Eksposisi Eksegetis
By:
Allen Ross , Th.D., Ph.D.
Pendahuluan
Ada banyak bentuk kotbah, pelajaran yang bisa
diberikan dalam proses mengotbahkan atau mengajarkan Alkitab.
Pesannya bisa topical, atau biografikal, atau doctrinal atau
berkaitan dengan masalah tertentu. Hal ini juga bisa dalam bentuk
deklarasi, atau dalam gaya mengajar, atau dialog dengan jemaat. Dan
bisa memiliki jangka waktu apapun. Ada keragaman besar dalam hal ini;
dan beberapa keragaman bisa memperkaya setiap kelompok. Tapi pada
intinya adalah pertanyaan mengenai hubungan pesan itu dengan Kitab
Suci. Bagaimanapun juga, kita harus mengajar dan memberitakan ?Firman??FirmanNya,
dan bukan ide kita. Jadi eksposisi eksegesis bisa menjalankan
perintah ini dengan jelas. Saat anda melakukan kotbah dan pengajaran
secara ekspositori, pesan anda akan sangat terikat erat dengan teks,
sehingga orang bisa tahu idenya dari Tuhan, dan Tuhan bisa
memberkati FirmanNya itu. Pemberitaan kita bersama dengan penerapan
praktisnya akan sangat berguna jika berasal dari dan melalui Firman
TUHAN.
Berlatihlah untuk membuat kotbah dan pengajaran
anda secara ekspositori?artinya, inti dari keseluruhan pesan berasal
dari teks Kitab Suci, didalam konteksnya, sebagaimana maksud
penulisannya. Telusuri seluruh bagiannya, unit, sehingga seluruh
bagian terbahas dan dihubungkan. Sehingga orang bisa belajar Kitab
Suci dalam proses, selain tema, maksud, atau doktrin yang
dikemukakan dari eksposisi tersebut. Ada saatnya kita akan
menggunakan bentuk presentasi yang lain; tapi hal ini harus ada
diinti setiap pelayanan yaitu memberitakan atau mengajarkan Firman.
Dan Tuhan akan memberkatinya. Dan orang akan
mengerti, dan tidak ingin anda berkotbah seperti sebelumnya atau
pesan yang kurang terkait dengan teks. Saya merasa sangat berarti
mengeksposisi Perjanjian Lama secara umum, secara khusus Mazmur.
Orang tidak hanya mendengar pesan dari bagian Alkitab ini saja, tapi
sebagian besar tahu Perjanjian Lama dan mencintai Mazmur, yang
memberikan ekspositor jalan mulus kehati mereka. Jika anda mulai
melakukannya,i.e., mengembangkan dan membawakan eksposisi eksegesis
dari Perjanjian Lama, ana akan melakukannya secara rutin.
Meletakan sebuah pesan bersamaan membutuhkan
usaha. Melakukan segala usaha eksegetikal?menentukan teks terbaik,
mendefinisikan kata, menafsirkan bahasa kiasan, meneliti struktur
dan genre, menghubungkannya dengan budaya, dan menyeleksi teologi
Alkitabnya?membutuhkan waktu menjadikannya kedalam bentuk kotbah
yang baik. Bahkan dalam mengajar sebuah kelas Alkitab kita harus
melihat lagi data mentah untuk memberikan presentasi yang tepat.
Tapi pastilah untuk presentasi ekspositori (sebuah ibadah formal,
pengajaran informal, penulisan artikel) kita perlu mengatur kembali
materinya dan memilih apa yang akan digunakan dan menambahkan bagian
kotbah yang membuatnya lebih efektif. Semakin pendek waktu bicara,
semakin besar usaha yang harus dilakukan untuk membentuk pesan?dan
mengatakan substansinya. Bagi saya, sampai sekarang, membutuhkan
waktu 10 sampai 15 sampai 20 jam untuk mempersiapkan sebuah
eksposisi, tergantung pada pesannya, dan jumlah waktu bicara saya.
Bagian eksegesis hanya setengah perjalanan; pekerjaan untuk
mengembangkan eksposisi membutuhkan waktu yang sama besarnya.
Halaman-halaman berikut ini akan melacak
beberapa langkah tambahan dalam mengembangkan eksposisi?apakah
eksposisi tertulis, sebuah kelas informal, atau kotbah. Pengaturan
sebuah eksposisi eksegetis sama dalam setiap kasus, walaupun tipe
presentasi bisa berubah.
Sintesis dari Bagian
Sintesis dari sebuah bagian dimulai dengan
sebuah garis besar eksegetikal dan membentuk sebuah ringkasan
eksegetikal. Dalam melakukan sintesis sebuah bagian kita berusaha
mengartikulasikan struktur dan kesatuan teks. Langkah-langkahnya
diberikan dibawah, jika diikuti, akan menjaga agar eksposisi
meliputi seluruh bagian (tidak mengabaikan bagian yang tidak cocok
dengan pesan), dan meliputinya secara benar, sehingga pesan itu
memiliki kesatuan dan progresi serta kejelasan. Dengan latihan
beberapa prosedur ini akan terjadi secara insting; tapi langkah
pertama harus diikuti untuk memastikan suatu sintesis yang lengkap
dan akurat. Saya menggunakan mazmur sebagai contoh, tapi metodenya
bisa digunakan disetiap bagian dalam Alkitab, Perjanjian Lama atau
Baru.
Mengembangkan Garis Besar Eksegetikal
Sebuah garis besar eksegetikal adalah sebuah
garis besar yang menggambarkan didalam kata-kata anda sendiri isi
dari bagian itu. Hal ini ditulis dalam kalimat lengkap (= pikiran
lengkap) dan bukan topik. Hal itu haruslah histories dan deskriptif
dalam pengkalimatannya. Dan harus ditafsirkan dan tidak mengambil
kiasan tinggi. Sebagai contoh kita akan mengerjakan Mazmur 2.19
Perhatikan prosedurnya, langkah demi langkah.
Langkah Pertama: Ringkas Ayatnya (atau Klausa utama dalam
narasi)
Tulis sebuah pernyataan ringkasan secara singkat
disetiap baris puisi (biasanya setiap ayat bahasa Inggrisnya).
Jangan mengambil bahasa kiasan dalam pengkalimatan anda kecuali itu
sebuah idiom umum, tapi berikan suatu arti tafsiran jika mungkin.
Jangan menyatakan kembali jika sudah dilakukan paralelnya, tapi
tafsirkan seluruh ayat sebagai satu unit. Gunakan kalimat lengkap.
Jangan khawatir tentang bentuk akhir ditahapan ini, hanya akurasi
penafsirannya. Untuk Mazmur 2 ringkasan ini bisa dilihat:
1. Pemazmur mengekspresikan keheranan terhadap
bangsa-bangsa yang merencanakan suatu pemberontakan yang tidak bisa
berhasil.
2. Pemazmur mengatakan kalau raja-raja dunia
ini telah memutuskan untuk melawan TUHAN dan RajaNya.
3. Pemazmur mengutip pernyataan mereka untuk
memberontak melawan otoritas TUHAN dan RajaNya.
4. Pemazmur menunjukan bahwa TUHAN
menertawakan kesombongan para pemberontak.
5. Pemazmur memperkirakan satu hari TUHAN akan
menyatakan penghukuman dalam murka dan menakutkan bagi seluruh
pemberontak.
6. Pemazmur mengutip pernyataan TUHAN kalau
Dia telah memberi raja untuk bertahta di Zion.
7. Pemazmur mengutip pernyataan raja yang
menceritakan perjanjian yang menyatakannya sebagai raja yang
diurapi.
8. Pemazmur mengutip penegasan raja kalau
TUHAN telah berjanji memberikannya seluruh bangsa sebagai miliknya
jika dia memintanya.
9. Pemazmur mengutip penegasan raja bahwa
TUHAN telah memerintahkan dia untuk menghancurkan bangsa-bangsa yang
memberontak.
10. Pemazmur menasihati bangsa-bangsa agar
mengindahkan sarannya.
11. Pemazmur menasihati bangsa-bangsa untuk
beribadah pada TUHAN.
12. Pemazmur menasihati bangsa-bangsa untuk
berlindung pada raja pilihan TUHAN karena penghukumannya segera
datang.
Langkah Kedua: Kelompokan Ringkasan
Pelajari baris ringkasan anda untuk melihat mana
yang bisa dikelompokan kedalam unit alami, apakah melalui bentuk
struktur tulisan mazmur itu (jika ini bisa dimengerti), atau melalui
subjek masalah. Bagi Mazmur ini saya mengusulkan kalau isi dari
ayat-ayatnya menunjukan empat bagian setiap bagian memiliki tiga
ayat:
1-3 Tiga ayat pertama menggambarkan aktifitas
bangsa-bangsa yang memberontak yang ingin menumbangkan TUHAN dan
rajaNya.
4-6 Tiga ayat berikut menulis respon TUHAN terhadap
rencana memalukan mereka.
7-9 Tiga ayat berikut membahas pernyataan raja yang
menunjukan hak dan keistimewaannya sebagai pilihan TUHAN.
10-12 Tiga ayat terakhir menulis nasihat pemazmur
bagi bangsa-bangsa yang bodoh ini untuk tunduk kepada raja dan
menjadi pemuja TUHAN yang sejati.
Langkah Tiga: Ringkas Tiap Kelompok Ringkasan
Setelah anda menetapkan pembagiannya, tulis
ringkasan masing-masing. Ringkasan ini harus memasukan isi dari
ayat-ayat dibawah mereka, tapi tidak sedetil ringkasan
individualnya. Kelompok ringkasan ini sekarang menjadi angka romawi
dari mazmur, dan ringkasan ayat (atau ringkasan sub-seksi lain)
dibawah mereka menjadi sub-points.
Berikut ini adalah garis besar eksegetikal akhir
saya dari Mazmur 2. Saya menyadari, ini butuh langkah penengah dalam
memadatkan, mengedit, dan menulis kembali agar bisa sampai pada hal
dibawah ini.
I. Pemazmur menunjukan betapa bodohnya bangsa-bangsa
melawan TUHAN dan raja yang diurapiNya (1-3).
A. Dia heran akan kesia-siaan yang dilakukan
bangsa-bangsa itu (1).
B. Dia menjelaskan tindakan bangsa-bangsa itu:
mereka bersatu untuk mengakhiri otoritas TUHAN dan raja yang
diurapiNya (2,3).
1. Para penguasa bermufakat melawan TUHAN (2).
2. Mereka bersepakat untuk keluar dari otoritasNya
(3).
II. Pemazmur menunjukan tindakan TUHAN menetapkan
rajaNya diatas tahta Zion (4-6).
A. TUHAN semesta alam mengolok-olok rencana sombong
mereka (4).
B. TUHAN berbicara dalam murka terhadap mereka dan
menetapkan raja pilihanNya (5,6).
1. Dia berbicara dalam murka dan menakutkan mereka
(5).
2. Dia mengumumkan penetapan raja pilihanNya bukan
mereka (6).
III. Pemazmur menunjukan penegasan raja bahwa dia
berhak memerintah (7-9).
A. Pernyataan raja mengenai perjanjian (7a).
B. Raja mengulangi janji Tuhan dalam perjanjian:
dimahkotai sebagai ?anak?, mewarisi bumi, dan kedaulatan dominasi
(7b-9).
1. ?Hari ini? TUHAN menjadikan dia sebagai raja
(7b).
2. TUHAN mengundang dia untuk meminta agar dia bisa
menguasai para pemberontak (8,9).
IV. Pemazmur menasihati bangsa-bangsa bodoh itu
untuk tunduk pada raja baru atau penghukuman akan mereka tanggung
(10-12).
A. Dia meminta para pemimpin bangsa itu agar
bijaksana (10).
B. Dia meminta mereka untuk melayani Tuhan dan
tunduk pada raja atau dihukum (11).
C. Dia mengumumkan berkat bagi mereka yang percaya
padaNya (12).
Ringkasan Eksegetikal atau Sinopsis
Sebenarnya ini langkah keempat dalam keseluruhan
proses sintesis. Sekarang kita ingin menulis satu kalimat ringkasan
dari keseluruhan bagian. Jika anda melakukannya, anda bisa melihat
kesatuan dan organisasi dari mazmur. (Jika anda tidak bisa
melakukannya dirumah dengan pen dan kerta dan tidak ada batasan
waktu, maka anda tidak tahu bagian itu dengan baik dan pasti tidak
bisa menerapkannya dalam sebuah pelayanan).
Cara melakukannya adalah mengambil Angka romawi
yang telah anda tulis dan meletakannya sebagai satu paragraph.
Putuskan bagian mana yang menjadi ide utama, focus utama, atau
klimaks (disini saya memutuskan seluruhnya membawa kepada nasihat
pemazmur pada bangsa-bangsa, itulah yang menjadi klausa utama
saya?bagian lain ada dibawahnya). Jadi, awalnya tulis semuanya, dan
mulai edit, padatkan, revisi menjadi format yang lebih pendek:
Pemazmur menunjukan betapa bodohnya keinginan
memberontak melawan TUHAN dan raja pilihanNya. Pemazmur menunjukan
pernyataan TUHAN untuk menetapkan raja pilihannya ditahta Zion.
Pemazmur menunjukan penegasan raja dengan hak apa dia memerintah.
Pemazmur menasihati bangsa-bangsa untuk tunduk kepada raja atau
penghakiman akan datang atas mereka.
Hal ini butuh usaha untuk menjadikannya kedalam
bentuk yang diinginkan, kecuali anda sangat baik dalam menulis dan
mengedit. Tapi jika anda mengikuti seluruh proses anda akan terlibat
dengan ide yang ada dimazmur ini sehingga anda mampu memikirkannya
dengan jelas dan mengajarkannya tanpa garis besar dan manuskrip
(yang bisa mematikan sebuah presentasi). Anda belum menulis sebuah
ide kotbah, tapi ringkasan yang baik dari isi mazmur ini. Ini
seharusnya sudah cukup pendek untuk diringkas kedalam satu kalimat;
tapi harus cukup tepat masuk dalam mazmur ini dan hanya mazmur ini.
Kalimat ringkas akhir saya terhadap Mazmur 2 sebagai berikut:
Pemazmur menasihati para bangsa kafir agar
membuang rencana menyedihkan mereka memberontak melawan TUHAN dan
raja yang diurapiNya serta tunduk pada otoritas Raja itu yang telah
Tuhan nobatkan untuk menguasai bangsa-bangsa dan mengakhiri
pemberontakan mereka.
Tentu, ada cara lain meringkas hal ini. Tapi
inilah yang saya pilih untuk kalimatkan. Itu hanya cocok dimazmur
ini saja. Itu secara mencukupi meliputi bagian utamanya. Dan
berfokus pada nasihat pemazmur kepada orang bodoh. Dalam pengertian
itu mazmur ini agak menginjili!
Eksposisi
Mengembangkan Garis Besar Ekspositori
Setelah melakukan garis besar eksegetikal maka
menulis garis besar eksposisi menjadi lebih mudah?dan memastikan
kalau garis besar pesan cocok dengan bagian ini.
Ambil angka romawi anda dan ubah kedalam
pernyataan yang lebih pendek dan lebih objektif, serta
proposisional. Mereka tidak lagi histories dan deskriptif; mereka
kekal dan teologis?tapi sesuai dengan bagian tersebut. Metode yang
diikuti adalah subtitusi, biasanya dengan mengabstraksi ide,
mendapatkan ide umum; ujian penerapannya adalah menentukan apakah
prinsip yang anda tulis sesuai dengan pembaca asli dan juga pembaca
modern. Ini haruslah pernyataan yang singkat karena orang akan
mendengar dan perlu mengingatnya. Dan mereka harus (jika mungkin)
dikalimatkan begitu rupa sehingga mudah dihafal. Terkadang?tidak
selalu?saya menggunakan ?sign-post? didepannya (seperti dibawah).
Mazmur 2 menunjukan garis besar kotbah atau ekspositori seperti
dibawah ini:
I. Kebodohan: Sia-sia bagi manusia untuk melawan
otoritas Tuhan (1-3).
II. Rencana Tuhan: Otoritas Tuhan yang berdaulat
menetapkan ?Anak?Nya memerintah (4-6).
III. Klaim Mesias: Raja yang diurapi Tuhan akan
memerintah dunia dengan kekuasaan penuh (7-9).
IV. Hikmat: Bijaksana bagi manusia untuk mencari
perlindungan dari penghukuman Tuhan dengan tunduk pada AnakNya
(10-12).
Maksudnya adalah prinsip-prinsip yang ada dalam
ayat-ayat dibagian tersebut; tapi pengkalimatannya harus tepat bagi
pembaca lama dan juga dimasa sekarang?semuanya haruslah kebenaran
yang kekal (inilah alasan anda harus berusaha mengikat Perjanjian
Lama dan Baru dalam membentuk teologi).
Dibawah kondisi normal saya tidak akan
meninggalkan metafora ?anak? dalam garis besar, atau menggunakan
istilah teknis ?mesias.? Tapi dikedua zaman kata ini bisa dimengerti
dengan jelas. Lebih lagi, didalam bagian ini saya menghabiskan cukup
banyak waktu mengurusi kedua kata tersebut, pertama dizaman
Perjanjian Lama dan saat diterapkan kepada Yesus dizaman Perjanjian
Baru. Saya bisa menggunakan keduanya karena sesuai dengan mazmur
ini, dan sesuai dengan Perjanjian Baru?dalam arti lengkapnya.
Ide Ekspositori
Sekarang, langkah terakhir dalam sintesis adalah
mengurangi ringkasan eksegetikal menjadi pernyataan singkat yang
sama seperti digaris besarnya. Ini haruslah sebuah kalimat teologis
yang jelas, pengkalimatannya sesuai dengan konteks aslinya dan juga
pembaca modern. Ini haruslah merupakan tema utama dari mazmur?dan
pesan anda. Ini merupakan teologi Alkitab dari bagian tersebut yang
dibawakan secara eksegetis, dipadatkan dan diletakan kedalam
pernyataan retoris yang efektif. Dari Mazmur 2 saya menulis:
Adalah hal bijaksana tunduk pada otoritas
Mesias,
karena Tuhan telah menyatakan Dia yang akan memerintah dunia.
Ada banyak detil dan ide yang berhubungan dalam
bagian ini, tapi hal itu menangkap maksud utama dari mazmur.
Pembawaan pelajaran atau kotbah harus membawa cukup materi dari teks
itu sendiri untuk menunjukan bagaimana ide ini, dan juga garis
besarnya, dikembangkan. Ide ekspositori hanya memberikan sebuah
pernyataan ringkas eksposisi mazmur tersebut yang mudah diingat.
Setelah ini telah dikembangkan, ekspositor bisa
mengembangkan esensi pesan selanjutnya.
Formulasi Penerapan
Ini langkah pendek untuk menemukan arti teks dan
menentukan artinya bagi kita dimasa kini?tapi ini adalah langkah
yang seringkali terlewatkan. Salah satu bagian terlemah dari
eksposisi modern adalah penerapannya. Apakah ada penerapan penting,
atau yang diberikan tidak berasal dari teks. Pembicara mungkin tidak
tahu bagaimana mengembangkan sebuah penerapan, atau beranggapan ini
sudah terbukti dengan sendirinya jika pesannya mendasar (cleverness
is in, clarity is out), atau pembicara memiliki tujuan tanpa melihat
teks apa yang digunakan.
Sebuah eksposisi eksegetis yang baik harus
memasukan penerapan tertentu bagi pendengarnya. Anda harus
menyatakan dengan jelas apa yang anda inginkan diketahui pendengar
sebagai hasil eksposisi anda, apa anda ingin mereka percaya, dan
atas dasar itu, apa yang anda ingin mereka lakukan (benar-benar
lakukan?bukan ?menyadari, tahu, pikir, mengerti, ingat,? dll., tapi
?lakukan?). Ini harus jelas dan positif. Jika negatif (?jangan
lakukan ini dan itu?) anda harus menyatakan bagaimana menghindarinya
dan sebaliknya harus melakukan apa; jika samar (?memiliki iman lebih
besar?) anda harus mengatakan mereka bagaimana melakukan itu.
Singkatnya, anda menjawa pertanyaan ?jadi bagaimana?? bagi eksposisi
anda.
Ada beberapa aturan yang harus diingat saat
menjabarkan penerapannya dari bagian Perjanjian Lama:
1. Isolasi kebenaran teologis kekal yang akan diterapkan, tapi
bekerja dalam ?arena? yang berhubungan
Saat berusaha menerapkan pesan, pastikan anda
menerapkan ide teologis utama dari bagian tersebut. Penerapan
individual bisa dibuat dari ayat ke ayat. Tapi pada akhirnya anda
menghasilkan maksud utama. Ini haruslah menjadi ide ekspositori
anda, jika telah dilakukan dengan benar. Kata bijak Jerman kuno
sesuai dengan hal ini: ?Hal utama adalah membuat hal utama menjadi
hal utama.?
Hal yang sulit adalah membuat ide
teologis menjadi yang utama, bukan arena atau latar
berlakang. Sebagai contoh, hukum dalam Imamat 11-15 semuanya
berkaitan dengan kekudusan, pengudusan ?adalah maksud dibelakang
spesifiknya. Hukum mengenai makanan, anak yang dilahirkan, dan
lainnya. Ini semua adalah wilayah dimana prinsip teologis akan
diterapkan, bukan detil aturan dari hukum Israel. Hal yang saya
lakukan adalah mencatat latar belakang dan keadaan bagian itu,
terutama jika mereka secara kultur terikat dengan orang atau tempat
seperti Israel. Kemudian, saya akan mencari arena, latar belakang,
atau keadaan yang sebanding dengan pengalaman pendengar saya dimana
maksud teologisnya bisa dibuat. Saya harus menjabarkan sebagian
untuk sampai kesana, tapi itu bisa dilakukan. Sebagai contoh,
pengudusan bisa memiliki sebuah penerapan cara hidup kita, apa yang
kita makan, bagaimana kita berpakaian, dan sebagainya. Jika saya ada
dalam sebuah narasi seperti Daud dan Goliat, saya harus menjabarkan
latar belakang sampai konfliknya, bahkan sampai peperangan rohani,
untuk menunjukan bagaimana umat Tuhan perlu iman dalam menghadapi
serangan. Jika itu adalah sebuah mazmur, tugas biasanya lebih mudah,
kecuali situasi mazmur secara spesifik adalah Israel. Tapi pada
umumnya, doa, pujian, keluhan, gossip, perasaan bersalah, dll,
terdapat disepanjang masa.
2. Perhatikan Perbedaan antar Perjanjian.
Orang tidak banyak memperhatikan hal ini?ini
memukul literalism atau dispensationalism Alkitab (--mereka yang
menggunakan hal ini dalam arti pejorative-nya tidak tahu apa yang
sedang mereka katakana). Maksudnya adalah ada beberapa perbedaan
besar antar perjanjian. Perjanjian Baru bisa saja hanya membawa
ide Perjanjian Lama menyeberang; tapi lebih sering
memodifikasi sebuah ide, dan terkadang mengosongkannya.
Walaupun kita menegaskan bahwa seluruh Firman Tuhan itu berguna
untuk nasihat dan kebenaran, kita harus mengetahui kalau seringkali
apa yang diatur telah diubah atau ditinggalkan?perang suci melawan
orang Kanaan, larangan pakaian dan makanan, hukum pernikahan dengan
saudara, hewan korban, perjalanan ke Yerusalem, bait keimaman,
larangan pelayanan bagi yang cacat, kutuk, dan banyak lagi yang
lain.
Jadi, anda harus menyatakan prinsip kekal dari
bagian tersebut?teologinya; dan kemudian anda harus menunjukan
bagaimana hal itu dijalankan dalam pengalaman Israel, dan bagaimana
hal itu bisa dilakukan dimasa kini. Imamat 4 mengajarkan bahwa tidak
ada pengampunan tanpa korban darah sebagai gantinya. Hal ini benar
didalam kedua perjanjian; tapi yang lama adalah tipe, dan yang baru
penggenapannya. Anda haru menjelaskan tipe dan juga penggenapannya.
Penerapan anda harus membawa kebenaran itu sampai kepada penggenapan
Perjanjian Baru?karena kita memiliki suatu perjanjian yang berbeda
dan lebih baik.
3. Perbedaan antara Penerapan Utama dan Sekunder.
Ada waktunya anda bisa secara sah mengambil
penerapan dari sebuah bagian, tapi bukan maksud utamanya. Sebagai
contoh, Mazmur 2 memiliki penerapan langsung bagi orang yang tidak
percaya agar tunduk pada TUHAN dan raja yang dipilihNya. Jika anda
membuat penerapan utamanya kepada orang Kristen, apakah dihibur oleh
hal ini, atau terlibat dalam penginjilan seperti yang kelihatannya
dilakukan oleh pemazmur, hal ini ada didalamnya, diimplikasi, bisa
diterapkan?tapi sekunder. Anda tidak bisa membuat pesan ini kepada
orang Kristen: Bijaksanalah dan tunduk kepada Anak. Mereka telah
melakukannya! Tapi jika pendengar anda hampir semuanya orang
percaya, maka anda bisa mengatakan maksud utamanya, baru mengatakan
penerapan lain bagi kita sebagai orang Kristen, seperti ? .
4. Jangan Meninggikan Terapan dari Tafsiran.
Didalam sebuah penerapan anda memberitahu orang
apa yang dimaksud teks bagi kita, apa yang menurut anda respon kita
seharusnya. Usulan anda harus cukup spesifik. Tapi terlalu sering
kelompok lain menjadikan penerapan sebagai otoritas mengikat, setara
dengan Firman itu sendiri. Jika teksnya tidak menyatakan
penerapannya, anda harus berhati-hati. Tegaskan apa yang ditegaskan
sebagai hal yang mengikat; usulkan penerapan yang asalnya dari teks
itu. Sebagai contoh, jika teksnya berkata ?Didiklah seorang anak
didalam cara yang seharusnya dia ikuti? dan anda memutuskan kalau
didalamnya termasuk motivasi anak dengan benar?boleh saja, tapi
jangan katakan Tuhan menyuruh kita untuk memotivasi anak. Hal
tersebut bisa saja bijak, membantu, merupakan usulan yang sangat
baik, diajarkan ditempat lain?tapi hal itu mengungkapkan hal yang
berbeda dari ide Ibrani dengan ?mendidik? anak, kecuali eksegesis
anda menunjukan kata kerjanya memasukan ide itu. Maksud saya adalah
apa yang anda katakana pada orang lain untuk lakukan sebaiknya
sesuai dengan apa yang dikatakan teks itu sendiri, atau merupakan
implikasi jelas dari teks. Dan jika teks itu memberikan sebuah
prinsip umum, kita bisa mengusulkan cara penerapkannya, cara-cara
yang sejalan dengan pengajaran lain dalam Kitab Suci.
5. Jelas, Langsung, dan Spesifik.
Penerapannya harus jelas bagi para pendengarnya,
jelas berasal dari teks, dan jelas artinya. Ada saatnya,
penerapannya berbentuk umum tanpa spesifikasi. Dan ada saatnya
terlalu banyak spesifikasi. Sebagian dikarenakan kurangnya
persiapan; tapi sebuah kesimpulan dengan pengkalimatan penerapannya
yang tepat harus secara seksama ditulis dan dianggap sebagai bagian
dari persiapan eksposisi. Terlalu silit menyatukan seluruh ide pada
akhirnya jika tidak dikelola sebelumnya.
Saat kesimpulan telah ditulis, saat anda tahu
maksud dari bagian ini, maka anda sudah siap menulis
pendahuluan?bukan sebelumnya. Pendahuluan yang baik menarik
perhatian pendengar, memperkenalkan subjek masalahnya, dan (yang
paling penting) menciptakan atau menjabarkan kebutuhan yang dibahas
dalam bagian tersebut.
Korelasi
Tujuan kita dalam korelasi adalah menghubungkan
bagian yang sedang dieksposisi dengan bagian Alkitab lainnya yang
memiliki ide teologis yang sama. Korelasi sangat penting karena (1)
menunjukan kesatuan Alkitab dan terutama relevansi berlanjut dari
Perjanjian Lama kedalam dunia Perjanjian Baru. (2) Korelasi juga
memberikan penguatan terhadap ide teologis dan penerapannya. (3)
Lebih lagi, korelasi dengan sebuah bagian dalam Perjanjian Baru
menunjukan bagaimana kebenaran teologis dari bagian itu dinyatakan
dalam sebuah latar belakang berbeda, mungkin dalam sebuah budaya
berbeda.
Sangat penting mengikuti beberapa aturan saat
membuat korelasi:
1. Korelasikan ide teologis dari bagian tersebut.
Anda mengkorelasi hal yang diajarkan bagian
tersebut. Ada banyak cerita, peristiwa, latar belakang, dan keadaan
yang mirip dalam Alkitab; tapi mengkorelasikannya tidak banyak
membantu eksposisi. Anda berusaha menemukan bagian Alkitab mana yang
sedang mengajarkan kebenaran yang sama. Pada awalnya ini
mungkin sulit dilakukan, tapi saat anda mengajar dan berkotbah dari
Alkitab hal ini akan datang secara cepat dan alami.
2. Hati-hati dalam mengkorelasi ide anda dengan Perjanjian Baru,
terutama tulisan-tulisan para rasul.
Hal utama yang ingin kita ketahui disini adalah
dimana ide ini diajarkan atau dikonfirmasi dalam Perjanjian Baru.
Tapi ada beberapa kesulitan yang harus dihindari dalam melakukan hal
ini:
a. Anda bisa mengkorelasi dengan
bagian-bagian dalam Injil, tapi seringkali memiliki masalah
tambahan. Anda mungkin menemukan diri anda banyak menjelaskan
tentang bagian Injil tersebut dalam membuat hubungan, dimana
tulisan-tulisan para rasul menyatakan secara langsung ajaran dan
nasihat tersebut. Faktanya, sebagian besar metode yang telah kita
pelajari untuk eksegesis bisa juga diterapkan kepada kitab-kitab
Injil, karena mereka seperti tulisan-tulisan dalam Perjanjian Lama.
Mereka menggambarkan kegiatan yang terjadi dibawah Taurat. Jadi saat
berkotbah atau mengajar dari kitab-kitab Injil ekspositor harus
mengkorelasikannya dengan surat-surat rasul. Ini jarang
dilakukan?dan ini sebagian alasan mengapa terdapat kebingungan dalam
pengajaran.
b. Anda mungkin menemukan korelasi saat
bagian Perjanjian Baru mengutip bagian yang sedang anda bahas, tapi
beberapa diantaranya perlu diteliti. Perjanjian Baru bisa saja saat
itu membuat penerapan spesifik dari bagian yang anda bahas, tapi
bukan ide utama. Pastikan saat anda mengkorelasi bagian itu, seluruh
konteks terlibat. Roma 8 melakukannya dengan Mazmur 44; tapi 1
Korintus 15 sedang membuat suatu tafsiran tipologis mengenai buah
sulung yang merujuk pada kebangkitan Yesus dalam Imamat 23. Jika
anda mengeksposisi Imamat 23, anda akan mencari pengajaran
Perjanjian Baru tentang ucapan syukur bagi korelasi anda. Anda bisa
memasukan tipologi, tapi itu bukan tekanan utama eksposisi Imamat
23.
c. Hati-hati bersandar pada sumber kedua
dalam korelasi. Ada saatnya mereka mengambil bagian yang memang
memiliki pesan teologis yang sama, tapi membuat koneksi yang tidak
sama.
3. Jangan membuat korelasi Perjanjian Barunya sebagai pesan
anda.
Seringkali lebih mudah mengakhiri pengajaran
atau kotbah dari teks Perjanjian Baru bukannya bagian yang sedang
anda eksposisikan. Ini bisa terjadi eisegesis jika anda tidak
hati-hati. Jika eksposisi berasal dari bagian Perjanjian Lama, maka
bagian itu punya pesan yang harus dikemukakan. Materi yang
berkorelasi berfungsi menunjukan kalau ide itu memang diajarkan
ditempat lain dalam Alkitab. Jika anda ingin mengeksposisi bagian
Perjanjian Baru yang anda korelasikan, maka lakukan itu (dan
hubungkan latar belakangnya dari Perjanjian Lama).
4. Jaga kejelasannya.
Sangat mudah melihat korelasi dan setiap idenya
didalam sebuah bagian, tapi setelah itu terlalu banyak bagi orang
lain. Anda harus berusaha sebaik mungkin sepanjang eksposisi, tapi
simpan satu atau dua koneksi untuk kesimpulan. Hal itu memudahkan
orang lain untuk mengerti.
Hati-hati: sangat mudah muncul ide yang ingin
anda ajarkan dari sebuah bagian, ide yang anda ketahui dari bagian
lain Kitab Suci, dan mengkorelasikannya bukannya menemukan koneksi
Perjanjian Baru yang benar dengan ide teologis sebenarnya dari
bagian tersebut. Hal itu tidak membantu; faktanya, membingungkan
orang apakah maksud dari bagian tersebut dan metode dalam
mempelajari Alkitab.
INGAT: Anda hanya berusaha mengeksposisi sebuah
bagian Alkitab, menunjukan kepada orang lain maksud dari bagian
tersebut yang didasarkan pada eksegesis anda, bagaimana anda bisa
mengetahuinya, relevansinya, dan dimana ide itu diajarkan dengan
jelas dalam bagian Alkitab lainnya. Anda mungkin harus menunjukan
perubahan antar budaya, perjanjian, atau konteks dalam proses ini;
tapi orang lain kemudian bisa mulai berpikir secara alkitabiah,
kontekstual, eksegetikal. Dan itu maksud semua ini.