanjian Lama, ragam
versi Perjanjian Lama, dan teori kritik mengenainya. Buku kecilnya
Ernst Wurthwein, The Text of the Old Testament (Grand Rapids:
Wm. B. Eerdmans, 1979), memberikan perkenalan yang baik terhadap
seluruh materi ini. Walaupun begitu, hanya suatu survey umum. Tapi
cukup dalam seminari, karena tujuan mempelajari disiplin ini bukan
untuk membuat pelajarnya kedalam suatu kritik tekstual, tapi membuat
mereka sadar akan teks dari Alkitab?bagaimana itu ditulis, bagaimana
disimpan, seberapa bisa diandalkan, dan bagaimana menyelesaikan
kesulitan tekstual.
Menyelesaikan masalah tekstual paling
membutuhkan pelatihan. Hal itu membutuhkan pengetahuan yang baik
akan bahasa dan bukti manuskripnya ?variasi yang ada. Hal itu
membutuhkan kemampuan membaca apparatus dicatatan kaki Alkitab
Ibrani dan mengevaluasi bacaannya sesuai dengan kanon dari kritik
teks. Disini anda hanya sedikit mempraktekannya, cukup untuk
menyadarkan anda akan proses menyelesaikan sebuah masalah tekstual,
sehingga saat anda membaca versi yang berbeda atau tafsiran yang
berbeda anda bisa mengevaluasi sebagian hal yang mereka katakan.
Ekspositor modern tidak bisa mengabaikan masalah
ini ?kecuali ?ekspositor? itu (jika bisa memakai istilah ini)
berencana mengabaikan Alkitab. Perbedaan versi Alkitab dalam bahasa
Inggris membuat anda perlu mengatakan bahwa ada hal yang signifikan
yang berubah dalam pembacaannya. Lebih dari itu, tafsiran modern
sering mengubah teks dalam pembahasan mereka. Anda harus menentukan
apakah itu diijinkan, atau seperti juru tulis dimasa lalu mereka
hanyalah pilihan untuk pembacaan yang lebih mudah bagi penafsir. Hal
ini, mendasar bagi seluruh disiplin dalam mempelajari Alkitab dan
teologi.
Tugas dari kritik tekstual yang sebenarnya,
adalah membuka, mengidentifikasi, atau memulihkan teks asli dari
Alkitab. Hal ini disebut ?Lower Criticism.? ?Higher Criticism?
berurusan dengan menentukan penulis, waktu, tujuan, dan integritas
dari kitab-kitab dalam Alkitab, yang cukup beragam. ?Kritik
Tekstual? berurusan dengan manuskrip dan versi Alkitab, dan bukan,
seperti yang dipikir sebagian orang dimasa ini, dengan metode
penafsiran. Bacaan bibliografi dibawah ini sangat berguna bagi yang
ingin mempelajarinya lebih lanjut.
Tapi harus diulangi?tujuan kita adalah mensurvey
informasi mengenai manuskrip, versi, dan aktifitas juru tulis, dan
juga metode dalam melakukan kritik tekstual, sehingga anda bisa
memiliki pengertian yang lebih baik akan Kitab Suci dan bagaimana
mereka telah disimpan dan diterjemahkan.
Bibliografi Terpilih
Ap-Thomas, D. R. A Primer of Old
Testament Textual Criticism. Oxford: Basil Blackwell, 1965.
Cross, F. M. and Talmon, S. Qumran and
the History of the Biblical Text. Cambridge: Harvard University
Press, 1975.
Jellicoe, S. The Septuagint and Modern
Study. New York: Oxford University Press, 1968.
Klein, R. W. Textual Criticism of the Old
Testament. Philadelphia: Fortress Press, 1974.
Orlinsky, Harry M. ?The Textual Criticism of
the Old Testament,? in The Bible and the Ancient Near East,
edited by G. Ernest Wright. Garden City: Doubleday, 1965. Pp.
140-169.
Roberts, B. J. The Old Testament Text and
the Versions: The Hebrew Text in Transmission and the History of the
Ancient Versions. Cardiff: University of Wales press, 1951.
________. ?The Textual Transmission of the
Old Testament,? in Tradition and Interpretation, edited by G.
W. Anderson. London: Oxford University Press, 1979. Pp. 1-30.
Thompson, J. A. ?Textual Criticism,? in
Interpreter?s Dictionary of the Bible, Supplement. Pp. 886-891.
Waltke, Bruce K. ?The Textual Criticism of
the Old Testament,? in Biblical Criticism: Historical, Literary
and Textual, edited by R. K. Harrison, et. al. Grand Rapids:
Zondervan, 1978. Pp. 47-78.
Weingreen, J. Introduction to the
Critical Study of the Text of the Hebrew Bible. New York: Oxford
University Press, 1982.
Sejarah dan Karakter Sumber
Manuskrip Ibrani
Bukti manuskrip bagi teks Ibrani cukup lama,
tapi sangat baik tersimpan. Sebelum 400 B.C. tidak ada manuscript
(MS) dari Alkitab Ibrani, sehingga kita hanya bisa melihat praktek
juru tulis dari Alkitab itu sendiri dan praktek Timur Dekat kuno
lainnya. Hal yang bisa ditunjukan adalah para juru tulis memiliki
determinasi untuk menyimpan teks tersebut. Teks selamat melalui
berbagai bencana dan kehancuran karena kitab-kitab itu dianggap
keramat dan para juru tulis sangat memperhatikan keakuratannya. Ada
suatu ?psychology of canonicity? yang memelihara suatu perhatian
untuk memelihara tulisan-tulisan keramat. Untuk pelajaran mengenai
perlakuan juru tulis lain di dunia kuno, lihat W. F. Albright,
From the Stone Age to Christianity, pp. 78-79; and K. A.
Kitchen, Ancient Orient and Old Testament, p. 140.
Tapi terdapat juga kecenderungan dalam sebagian
lingkaran juru tulis untuk merevisi teks. Mereka mengubah teks dan
orthography sesuai dengan aturan penulisan; mereka juga mengubah
bentuk linguistiknya. Kita tahu sedikit mengenai bagaimana
vokalisasi Ibraninya diubah dan mengerti perubahan seperti itu.
Lebih dari itu, para imam kelihatannya memiliki bagian teks sinoptik
yang telah direvisi dalam pengajaran mereka (bandingkan Ps. 18 dan 1
Sam. 22 dalam Ibrani). Hal terpenting adalah, terdapat kesalahan
tidak disengaja seperti dittography, haplography, dan lainnya.
Sejak 400 B.C. sampai masa standarisasi teks
Ibrani ditahun 70 A.D., kecenderungan yang sama berlanjut. Kehadiran
tipe teks diantara teks Dead Sea Scrolls (DSS; ca. 200 B.C. to 100
A.D.) identik dengan yang disimpan oleh pada Masoretes (yang
keberadaan terawal MS sampai ca. 900 A.D.) menjadi saksi kesetiaan
dalam penyimpanan teks. Kita bisa belajar sesuatu mengenai proses
penyimpanan ini dari tradisi Rabinis (Talmud, Nedarim
37b-38a).
Tapi ada juga kecenderungan diantara para juru
tulis untuk merevisi. Sopherim (?juru tulis?) merupakan ?perevisi
resmi teks? menurut C. D. Ginsberg (dalam tulisannya Introduction
to the Masoretico-Critico Edition of the Hebrew Bible [New York:
KTAV, 1966], p. 307). Setelah kembali dari pembuangan para juru
tulis mengubah tulisan dari bentuk lama ke bentuk penulisan Aramik.
Tapi yang lebih penting, beberapa juru tulis yang lebih liberal
mengubah teks atas alasan philologis dan teologis. Mereka
memodernisasi teks dengan menggantikan bentuk archaic dan
konstruksinya, mereka memperhalus kesulitan kita, mereka menambah
teks dengan tambahan-tambahan dan glosari dari bagian paralelnya,
dan mereka menggantikan eufemisme dengan vulgatitas, mengubah
nama-nama ilah palsu, dan menjaga nama ilahi dengan mengganti huruf
hidup dari bentuk lain.
Hasil dari seluruh kecenderungan ini adalah
munculnya tiga turunan Alkitab yang berbeda: teks yang disimpan oleh
para Masoretes (the textus receptus), Samaritan Pentateuch
(SP), dan Septuagint (LXX)?ketiganya dikuatkan oleh DSS.
Gesenius menunjukan kalau persetujuan antara SP
dan LXX bisa dijelaskan dengan asumsi asal yang sama. Ini telah
dikonfirmasi oleh karya Cross terhadap Samuel, dan Gerleman terhadap
Chronicles (Cross, Ancient Library of Qumran, p. 142;
Gerleman, ?Synoptic Studies in the Old Testament,? Lunds
Universitets Arsskrift, p. 9). Asal yang sama mungkin terjadi di
Palestina dimasa Tawarik (400 B.C.). Semua ?old Palestinian
recension? ini dibawa ke Mesir selama abad kelima B.C. dan lebih
jauh divulgarisasi sebelum menjadi dasar bagi LXX (ca. 300 B.C.).
Tulisan selamat di Palestina dan menjadi dasar bagi SP.16
Mungkin ?old Babylonian recension? (deskripsi
Cross kalau teks Masoret yang digunakan) diperkenalkan kembali di
Palestina dimasa para Makabe (ca. 160 B.C.). Hal yang jelas adalah
dimasa Injil ada suatu keadaan yang mendukung hal ini di Palestina.
Ini bisa terlihat dalam penggunaan Perjanjian Lama dalam Perjanjian
Baru, tulisan rabinis, dan kitab-kitab apokrifa.
Kesaksian Rabinis adalah terdapat suatu gerakan
menjauh dari pluralitas turunan ke suatu standarisasi teks Ibrani.
Aturan dari hermeneutic alkitabiah, disusun oleh Hillel the Elder,
menuntut sebuah sacrosanct text. Bukti merujuk pada keberadaan suatu
teks resmi dengan otoritas mengikat dari masa setelah kehancuran
bait ditahun 70 A.D. Tafsiran Eksegetis dan prinsip hermeneutis
digemakan oleh Zechariah ben ha-Kazzav, Nahum of Gimzo, Rabbi Akiva,
and Rabbi Ishmael, semua menginginkan suatu teks yang distabilkan,
tipe teks Masoretik. Para Rabi telah menetapkan hal ini pada turunan
konservatif dan mengadopsikannya bagi Yudaism (konservatif dalam
arti kurang ada perubahan dan disimpan dari hal yang sulit dan tidak
biasa).
Karya dari para juru tulis sekarang berubah dari
mengklarifikasi teks kepada menstandarisasi dan memelihara teks,
walaupun dengan banyaknya bentuk archaic dan sulit didalamnya.
Karena para juru tulis berusaha memelihara teks, tidak ada
perkembangan lanjutan penting yang terjadi.
Pekerjaan memelihara teks merupakan kepentingan
sekolah keluarga dari para sarjana Yahudi. Mereka mewakili secara
simbolis huruf hidup dan liturgical cantillations dengan tanda
diacritical. Mereka dikenal sebagai ?Masoretes? (Ibraninya masar
berarti ?to hand down? melalui tradisi); tradisi mereka disebut
?Masorah?; dan teks yang mereka simpan dan vocalized disebut
?Masoretic Text.? Pekerjaan dari keluarga Ben Asher dari sekolah
Tiberias (sebuah kota dipantai barat Galilea) menonjol dengan
dukungan diabad sebelas.
Untuk ringkasan sejarah pencetakan Alkitab
Ibrani, lihat N. H. Sarna, ?Bible: Text,? in Encyclopedia Judaica
4 (1971):831-35.
Versi-versi Kuno
Septuagint. Wurthwein memberikan
perkenalan dasar terhadap Perjanjian Lama Yunani. Mengenai garis
besarnya saya ingin menambahkan beberapa latar belakang dari sumber
lainnya. Secara umum, kita bisa mengatakan kalau Taurat atau Hukum
diterjemahkan kedalam bahasa Yunani diantara tahun 295--247 B.C.,
Para Nabi diterjemahkan sebelum akhir abad ketiga B.C., dan
Hagiagrapha ditahun 132 B.C.
Lagarde berpendapat, cukup meyakinkan, bahwa
seluruh manuskrip yang ada dari terjemahan Yunani Kuno berasal dari
tiga turunan yang disebutkan oleh Jerome, yaitu, Egyptian oleh
Hesychius, Palestinian oleh Origen, dan Syrian oleh Lucien.
Ketiganya berasal dari versi Yunani yang asli.
Dua edisi modern dari bahasa Yunani didasarkan
pada teori dan model Lagarde. Cambridge Septuagint, berisi
kitab-kitab Pentateuch dan sejarah, disebut Vaticanus (Codex B)
karena itu yang termurni. Jurang diisi dengan Alexandrinus dan
Sinaiaticus. Didalamnya berisi begitu banyak apparatus Yunani yang
penting. Cambridge Septuagint disimpan dalam sebuah Perjanjian Lama
Inggris-Yunani (Zondervan) yang dilihat sebagai penghematan waktu.
Edisi lain, Rahlf, adalah Gottingen LXX; ini merupakan sebuah
masalah penting, tapi biasanya kembali ke B. Edisi itu tidak
memiliki Pentateuch dan sejarah. Edisi Rahlf menutupi bagian ini.
Turunan dari Septuagint. Waltke
meringkas masalah ini:
Dari penelitiannya terhadap kitab Samuel?Raja-raja,
Cross menyimpulkan kalau LXX yang asli telah direvisi kira-kira abad
pertama B.C. terahdap suatu teks Ibrani yang ditemukan dalam
Tawarik, beberapa MSS Qumran, kutipan-kutipan dari Josephus, Greek
minuscles boc2e2, dan dalam kolom
keenam dari Hexaplanya Origen, yang tidak hanya Theodotionic tapi
juga Proto-Lucianic. Turunan Proto-Lucianic ini kemudian direvisi ke
revisi kai ge melihat pada Proto-Masoretic Text. Revisi
ketiga terjadi diabad kedua A.D. oleh Aq. (Aquila) dan Sym.
(Symmachus), yang merevisi turunan kai ge terhadap Rabbinic
Masoretic Text. Barthelemy, sebaliknya, berpendapat bahwa teks
Proto-Lucianic ini merupakan LXX yang asli, dan ditunjukan hanya dua
revisi berturutan. Tapi G. Howard berpendapat kalau keduanya
kekurangan bukti definitif.
Waltke menunjukan bahwa bukti dalam kitab
nabi-nabi kecil semakin menunjukan suatu revisi terhadap Yunani kuno
kepada Proto-MT. Dari situ berasal turunan diabad kedua A.D. Aquila,
murid dari Aqiba, membuat sebuah terjemahan literal agar sesuai
dengan prinsip-prinsip eksegetisnya. Symmachus lebih mengusahakan
idiom Yunani. Versi Theodotion mendahului terjemahan asli dalam
edisinya LXX.
Diabad ketiga dan keempat A.D., turunan dari
Hesychius, Origen, dan Lucian muncul. Kolom kelima Hexaplanya Origen
berpengaruh pada salinan lanjutan dari LXX. Itu merupakan suatu teks
yang secara konsisten dikoreksi dari Ibraninya textus receptus
karena itu yang paling rusak.
Waltke menyimpulkan, ?Melihat sejarah ini,
Lagarde dengan benar mengatakan bahwa, hal lain setara, pembacaan
Yunani yang menyimpang dari MT seharusnya dianggap sebagai LXX yang
asli.?
Aramik Targums. Terjemahan
Perjanjian Lama Aramik kurang menologn bagi kritik tekstual. Mereka
distandarisasi setelahnya dalam sejarah, tapi yang lebih penting
mereka bersifat paraphrastic, berisi materi haggadic,
modernisasi nama-nama, penjelasan bahasa kiasan, dll. Beberapa
materi Targum bisa membantu mengerti tafsiran resmi dalam Sinagoge.
Hal ini memiliki beberapa tanggungan pada kesulitan tekstual. Untuk
pembahasan mengenai Targum, lihat perkenalan umumnya Wurthwein.
Latin Kuno dan Vulgata. Latin Kuno
mungkin merupakan terjemahan Yahudi yang didasarkan pada LXX.
Buktinya tidak sepenuhnya didasarkan pada manuskrip lengkapnya, tapi
dari manuskrip yang mengisi suatu teks pre-Vulgate, kutipan-kutipan
Bapa-bapa, dan annotasi marginal dalam Vulgata.
Vulgata Latin diperintahkan oleh Pope Damasus
kepada Jerome (345-420). Jerome mencoba beberapa pendekatan dalam
merevisi teks Latin, dan akhirnya mengerjakan sebuah terjemahan dari
teks Ibrani. Terjemahan Mazmurnya dalam Vulgata (yang disebut
Gallican Psalter) pada intinya diambil dari Hexapla.
Kemudian, dibawah pengaruh para sarjana Yahudi
di Bethlehem, Jerome menghasilkan sebuah terjemahan Mazmur kedalam
bahasa Latin yang didasarkan pada Teks Ibrani, disebut Psalterium
iuxta hebraeos hieronymi, PIH.
Syriac Peshitta. Ini merupakan
terjemahan yang dimulai di Edessa, dimulai pada abad pertama A.D.
untuk Pentateuch, dan diselesaikan diakhir abad keempat. Terjemahan
ini kelihatannya mengikuti Ibraninya secara ketat, tapi bisa juga
diterjemahkan dari LXX. Pentateuch, Yesaya, Nabi-nabi Kecil, dan
sebagian dari Mazmur, menunjukan pengaruh dari LXX. Yehezkiel dan
Amsal lebih dekat ke Targum. Ayub secara literal. Ruth bersifat
midrashic. Tawarik sebagiannya midrashic.
Pembagian Syrian Christian kedalam Nestorians
dan Jacobites menunjukan versi terpisah dari Peshitta (?simple?)
didasarkan pada terjemahan sebelumnya.
Kecenderungan Para Juru Tulis
Selain pengetahuan mengenai sejarah dan
perkembangan teks dan versi, kritik teks harus menyadari berbagai
perubahan yang dibuat dalam manuskrip jika ingin mengevaluasi
masalah. Garis besar berikut ini akan membiasakan pembaca dengan
kecenderungan juru tulis, tapi tidak memberikan suatu pembahasan
menyeluruh. Mengenai pembahasan mendetil, lihat bibliografi,
terutama Klein, pp. 76-82, disitu contoh-contohnya dibahas.
Perubahan Tak Disengaja
1. Kebingungan terhadap surat-surat yang
mirip. Ada saatnya sebuah kesulitan tekstual muncul karena
seorang juru tulis membingungkan surat dalam pembacaan.17
Perhatikan perbedaan dalam I Samuel 14:47:
MT: ?He pronounced (them) wicked? ( y r sh y ?
)
LXX: ?He was victorious? (y w sh ? --
reading a w for an r )
2. Kebingungan terhadap kata-kata yang
terdengar mirip. Juru tulis mungkin tidak mendengar
pengucapan kata itu secara tepat dan menganggapnya kata lain. I
Samuel 28:2 menunjukan perubahan seperti itu:
MT: ?you? (?attah)
LXX: ?now? (apparently reading ?attah)
3. Penghapusan karena memiliki akhir yang
mirip (homoeoteleuton). Mata juru tulis mungkin melewatkan
satu akhiran atau satu kata atau satu kalimat dengan lanjutannya
yang mirip, meninggalkan materi yang menghalangi. Perhatikan
bagaimana hal ini terjadi dalam MT dari I Samuel 13:15:
MT: ?And Samuel arose and set out from Gilgal to
Gibeah of Benjamin?
LXX: ?And Samuel arose and set out from Gilgal--
and went on his way; but the rest of the people went up after Saul
to meet the soldiers. Then they came from Gilgal--to Gibeah of
Benjamin.?
4. Penghapusan karena suatu awal yang
mirip (homoeoarchton). Ini merupakan bentuk kesalahan
yang sama seperti yang terakhir, walaupun tidak terlalu sering
terjadi. Mata juru tulis mungkin melewatkan satu awalan
kelanjutannya, meninggalkan materi yang menghalangi.
5. Haplography atau tulisan tunggal.
Ini merujuk pada tulisan tunggal dari dua surat atau kata yang
muncul bersamaan, tapi juga pada penghapusan tak disengaja terhadap
huruf atau kata. I Samuel 17:46 memiliki masalah ini:
LXX: ?I will leave your corpses and the corpses
of the Philistine army? (the words apparently coming from consonants
p g r k)
MT For the words in italics the MT only has one
p g r.
6. Dittography atau tulisan ganda.
Ada saatnya juru tulis bisa menyalin lagi beberapa kata yang telah
diselesaikannya. Contoh yang baik datang dari teksnya II Samuel
6:3-4:
?And they made the ark of God ride on a new cart,
and they took it away from the house of Abinadab which is on the
hill. Uzzah and Ahio, sons of Abinadab, guided the--new cart, and
they took it away from the house of Abinadab which is on the hill.?
Inilah dittography yang didukung oleh 4QSama
dan LXX.
7. Divisi kata yang tidak tepat.
Kesulitan ini lebih umum dalam manuskrip Yunani daripada Ibrani
karena penspasian. Contoh berikut ini, tergantung pada melihat huruf
h sebagai sebuah suffix atau sebuah article.
MT: ?And he built the city? (I Chron. 11:8 [w y
b n h ? y r])
LXX: ?And he built it a city? (II Sam. 5:9 [ w y
b n h ? y r])
8. Pemberian huruf hidup yang tidak tepat.
Huruf hidup menulis pengucapan tradisional, tapi ada saatnya hal ini
terlewatkan, apakah oleh para penerjemah Yunani yang bekerja dari
sebuah manuskrip tanpa titik huruf hidup sama sekali, atau para
Masoret yang salah dalam hal ini. Mazmur 130:4 memiliki masalah ini:
MT: ?there is forgiveness that you might be feared?
(tiwware?)
LXX: ?law? (penerjemah melihat konsonan dan
berasumsi itu merupakan kata benda umum t w r ? [tora],
bukannya sebuah kata kerja tak beraturan yang sangat jarang, yang
mungkin tidak dia ketahui).
9. Transposisi kata atau huruf
(metathesis). Para juru tulis terkadang terbalik dalam
meletakan huruf, mengubah artinya, seperti dalam I Samuel 17:39):
MT: ?and he endeavored unsuccessfully? ( w y ? l
)?sebuah pembacaan yang aneh!
LXX: ?and he exerted himself? (kelihatannya membaca
w y l ? )
10. Substitusi sinonim. Ingatan
juru tulis bisa saja secara tidak sengaja salah saat dia meletakan
sebuah kata yang mirip atau lebih umum dengan yang tepat. I Samuel
10:25:
MT: ?each man to his home?
LXX: ?each man to his place? (juga dalam 4QSama)
11. Asimilasi pengkalimatan dalam satu
bagian kepada pengkalimatan yang agak berbeda dalam konteks atau
dalam sebuah bagian paralel. I Samuel 12:15:
MT: ?the hand of Yahweh will be against you and
your fathers.?
PembacaanT ?fathers? itu sulit. LXXL
menulis ?your king.? S. R. Driver mengusulkan kalau seringnya
penggunaan kata ?fathers? dalam ayat 6-8 bisa mengarah pada
perubahan tak disengaja. Dalam bentuk masalah ini eksegetor
seharusnya waspada terhadap pola yang sering digunakan dan stylistic
devices dalam kontekst.
12. Salah masuknya komentar marjinal
kedalam teks. S. Talmon (in Textus 4 [1964]:118)
telah mengilustrasikan hal ini dengan Isaiah 24:4:
MT: ?the heights with the land (mourn)?
1QIsa ?the heights of the land (mourn)?
Talmon menunjukan kalau baris diatas dalam
gulungan Qumran seorang juru tulis menulis kata ?m (if
pointed ?am, then ?people?). Dia menganggap ini merupakan
bagian dari suatu bentuk alternatif baris itu: ?the people of the
land (mourn).? Pada salinan berikutnya, kata diantara baris
dimasukan kedalam teks dimana dia dianggap sebagai preposition ?m
(pointed ?im), ?with,? menimbulkan pembacaan aneh dalam MT.
Perubahan yang Disengaja
Ada juru tulis yang merasa perlu mengoreksi apa
yang menurut mereka sebagai kesalahan dalam teks. Juru tulis yang
paling bisa diandalkan berusaha menjaga teks walaupun mereka
menganggap ada bentuk archaic atau tidak tepat ?tapi sebagian tidak
begitu dalam pekerjaannya.
1. Perubahan dalam spelling atau tata
bahasa. Juru tulis yang merasa bebas untuk mengubah teks
cenderung memuluskan pembacaan, sebagai contoh, membuat kata
kerjanya secara tata bahasa sejalan dengan subjek mereka. Beberapa
tambahan kecil juga diberikan untuk membuat suatu pembacaan yang
lebih jelas dan lebih baik. Terjemahan modern sering melakukan hal
ini, biasanya menempatkan tambahan dalam huruf miring, tapi tidak
selalu.
2. Harmoniasasi. Para juru tulis
bisa menambah pada teks untuk mengharmoniskan baris dengan indikasi
lain dalam konteks. I Samuel 20:5 bisa merupakan contoh yang baik;
konteks dari ayat 34-35 mengatakan mengenai Daud bersembunyi selama
tiga hari.
MT: ?Let me hide in the open country until the
third evening.?
LXX: ?Let me hide in the country until evening.?
3. Kebingungan ragam bacaan.
Seorang juru tulis bisa memasukan kedua varian tanpa kesadaran hanya
satu yang asli. Dalam ayat berikut ini, Yehezkiel 1:20, kata yang
diitalic terlewatkan dalam beberapa manuskrip Ibrani, LXX, dan
Syriac.
MT: ?Wherever the spirit wanted to go, they went,
wherever the spirit wanted to go, and the wheels rose along
with them.?
4. Pengisian nama dan epithets.
Ada banyak yang memilih terlibat dalam masalah tekstual tentang nama
dalam Perjanjian Lama. Para juru tulis cenderung memberi pengucapan
penuh dari nama, yang seringkali membawa pada pembacaan yang
membingungkan. Contoh berikut dari II Samuel 3:3a merupakan salah
satu yang rumit:
MT: ?Chileab of Abigail ( k l ? b l ? b y g l
) the widow of Nabal the Carmelite?
LXX: ?Dalouia the son of Abigaia the Carmelitess?
Bukti lain mengenai masalah ini sebagai
berikut: I Chronicles 3:1 menuliskan nama itu dengan D n y ? l
(?Daniel?); Vulgata Latin menulis ?Cheloab?; Syriac Peshitta menulis
?Chelab?; Josephus menulis ?Danielos?; dan DSS 4Q menulis d l w y
h demikian juga dengan LXX.
Apakah anak laki-laki itu memiliki dua nama,
atau terdapat kebingungan melalui dittography. Kita bisa menempatkan
sebuah nama asli ?Daniel? (laynd) seperti yang ditempatkan dalam I
Chronicles 3:1. Maka, melalui dittography d / l ? b masuk
kedalam teks dan n y ? l dikeluarkan atau digantikan
oleh tulisan berulang. Ini bisa menjelaskan nama ?Dalouia? dalam LXX
dan Qumran. Maka, d dalam d l ? b berubah ke k
mungkin saat huruf-huruf itu ditulis dengan mirip dimasa Hasmonean.
Hal ini merujuk pada pembacaan Chileab dalam MT.
5. Memberi subjek dan objek. Saat
teks aslinya gagal menyebut dengan jelas subjek atau objek, para
juru tulis cenderung menjelaskannya bagi pembaca. Wellhausen
membentuk aturan ?jika LXX dan MT berbeda subjeknya, kemungkinan
teks aslinya tidak memiliki keduanya? (lihatDriver, Notes on the
Hebrew Text, p. lxii).
6. Ekspansi dari bagian paralelnya.
Ada saatnya juru tulis terbiasa dengan bagian-bagian lain dan ini
membuat dia menambahkan teksnya dari bagian paralel yang sudah
dikenalnya.
7. Penyingkiran ekspresi yang sulit.
Bagian ini berkaitan dengan masalah sejarah, geografi, atau teologi
yang bagi juru tulis terlihat tidak tepat atau ofensif. Salah satu
contoh adalah Job 1:5, 11 dan 2:5, 9, disana ekspresi ?curse God?
adalah asli. Ekspresinya ofensi, dan diubah kedalam euphemism ?bless
God??walaupun para juru tulis mengetahuinya sebagai ?curse God.?
8. Penggantian kata-kata yang jarang
dengan yang lebih umum. Juru tulis mungkin memiliki suatu
kecenderungan untuk menggunakan istilah yang lebih dikenal dalam
salinan. Yesaya 39:1 kelihatannya menunjukan kasus ini:
MT: ?[Hezekiah] became well? ( w y kh z q )
1QIsa ?[Hezekiah] became well? ( w y
kh y h )
Contoh ini memberikan survey singkat mengenai
kecenderungan juru tulis dalam menyalin dan menerjemahkan manuskrip.
Seleksi contoh tidak dimaksudkan untuk mencurigai bias pembaca
terhadap MT atau LXX dalam setiap masalah. Kecenderungan juru tulis
yang didaftarkan disini juga terjadi terhadap seluruh penyalin,
dimasa kuno dan modern. Mengetahui kalau para juru tulis memang
menolong pekerjaan eksegetor terhadap masalah dalam Alkitab Ibrani
dengan keyakinan; akibatnya, hampir seluruh jawaban dari masalah
bisa cukup jelas.
Metode Kritik Tekstual
Pendahuluan
Saat mengerjakan sebuah bagian dalam Alkitab,
ekspositor akan menjumpai beberapa kesulitan tekstual. Ini bisa
jelas dari beragam cara Alkitab Inggris menerjemahkan ayat itu, atau
dari pembahasan dalam tafsiran. Semua itu adalah masalah tekstual
utama yang harus dipelajari, sejauh ekspositor diperlengkapi untuk
melakukannya. Ini artinya bergantung pada tafsiran yang lebih baik
untuk pembahasan.
Didalam Alkitab Ibrani, datanya terlihat jelas
dalam catatan kaki (disebut apparatus) dan dalam catatan marjinal
(dikenal sebagai Masorah, ide tradisional dari para
Masorete). Mengetahui bagaimana menggunakan materi ini adalah yang
termudah, jalan tercepat menyelesaikan setiap masalah tekstual.
Catatan kaki didalam teks Alkitab mengarahkan
pembaca kepada apparatus untuk informasi. Disana materinya diatur
ayat per ayat untuk memudahkan petunjuk. Serangkaian singkatan dan
tanda akan menunjukan versi apa dan varian dalam manuskrip. Jika
tidak ada catatan kaki pada ayat tersebut, ekspositor bisa dengan
aman menganggap kalau tidak ada variasi dalam manuskrip diseluruh
bahasa. Sangat menakjubkan betapa sedikit masalah tekstual yang ada
dalam bagian-bagian Perjanjian Lama, melihat jumlah manuskrip
disemua bahasa! Orang terkadang berpikir ayat-ayat itu penuh berisi
masalah. Tapi, sebagai contoh, dalam Mazmur Perjalanan, Mazmur
120-134, mungkin terdapat satu, dua atau tiga masalah tekstual
penting disetiap limabelas mazmur, dan semuanya bisa dibereskan
secara memuaskan melalui mengikuti prinsip yang benar.18
Terkadang ada ayat-ayat yang memiliki masalah dengan beberapa kata.
Tapi sebagian besar teks dalam bentuk yang sangat baik. Dan dimana
ada masalah tekstual, pertanyaannya bukan apakah kita memiliki yang
asli, tapi yang mana yang asli.
Terkadang para editor Alkitab Ibrani memberi
usulan dalam catatan kaki; ini disebut conjectural
emendations?bagaimana menurut mereka teks itu harus diubah. Tidak
ada bukti manuskrip mengenai hal ini; hanya mencerminkan apa yang
dipikir sarjana modern tentang bagaimana teks itu seharusnya. Kritik
tekstual yang konservatif akan melihat hal ini, tapi sukar
menerimanya karena tidak ada bukti bagi mereka. Beberapa tafsiran
yang lebih kritis (seperti seri ICC) mengadopsi sebagian darinya dan
melakukan penulisan kembali sejumlah teks.
Tidak semua kesulitan tekstual bernilai untuk
dipelajari. Kita harus mengembangkan satu pengertian atau insting
mengenai hal ini (itulah mengapa kita mengatakan eksegesis adalah
suatu keahlian dan seni). Jika variannya minimal, atau tidak membuat
artinya jadi berbeda atau terjemahannya, mereka tidak perlu
dipelajari. Sebagai contoh, jika kata bendanya tunggal dengan suatu
arti yang kolektif, dan satu versi menjadikannya jamak, hal ini
tidak memiliki akibat yang serius. Atau, jika variannya tidak punya
bukti ?katakanlah hanya satu versi terakhir, maka biasanya ini bisa
dilewatkan. Sebagai suatu aturan umum, jika ada bukti manuskrip, dan
variannya membuat perbedaan, maka hal itu harus diperhatikan dengan
seksama.
Saat anda mensurvey Alkitab bahasa Inggris atau
Kitab Doa anda bisa mengatakan secara langsung dimana yang utama.
Dan apakah anda baik dalam kritik tekstual atau tidak, anda bisa
mengatakan sesuatu mengenai perbedaan.
Metode dalam melakukan kritik tekstual
melibatkan bukti eksternal, bukti internal, dan bukti intrinsic.
Bagi mereka yang bisa bekerja dengan bahasa, prosesnya bisa lengkap
dan lebih mudah. Bagi mereka yang harus bergantung pada sumber
sekunder, menyadari prosesnya bisa membantu mengerti apakah sebuah
tafsiran mengikuti prosedur yang benar atau tidak. Seringkali para
penafsir, seperti para juru tulis yang liberal, ingin memuluskan
teks sehingga terdengar lebih baik bagi mereka. Ini bukan tindakan
yang benar.
Bukti Eksternal
Bukti Eksternal merujuk pada penaksiran
manuskrip dan versi yang memiliki beragam pembacaan ?yang mana yang
lebih tua, yang lebih baik. Bukan hanya memiliki satu tabel
manuskrip utama dan secara mekanis menambahkan saksi disetiap sisi,
pekerjaan tekstual Perjanjian Lama membutuhkan sedikit evaluasi
individual. Benar bahwa Masoretic Text (MT), teks Ibrani kita, tua
dan bisa diandalkan, dan biasanya merupakan pembacaan yang lebih
baik. Tapi bisa saja pembacaannya terlalu tua dan bukanlah disimpan
dari pembacaan yang terbaik (arti, satu kata, frasa, bagian dari
sebuah kata). Benar bahwa Yunaninya (biasanya merujuk pada LXX atau
Septuagint) adalah suatu tipe teks inferior secara keseluruhan; tapi
bisa saja disimpan dari pembacaan yang terbaik dan karena itu tidak
bisa disingkirkan begitu saja. Versi lain memiliki pertimbangan ini,
dan setiap kesaksian (manuskrip dan versi) harus diberi evaluasi
yang seksama.
Bahkan, suatu keputusan tidak biasanya dibuat
atas dasar bukti eksternal semata. Tidak berasumsi bahwa apa yang
dimiliki MT itu benar dan membutuhkan sejumlah besar bukti untuk
mencabutnya. Tipe Teks Babylonian (yaitu, teks proto-Masoretic)
dipilih sebagai teks berotoritas karena superior dalam Taurat. Teks
itu jelas tidak superior dalam beberapa kitab lain.
Langkah terpenting dalam berurusan dengan sebuah
masalah tekstual adalah mengerti masalahnya. Kita
tidak bisa mengevaluasi bukti sampai seluruh varian telah
diterjemahkan dan dimengerti ?bagaimana mereka menafsirkan ayat itu.
Masing-masing harus diterjemahkan secara literal dan dianalisa
secara seksama sintaks dan tata bahasanya. Hal ini seharusnya cukup
untuk mengisolasi perbedaan dan menunjukan kesulitannya. Biasanya
terlihat masalahnya berkembang disaat teks Ibraninya sulit, archaic,
atau jarang.
Apparatus dari Alkitab Ibrani ini meletakan
bentuk Yunani dari terjemahan Yunani dalam catatan kaki, dan juga
Syriac serta Aramaic. Prosesnya meliputi pengertian akan apa yang
dikatakan semua itu (dengan menerjemahkan dan menganalisanya), dan
berusaha menemukan apa bentuk Ibrani yang mereka cari untuk mendapat
apa yang mereka miliki. Alkitab Ibrani yang lebih tua (edisinya
Kittel) dan tafsiran yang lebih baik, berusaha membangun kembali
Vorlage Ibraninya bagi anda, tapi tidak selalu. Saat anda telah
meletakan bentuk dalam bahasa Ibrani, maka anda bisa mengatakan
bagaimana hal itu berbeda dari teks standar Ibrani, jika memang
berbeda.
Ada beberapa jalur singkat dan penyingkat waktu
yang dipelajari ekspositor dalam prosesnya. Sebagai contoh, ada satu
salinan LXX tersedia dengan terjemahan Inggrisnya (seperti yang anda
lihat dalam beberapa tugas). Ini membuat anda langsung melihat
perbedaannya dalam bahasa Yunani. Tapi dua peringatan diberikan
disini. Pertama, pastikan anda membandingkan Inggris dari Yunaninya
dengan terjemahan modern Inggris dari Ibrani yang cukup literal
(seperti New American Standard Bible) untuk melihat bukti yang
paling jelas. Dan kedua, perhatikan bahwa kolom Alkitab
Yunani-Inggris adalah hanya satu manuskrip Yunani --Vaticanus (Codex
B). Itu jelas yang terbaik, tapi tidak selalu yang paling benar.
Jadi sebelum sepenuhnya mengandalkannya, pastikan kalau Yunani yang
diterjemahkan kedalam Inggris adalah pembacaan Yunani yang asli. Hal
ini bisa dilakukan dengan mencek pembahasannya dalam buku tafsiran.
Jadi saat anda meletakan dua atau tiga
kemungkinan pembacaan anda bisa mengevaluasinya. Sebagai contoh,
didalam Mazmur 127 MT menulis ?whose quiver is full? [of arrows that
represent children]. Yunaninya menulis ?whose desire is full.? Anda
tidak bisa menyelesaikannya tanpa melihat kata Ibraninya ?quiver,?
dan berusaha melihat kata Ibrani apa yang diingginkan penerjemah
Yunaninya untuk mendapatkan ?desire.? Anda bisa temukan dalam kamus
bahwa ada satu kata untuk ?desire? yang memiliki huruf yang sama
seperti kata untuk ?quiver,? tapi tidak dalam urutan yang sama.
Sekarang terlihat seperti ada suatu kebingungan huruf ?tapi oleh
siapa? Disinilah langkah berikut terjadi. Tapi hal ini harus
dijelaskan terlebih dahulu.
Mengevaluasi bukti eksternal memampukan
eksegetor untuk membuat penilaian awal mengenai arah
dari keputusan. Melalui pengertian akan masalah dalam ingatan,
seorang yang telah berpengalaman dalam kritik teks akan melaksanakan
bukti internal disaat yang sama. Tapi usulan berikut bisa menolong
pemula untuk menyelesaikan bukti eksternal:
1) Ingat bahwa pada dasarnya ada tiga tipe teks --
Babylonian yang direfleksikan dalam Masoretic Text (Alkitab Ibrani
kita), Palestinian yang direfleksikan dalam Samaritan Pentateuch,
Dead Sea Scrolls, dan beragam saksi kecil lainnya, dan Egyptian yang
direfleksikan dalam Yunani Lama, yang kita sebut Septuagint.
Peringatan besar harus dilakukan dalam menyeleksinya, karena
terkadang ada perkembangan lanjutan satu sama lain. Sebagai contoh,
kita harus memastikan kalau Yunani lama yang tepat yang dibahas (dan
ini melibatkan perbandingan Cambridge Septuagint dengan Rahlf),
kemudian turunan lanjutannya harus dicek (dalam Fields) untuk
melihat, sebagai contoh, bagaimana Aquila mengubah Yunaninya untuk
menjadikannya sejalan dengan teks Ibrani sah yang telah tetap.
Sebenarnya, keseluruhan proses seperti pekerjaan detektif, melacak
petunjuk untuk melihat kemana arahnya.
2) Evaluasi harus harus mempertimbangkan nilai
relatif dari seluruh sumber dan kualitasnya dari kitab ke kitab
?jadi tidak ada jawaban yang sederhana. Membutuhkan waktu untuk
mempelajarinya, tapi Ibraninya telah disimpan dengan baik dalam
kitab-kitab tertentu dan tidak terlalu baik dikitab lain, dan
Yunaninya baik dalam satu kita tapi tidak dengan yang lainnya (tidak
semua dari penerjemah yang sama). Biasanya, jika Ibrani dan
Yunaninya sejalan, hal itu menjadi bukti kuat bagi pembacaan yang
asli. Tapi jika mereka memiliki pembacaan yang berbeda, maka kita
harus melihat seluruh bukti.
3) Versi lain bisa memiliki kepentingan atas
informasi. Vulgata biasanya mendukung MT, Latin Kuno biasanya
mendukung Yunaninya, dan Syriac merefleksikan suatu tradisi
Palestina atau MT atau Yunani ?hal ini seharusnya tidak dilewatkan
begitu saja dalam materi, walaupun seringkali hal ini menunjukan
tanda-tanda pemulusan teks. Dead Sea Scrolls memberikan sejumlah
besar detil, dan secara keseluruhan merujuk pada keunikan tradisi
proto-Masoretic ?sesuatu yang ditolak para sarjana kritik untuk
waktu yang lama. Targum kurang membantu dalam kritik tekstual,
kecuali memberikan pengertian ayat yang merupakan penafsiran sah
bagi sinagoge. Seringkali hal itu diikuti oleh terjemahan
paraphrastic bukannya literal.
Bukti Internal
Saat evaluasi awal telah dilakukan, eksegetor
harus mengevaluasi hal ini secara internal. Hal ini pada intinya
saat kecenderungan juru tulis dipertimbangkan dalam proses
memikirkan apa yang bisa terjadi untuk sampai kepada suatu
kesimpulan. Untuk memastikan, proses ini kelihatannya lebih
subjektif; tapi mengikuti aturan yang diterima dalam kritik teks,
keseluruhan prosedur bisa secara konsisten dijaga. Sayangnya, para
penerjemah dan penafsir seringkali melawan aturan kritik dan
menerima apa yang menurut mereka merupakan suatu bacaan yang lebih
baik (i.e., lebih masuk akal bagi mereka).
Jadi langkah ini membutuhkan pengetahuan
mengenai bentuk kesalahan yang dibuat, apakah kesalahan tidak
disengaja atau perubahan yang disengaja. Tidak selalu mudah
mengatakan apakah perubahan itu disengaja atau tidak disengaja.
Suatu perubahan yang dibuat juru tulis bisa disebut tidak disengaja
jika penerjemah manuskrip Ibrani yang tidak memiliki huruf hidup
membuat pilihat terjemahan atas dasar pengetahuan bahasa Ibrani dan
Yunani, mengira kata yang dipertanyakan merupakan sebuah kata umum
(yang dikenalnya dengan baik) tapi faktanya adalah sebuah kata yang
jarang (yang tidak akan bisa diketahuinya tanpa tradisi oral).
Sulit dibayangkan kesulitan kita jika itu bukan
untuk tradisi orang Yahudi. Mereka menyimpan teks sedemikian akurat
melalui ingatan sehingga seluruh bentuk yang jarang serta sulit
disimpan sama baiknya dengan yang umum dan telah dikenal. Maka dari
itu, para Masorete tidak menemukan huruf hidup atau mengarang kata
(seperti yang kadang dilakukan Yunani), tapi menemukan tanda untuk
menyimpan apa yang telah diberikan pada mereka. Untuk keandalan
tradisi ini, lihat James Barr, Comparative Philology and the Text
of the Old Testament.
Saat sampai pada menentukan pembacaan yang
tepat, peng-kritik teks adalah seorang ilmuwan dan artis
?keputusannya bergantung pada pengetahuan akan data dan bagaimana
menggunakannya serta insting dan keahlian dalam mengerti pekerjaan
penulis. Keahlian hanya bisa berkembang dengan praktek, dan hanya
atas dasar pengetahuan yang diperloleh melalui penelitian. Sebagian
besar pelajar Alkitab tidak mengembangkan keahlian secara mencukupi
untuk bisa melakukan pekerjaan ini dengan benar.
Tapi mereka setidaknya terbiasa dengan
aturan dari kritik tekstual sehingga mereka bisa berpikir
dengan jelas tentang sejarah dan penyimpanan teks.
1) Disaat ada persetujuan diantara manuskrip Ibrani
dan versi kuno, bisa disimpulkan dengan meyakinkan bahwa bacaan yang
asli yang disimpan.
Selalu ada kemungkinan manuskrip baru akan
ditemukan yang mungkin memiliki pembacaan yang berbeda, dan bisa
jadi merupakan pembacaan yang lebih baik. Tapi selama ini,
beribu-ribu manuskrip dalam berbagai bahasa menunjukan kalau kita
telah melihat variasinya. Sebagian besar dari varian ini bisa
dievaluasi dengan memuaskan. Melihat sejumlah kata, frasa, dan ayat
yang tidak memiliki varian teks, tidak ada alasan untuk
mempertanyakan penyimpanan teks.
2) Disaat manuskrip Ibrani dan versi kuno berbeda,
kita harus memilih pembacaan yang paling bisa membuat perkembangan
pembacaan lain dimengerti.
Ini artinya eksegetor harus menyelesaikannya
dari kedua perspektif. Sebagai contoh, jika Yunani dan Ibraninya
berbeda, kita harus menyelesaikan masalah dari kedua sisi. Jadi,
jika Ibraninya merupakan pembacaan aslinya, apa yang membuat
penerjemah Yunaninya menghasilkan bentuk itu (apakah itu suatu
perubahan yang disengaja, perubahan tak disengaja, dan jika begitu
yang mana dari keduanya). Maka, jika Yunaninya yang asli, apa yang
membuat juru tulis dalam tradisi Ibrani melakukan perubahan
tersebut.
Disinilah saatnya kita menemukan bahwa
pembacaan yang paling sulit yang akan dipilih. Hal ini tidak
otomatis, karena terkadang ada kerusakan yang terlalu sulit. Tapi
secara keseluruhan, sebuah bentuk yang sulit, spelling yang tidak
biasa atau penggunaan tata bahasa, atau sebuah ide yang sulit,
membuat beberapa juru tulis atau penerjemah membuat perubahan. Juru
tulis tidak ingin menambah kesulitan kedalam teks! Mereka tidak
mengubah bentuk yang jelas menjadi archaic atau tata bahasa yang
mudah menjadi sulit atau idiom yang umum menjadi ekspresi yang tidak
biasa. Jadi kita tahu kalau pembacaan yang lebih mudah lebih mungkin
merupakan yang sekunder.
Tentu saja, hal ini mengharuskan orang yang
melakukan kritik teks tahu mana bentuk yang mudah dan yang sulit.
Hal ini bersamaan dengan Alkitab dan terutama teks Ibrani. Biasanya
mempelajari tata bahasa Ibrani buat pemula cukup untuk mengetahui
mana bentuk yang sulit dan mana yang umum.
Seringkali pembacaan yang dipilih adalah
pembacaan yang lebih pendek. Hal ini tidak berlaku dimana
juru tulis menghapus baris dengan melompat kepada akhir yang mirip,
jadi tidak otomatis. Dan tidak ada pertolongan saat satu-satunya
perbedaan adalah huruf hidup dalam satu kata. Tapi juru tulis memang
bermaksud menambah dan menjelaskan teks itu. Hal ini harus terus
diingat.
Bukti Intrinsik
Semua itu sampai kepada aspek ketiga, bukti
intrinsic. Disini pengetahuan penulis kitab atau bagian harus
dipertimbangkan ?dan ini terjadi saat eksegesis yang seksama dari
bagian yang lebih besar. Tapi mengetahui apa yang biasanya dikatakan
Daud, atau Yesaya, atau Maleaki, atau mungkin tidak pernah mereka
katakana, bisa mempengaruhi sebuah keputusan terhadap suatu variasi
tekstual tertentu.
Contoh Masalah Tekstual
Rut 1:21
Teks dan Apparatus. Rut 1:21 dalam
MT tertulis, ?the LORD has testified against me, and the Almighty
has dealt bitterly with me.?
Pembacaan yang dipertanyakan dalam Masoretic
Text adalah a ? n h b y a (?anah bi)
yang diterjemahkan ?has testified against me? (qal
perfect dari kata kerjanya diikuti oleh preposisi ini yang artinya
?answer against? dalam pengertian hukum).
BHS dibawah 1:21a-a dalam
apparatus dibawah halaman memberitahu kita kalau G(reek), mungkin
S(yriac) dan V(ulgate) membuktikan suatu varian bacaan. Bukti dari
terjemahan Yunani ada pada penjelasan etapeinosen me,
diterjemahkan seperti ?he has oppressed me? atau ?he has afflicted
me? atau ?he has humbled me.?
Bukti Eksternal. Bukti ini,
menunjukan dua kata kerja yang berbeda sepenuhnya. Disatu sisi kita
memiliki tradisi Ibrani MT, dan disisi lain tradisi LXX. Biasanya,
sebelum kita bisa menekankan bukti ini, kita harus mengetahui
seberapa baik teks Rut disimpan dalam MT dan sebaik apa terjemahan
Rut dalam LXX. Atas dasar informasi itu, kita bisa membuat penilaian
awal mendukung MT, karena Yunaninya memiliki beberapa kesulitan
dalam menerjemahkan Rut. Tapi karena kita tidak mengabaikan ragam
bacaan mengenai bukti eksternal semata, kita harus memikirkan
argumen internal.
Bukti Internal. Sebelum
menjelaskan aturan kritik, kita harus mencari penjelasan mengenai
varin Yunani. Disini eksegetor harus melihat kamus Ibrani dan buku
mengenai kata dan mencari kata yang mirip dengan ?anah tapi
memiliki arti ?oppress? atau ?afflict.? Kamus oleh BDB adalah yang
paling baik karena mendaftar seluruh bentuk yang berhubungan secara
bersamaan. Melakukan hal ini kita bisa menemukan ada sebuah kata
kerja, ?innah, suatu bentuk piel, yang berarti
?afflict.?
Para penerjemah Yunani Perjanjian Lama bekerja
dengan teks Ibrani yang tidak memiliki huruf hidup, jadi mereka
tidak melihat huruf hidup apapun yang bisa menunjukan verbal stem
yang mana. Tapi mereka memiliki paralel ?had dealt bitterly with me?
dan menganggap ini suatu synonymous parallelism. Jadi, kita bisa
menjelaskan dengan cukup mudah bagaimana versi Yunaninya terjadi.
Tapi jika yang aslinya memiliki bentuk piel,
artinya ?afflict,? dan membuat sebuah parallelism yang baik antar
klausa, tidak ada alasan mengapa seorang juru tulis Ibrani akan
mengubahnya menjadi qal dan memperkenalkan terminology hukum.
qal dalam MT pasti yang asli.
Jadi teks yang tidak memiliki huruf hidup
menjelaskan asal mula penerjemahan Yunaninya; lebih dari itu, MT
merupakan suatu pembacaan yang agak sulit. Inilah mengapa kita bisa
menyimpulkan kalau MT menyimpan pembacaan yang lebih baik.
Rut 2:7
Teks dan Apparatus. Rut 2:7
tertulis, ?and she came and remained from the morning until
now--except she sat in the house ? . ?
Klausa terakhir ini dalam MT bzeh
shibtsh habbayit,b adalah ?except her sitting in the
house.? Bentuk kata kerjanya adalah qal infinitive membentuk
yashab dengan 3fsg suffix.
BHS under 2:7b-b says:
G(reek) adalah: ou katepausen en to agro.
BH3 under 2:72-2 tertulis
: l (egendum) c(um) G(reek)--?read with the Greek.? Kemudian para
editor membangun kembali apa yang Ibrani Yunani cari: lo? shabetah
bassaddeh; ini juga menambahkan hal yang seharusnya dibaca
V(ulgate): welo? shabah habbayit , dan terakhir
mengatakan kepada anda bahwa Syriac-nya menghapus seluruh klausa ( >
).
Bukti Eksternal. Didalam contoh
ini saya mengumpulkan informasi dari kedua edisi Alkitab Ibrani yang
tersedia. Teks BHS merupakan teks yang paling banyak
dibeli orang sekarang ini; tapi BH3 memiliki lebih banyak
materi dan mengaturnya agak berbeda.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah
menerjemahkan tanda dan singkatan dalam apparatus. Setelah dilakukan
variannya harus diterjemahkan dan Ibraninya dibangun kembali.
Disinilah BH3 merepotkan, karena berusaha merekonstruksi
apa yang diterjemahkan penerjemah Yunani --BHS hanya
memberi bentuk Yunani.
Buktinya akan terlihat seperti ini:
1) Masoretic text tertulis ?except she sat in the
house,? dibaca dengan qal infinitive membangun yashab,
dengan sebuah pronominal suffix. Pembacaan ini menimbulkan
pertanyaan rumah apa yang dia duduki untuk sementara.
2) LXX tertulis ?she has [not] stopped in the
[field] a little,? pembacaannya kelihatannya sebuah qal
perfect dari shabat. Perhatikan bahwa BH3 tertulis
untuk dibawa dengan pembacaan ini sebagai pembacaan yang lebih baik
(mereka sering melakukan ini). Kelihatannya penerjemah Yunaninya
melihat huruf Ibrani sh b t h dan langsung berpikir
tentang ?she rested? bukannya ?her sitting.?
3) Vulgata tertulis ?not for a moment has she
returned to the house,? kelihatannya mengambil bentuk kata kerja
sebagai shabah (< shub), ?return.?
4) Teks Syriac menghapus seluruh klausa.
Kita harus memperhatikan bahwa semua versi
memiliki jalan keluar yang berbeda dalam menerjemahkan apa yang
dalam teks Ibrani merupakan suatu infinitive construct form. Kita
juga harus memperhatikan bahwa Vulgata dan MT menyebut ?the house,?
tapi LXX menulis ?field.? Karena versi-versi ini tidak cukup bersatu
melawan Ibraninya dalam kedua pembacaan ini, kita harus segan
sebelum membuat sebuah perubahan dalam MT atas dasar bukti eksternal
semata.
Bukti Internal. Mengenai pembacaan
kata kerjanya, MT yang dipilih karena bentuk shibtah paling
baik menjelaskan asal mula pembacaan lain. Jika MT memiliki kata
umum shabetah, ?she rested??begitu dikenal dalam
Perjanjian Lama ?tidak ada alasan mengapa seorang juru tulis akan
mengubahnya menjadi infinitive yang jarang dan lebih sulit. Dan jika
penerjemah Yunani melihat sh b t h tanpa huruf hidup dalam
teks, dia kemungkinan besar berpikir mengenai shabat, ?to
rest,? terutama dalam cerita ini. Vulgata juga berusaha menjelaskan
hal ini untuk merefleksikan pikiran terbaik.
Mengenai pembacaan ?house,? MT sekali lagi yang
dipilih. Pembacaannya sulit karena menimbulkan pertanyaan rumah apa
yang bisa dia tinggali untuk sementara. LXX berusaha
mengharmonisasikan hal ini dengan ide bekerja di ladang ?tapi hal
ini tidak didukung oleh Vulgata yang juga dibaca ?house.? Rudolph
mengatakan kalau disini terdapat suatu dittography: shabeteh/habbayit
merujuk pada ?house.? Tapi, hal ini bisa juga berarti kata ini telah
dikeluarkan dalam LXX untuk alasan yang mirip, dan agro
diperkenalkan.
Orang yang bekerja diladang mendapat sedikit
tempat berlindung yang bisa mereka gunakan sebagai tempat istirahat.
Penggunaan istilah ini tidak harus menunjukan kalau adanya sebuah
?house / rumah? yang utuh