Bahasa Kiasan
By:
Allen Ross , Th.D., Ph.D.
Pendahuluan
Quintilian mendefinisikan bahasa kiasan sebagai
?setiap deviasi pemikiran atau ekspresi, dari metode ucapan asli dan
sederhana ?? atau ?? suatu kiasan yang secara seni berbeda dari
penggunaan umum? (Instit. Orat. IX, i, 11). Kiasan-kiasan ini
disebut oleh orang Yunani Schema, dan oleh orang Romawi
Figura. Kedua kata berarti ?shape? atau ?figure.? P. J. Corbett,
membagi kiasan kedalam dua kelompok utama -- schemes dan tropes (Classical
Rhetoric for the Modern Student [New York: Oxford Press, 1971]).
Dia menulis: ?Suatu skema ? meliputi suatu deviasi dari pola asli
atau pengaturan kata. Suatu trope meliputi deviasi dari aslinya dan
arti penting sebuah kata? (p. 461).
Didalam pembahasan ini kita akan melihat tipe
tropes dan skema yang paling penting. Perhatian yang lebih besar
akan diberikan terhadap tropes daripada skema karena lebih sulit
dipelajari. Tipe-tipe yang didaftar dibawah adalah yang paling
sering ditemui dalam mempelajari Mazmur. Pelajar dianjurkan
menggunakan E. W. Bullinger (Figures of Speech Used in the Bible)
untuk tipe yang jarang dan bagian-bagian yang bermasalah. Tapi buku
ini jangan digunakan hanya untuk menemukan kiasan yang kabur atau
teknikal jargon. Daftar isi dan indeks Alkitab menjadi permulaan
dari penggunaan referensi ini.
Sebelum melihat tipe-tipe umum dari kiasan kita
seharusnya mempertimbangkan masalah dasar ?ketegangan antara literal
dan kiasan. Banyak pelajar Alkitab berpikir jika sesuatu adalah
kiasan maka tidak seorangpun bisa memastikan apa maksudnya (untuk
hal ini, lihat kata pengantarnya Bullinger). Lainnya, berkeras pada
?penafsiran literal? Alkitab dengan mengeluarkan kiasan. Jika ?penafsiran
literal? dimengerti secara literal, bisa muncul beragam masalah ?Tuhan
menjadi batu karang, Yesus sepotong kayu, dan orang percaya menjadi
domba yang sedang merumput atau gandum yang sedang bertumbuh.
Masalah yang dihadapi untuk memberi satu survey mengenai bagaimana
masalah ini dihadapi dalam penafsiran Alkitab.
Pelajar Alkitab mungkin sadar akan konsep
Agustinus mengenai beragam rasa dalam Alkitab, dimana baik kata dan
hal yang dimaksud merujuk pada arti rohani atau alegoris. Tapi
Agustinus memberi perhatian terhadap kata-kata dalam Alkitab, arti
literal, sebagai dasar bagi pentingnya kerohanian. Perhatian
terhadap kata melibatkan pengetahuan akan bahasa asli, logika (rules
of valid inference), sejarah, dan terutama kiasan retoris. Dia
berkata,
Manusia yang tahu menulis seharusnya mengetahui,
bahwa semua bentuk ekspresi yang dimaksud ahli bahasa dengan trope
kata Yunani digunakan juga oleh para penulis Alkitab, dan lebih
banyak dari mereka yang tidak mengenalnya ? bisa percaya. Mereka
yang mengenal tropes ini, akan mengenali mereka dalam tulisan suci,
dan pengetahuan ini akan menjadi pembantu dalam mengerti mereka ? .
Dan tidak hanya contoh dari seluruh tropes ditemukan dalam
kitab-kitab suci, tapi juga nama-nama sebagian dari mereka, seperti
allegoria, aenigma, parabola (De Doctrina, III, xxix).
Pembahasan Thomas Aquinas mengenai arti Alkitab
dalam Summa Theologica merasionalisasi keterangan Agustinus
mengenai arti kiasan kedalam formula Katolik: suatu arti literal, an
arti spiritual memiliki tiga tingkatan --allegorical atau
typological, tropological atau moral, dan anagogical (I. Q. 1, Art.
10, Basic Writings, I, 16-17). Berkaitan dengan arti literal,
Aquinas berkata,
Melalui kata-kata sesuatu ditunjukan secara nyata
dan kiasan. Bukan kiasan itu sendiri, tapi yang dikiaskan, arti
literalnya. Saat Alkitab mengatakan tangan Tuhan, arti literalnya
bukan Tuhan memiliki anggota seperti itu, tapi arti yang ditunjukan
oleh anggota itu, yaitu, kuasa yang bekerja (ibid).
Saat Aquinas mengklasifikasikan arti dari trope
secara literal, dia ingin mengatakan kalau bahasa puisi seringkali
mengaburkan kebenaran, membuat pembaca melihat melampaui kiasan itu
sendiri untuk mendapat arti sebenarnya. Tidak ada penekanan nyata
pada artinya yang dibawa oleh metafora itu sendiri. Baik Agustinus
atau Aquinas tidak terlalu memperhatikan bahasa puisi Alkitab
seperti itu.
Reformasi menimbulkan penekanan baru pada
literalism dalam Alkitab, bersamaan dengan penekanan pada satu arti
dari Alkitab. Tapi melihat tulisan-tulisan reformator menunjukan
kalau hal ini bukan prosaic literalism. Tropes sekarang menjadi
formulasi wahyu yang Tuhan pilih yang harus dimengerti dengan benar,
pada dirinya, dan bukan sebagai suatu cara menunju visi allegoris
yang lebih tinggi. Pembahasan Calvin mengenai doktrin sakramen,
terutama ekspresi ?This is my body? bersifat instruktif:
[Mereka yang menyatakan] roti adalah tubuh ?
membuktikan dirinya seorang literalis ? . bagi saya ekspresi ini
adalah sebuah metonymy, bahasa kiasan biasanya digunakan dalam
Alkitab saat sedang membahas misteri ? . walaupun simbolnya berbeda
arti dari hal yang dimaksud (yang kedua bersifat rohani dan sorgawi,
sedang yang pertama fisik dan terlihat), tetap saja, karena itu
tidak hanya menyimbolkan hal yang disucikan untuk mewakili pemberian
kosong, tapi juga memang menyatakannya, mengapa namanya tidak
berasal dari hal itu? ? Biarkan kita berlawanan, jika itu artinya,
berhenti menimbun witticisms dengan menyebut kami ?tropists? karena
kita telah menjelaskan fraseologi sacramental menurut penggunaan
umum Alkitab (Institutes IV, xvii, 20-21).
Ironisnya posisi Roma Katolik mengenai sakramen
(transubstantiation) didapat karena mengartikan teks itu secara
literal. Arti kiasan (metonymy) dikomunikasikan melalui tanda fisik
dipegang oleh para Reformator.
Berdasarkan pemikiran itu tulisan-tulisan orang
Protestan abad berikutnya mensistemasikan pelajaran perlengkapan
retoris yang digunakan Alkitab. Pentingnya mengerti trope dan skema
menjadi begitu penting. Bukan hanya sekarang mereka melihat teks
secara literal dimana Gereja menganggapnya alegoris atau mistis;
tapi mereka sekarang mempelajari kiasan yang digunakan dalam Alkitab
sebagai cara untuk mengkomunikasikan wahyu ilahi. Karena Alkitab
sering menggunakan bahasa kiasan, para sarjana menyadari kalau
penggunaan beragam tipe kiasan secara ahli diperlukan untuk
eksegesis. Buku pegangan mengenai kiasan dan penafsirannya
bermunculan diseluruh Protestantism. Hal itu dimulai oleh pengakuan
kalau kiasan dipakai sebagai alat kebenaran; mereka dipilih oleh
Tuhan untuk menyatakan Dirinya kepada manusia.
Konsep Tuhan sebagai seorang penyair agung yang
menggunakan bahasa kiasan untuk mengkomunikasikan Firman literalNya
secara grafis diekspresikan oleh Donne:
Tuhanku, Tuhanku, Engkau seorang Allah yang jelas,
atau Allah yang literal, Allah yang bisa dimengerti secara literal,
dan sejalan dengan arti langsung dari semua perkataanMu? Tapi Engkau
juga ? Allah yang memakai kiasan; Allah dimana kata-kataNya banyak
kiasan, suatu pelayaran kepada metafora yang jauh dan berharga,
perluasan ? . O, kata-kata apa kecuali Engkau yang bisa
mengekspresikan bentuk yang tidak terekspresikan, dan komposisi dari
kata (Sermons, VII, 65).
Jadi konsep bahwa bahasa kiasan merupakan
karakter dari Firman Tuhan yang literal dibanyak tempat, dan bukan
arti mistis, menjadi perbedaan penting eksegesis kitab setelah
Reformasi. Sayangnya, ?eksposisi? modern tidak mengerti banyak
tentang hal ini, tapi lebih dekat pada penafsiran Puritan yang
melihat perlengkapan retoris secara minim atau menipu. Setiap
pelajar Alkitab harus menangkap kembali hubungan penting antara
kiasan dan literal. Kita harus belajar bahwa tidak hanya kiasan
menjadi cara mengkomunikasikan yang literal, tapi kiasan adalah
literal dalam pilihan cara mengekspresikan kebenaran, suatu cara
yang melibatkan konotasi emosional dan intelektual, allusion dan
bunyi. Kiasan disatukan dalam pengkomunikasiannya, berbeda dalam
aspeknya.
Klasifikasi Kiasan
Karena para penulis mengubah kata-kata mereka
secara beragam, kritik tulisan berusaha menganalisa deviasi ini
dalam penggunaan kata untuk mendapat kontrol yang lebih baik atas
pikiran dan perasaan yang dimaksud oleh penulis.
I. Kiasan Melibatkan Perbandingan
Dalam bentuk kiasan ini penulis mengubah satu
kata kedalam suatu wilayah semantic lain untuk mengilustrasikan atau
menggambarkan pemikirannya dan membangkitkan perasaan yang tepat
dalam diri pembacanya. Melalui cara ini penulis menarik perbandingan
antar dua hal yang tidak bersifat sama tapi memiliki persamaan.
Subjeknya nyata, tapi rujukan perbandingannya dihadirkan dalam
imajinasi. Persamaan subjek dan hal yang dibandingkan tidak
dinyatakan dan harus ditebak dan diuji oleh penafsir dari petunjuk
lain yang ada dalam komposisi. Penafsir juga harus berusaha
mengartikulasikan mood yang ditimbulkan oleh kiasan itu.
1. Simile: Kemiripan,
suatu perbandingan eksplisit (menggunakan ?like? atau ?as?) antar
dua hal yang sifatnya tidak sama tapi memiliki persamaan (lihat
Bullinger, pp. 726-733).
-
?Silence settled on the audience like a block of granite.?
?Silence? disini dibandingkan dengan suatu ?block
of granite.? Gambarannya adalah satu keabsolutan dan ketiba-tibaan.
Ada satu kontras yang diberikan antar gemuruh penonton sebelum
pertunjukan, dan diam yang tiba-tiba saat tirainya dibuka.
-
?All flesh is like grass.? (1 Pet. 1:24)
Dalam ayat ini ?flesh,? yang juga suatu bahasa
kiasan, mewakili seluruh mahluk hidup, dibandingkan dengan ?grass.?
Maksudnya adalah grass/rumput bersifat sementara ?akan layu dan mati
dengan mudah. Kiasan ini harus dilihat dalam konteks rumput di
Israel ?waktu panas rumput akan menghilang dari bukit sampai musim
hujan. Perasaan yang dibangkitkan oleh simile ini adalah suatu
pathos dan kesia-siaan.
-
?He shall be like a tree planted by rivers of waters.? (Ps.
1:3)
Mazmur sedang menggambarkan seorang individu yang
merenungkan Taurat TUHAN. Perbandingannya dibuat dengan sebuah
pohon. Disini, seperti sering terjadi, simile nya teruji: pohon
menghasilkan buah dimusimnya dan tidak layu karena ditanam dekat
air. Kualifikasi ini membawa kita untuk menyimpulkan bahwa air
mewakili Taurat, dan buah kebenaran. Pikiran yang umum antara pohon
dan seseorang adalah kehidupan atau vitalitas. Hal ini menciptakan
perasaan keinginan positif.
2. Metaphor: Perwakilan,
suatu perbandingan implicit antar dua hal yang naturnya berbeda tapi
memiliki sesuatu kesamaan; suatu deklarasi bahwa satu hal mewakili
yang lainnya (lihat Bullinger, pp. 735-743). Deskripsi ini
menunjukan maksud dari pendahuluan ini, tapi harus diakui merupakan
penyederhanaan. Metafora yang murni sebenarnya kiasan pengubahan /
figures of transference (untuk detilnya, lihat Gustav Stern,
Meaning and Change of Meaning, chapter xi). Itulah alasan
mengapa banyak yang memilih menggunakan ?metaphorical language?
menyamakannya dengan ?figurative language? tanpa membedakannya lebih
lanjut. Pelajaran ini akan mewaspadainya; beberapa tafsiran
menggunakan kata ?metaphor? untuk merujuk pada setiap bahasa kiasan,
saat kiasan itu bukanlah sebuah metafora.
-
?The question of federal aid to education is a bramble patch.?
Pikiran mengenai ?federal aid to education?
dikatakn sebagai sebuah ?bramble patch? (bukan ?seperti? sebuah
bramble patch). Maksudnya adalah sulit, tidak mudah diselesaikan,
?menyulitkan.? Metaforanya membawa perasaan frustrasi, rumit, sakit.
-
?The LORD God is a sun and a shield.? (Ps. 84:12
[11])
TUHAN dibandingkan dengan ?sun? dan ?shield.?
Masing-masing metafor memberi informasi yang berbeda mengenai TUHAN.
?sun? menunjukan terang, kehangatan, pemeliharaan bagi pertumbuhan;
?shield? terutama sekali mewakili perlindungan. Jadi baris diatas
membawa satu perasaan aman dalam pemeliharaan Tuhan dan perlindungan
dalam hidup.
-
?The LORD is my shepherd.? (Ps. 23:1)
Didalam baris ini satu perbandingan dinyatakan
antara TUHAN (suatu roh) dan seorang gembala (seorang manusia yang
menjaga ternak). Kualitas utama dari gembala diberikan kepada TUHAN
sehingga pengertian mengenai naturNya bisa tercapai. Baris berikut
mazmur ini (ayatv 1-4) memperluas dan menguji metafora ini, sehingga
aktifitas menggembala seperti memberi makan ternak, membimbing
mereka, dan menyegarkan mereka, semua diambil untuk
mengkomunikasikan pelayanan spiritual TUHAN kepada umatNya yaitu
mengajar kebenaran, membersihkan dari dosa, dan membimbing mereka
dalam kebenaran dan keadilan. Jadi kita bisa lihat kalau konteksnya
harus dipertimbangkan dalam menjelaskan sebuah kiasan.
Kiasan dari ?shepherd? cukup sering digunakan
sehingga mendapatkan status leksikal, dan karena itu kamus-kamus
sering meletakan penggunaan kiasannya sebagai salah satu kategori
arti. Bahkan didalam kamus Inggris dibawa kata ?shepherd? anda akan
menemukan ?penggunaan dalam kotbah bagi pelayan.? Saat ini terjadi
kiasan dikelompokan sebagai sebuah dead metaphor, atau sebuah idiom.
Tapi, dalam eksegesis anda harus menafsirkannya seperti metafora
lainnya, karena itu adalah penggunaan kiasan dari satu istilah.
3. Hypocatastasis:
Implikasi, suatu deklarasi yang menunjukan perbandingan antara dua
hal yang berbeda nature tapi memiliki sesuatu yang sama. Tidak
seperti diatas, dalam hypocatastasis subjek harus ditarik kesimpulan
(lihat Bullinger, pp. 744-747; Bullinger, tidak memberi banyak
perhatian terhadap kiasan yang sangat umum ini). Lebih mudah
mengatakan hal ini sebagai sebuah implied metaphor jika judulnya
terdengar terlalu teknikal atau sulit. Bentuk utama yang ada dalam
teks, kiasan akan diekspresikan sepenuhnya, tapi topik atau subjek
sebenarnya akan dibenamkan. Sebagai contoh, ?Smite the shepherd and
the flock will be scattered? adalah suatu pernyataan yang tetap pada
tingkatan kiasan. Eksegetor harus mengerti dari konteks atau
penggunaan istilah itu maksud dari ?shepherd? dan ?flock.?
-
?Dogs have surrounded me.? (Ps. 22:17 [16])
Pemazmur membandingkan musuh-musuhnya dengan
anjing. Tidak ada anjing-anjing yang mengurung dia; konteksnya
memberitahu itu adalah sekelompok orang jahat. Jika dia memang
menggunakan sebuah simile, dia akan menyatakannya secara eksplisit
?my enemies are like dogs.? Sebuah metafora langsung akan berkata
?my enemies are dogs.? Tapi dia hanya berkata ?dogs have surrounded
me,? dan anda ditinggalkan untuk menentukan apakah mereka adalah
anjing, dan jika bukan apakah artinya. Saat ini dilakukan, anda
harus kembali ke kiasan itu dan bertanya mengapa dia membandingkan
mereka dengan anjing-anjing. Anjing-anjing di Timur Dekat kuno
adalah pelacak ?mereka bergerombol dan mencari makanan. Seperti
burung bangkai dipadang pasir mereka mengambil bangkai. Jadi sudah
berbicara banyak mengenai musuh-musuhnya, dan kondisinya ?dia
sekarat.
-
?Blessed is the man whose quiver is full of them? (Ps.
127:5)
Didalam konteksnya pemazmur telah menggunakan
sebuah simile untuk membandingkan anak dengan panah ditangan seorang
pejuang. Membangun dari titik itu pemazmur menggunakan ?quiver?
untuk merujuk rumah tangganya. Jika anak ?seperti? panah, maka rumah
seperti quiver?tapi rumah tangga sama sekali tidak disebutkan.
Demikianlah perbandingan itu dibuat.
-
?My frame was not hidden from You,
When I was made in secret,
and skillfully wrought
in the depths of the earth.? (Ps. 139:15)
Didalam bagian ini pemazmur menggambarkan bagaimana
Tuhan membentuk dia dalam kandungan ibunya ?tapi dia menyebutnya
dengan ?depths of the earth.? Dia membandingkan kandungan dengan
bagian terdalam bumi, menekankan jauhnya dan tersembunyi (ini
sebelum sonograms). Tapi dia tidak menyatakan perbandingan; dia
hanya menggunakan kiasan untuk menyatakan perbandingan. Salah satu
alasan bagi perbandingan aneh ini adalah retorika: dia ingin
membentuk satu hubungan dengan hal sebelumnya dimana dia
menggambarkan kehadiran Tuhan diwilayah yang jauh seperti itu (lihat
Ps. 139:7-12).
-
?A lion has gone up from his thicket.? (Jer. 4:7)
Konteksnya akan menjelaskan bahwa pemikirannya
adalah raja Babilon yang telah meninggalkan wilayahnya. Perbandingan
dengan seekor singa menekankan sifat garang kekuasaan kafir ini, dan
membawa perasaan takut diserang dan kematian. Penulis sering
menggunakan binatang atau binatang liar dalam hypocatastases mereka
sebagai aturan dalam menekankan kekuasaan garang seperti itu.
Faktanya, penglihatan Daniel mengenai binatang-binatang
mempersiapkan penglihatannya tentang ?one like the Son of Man? yang
akan menggantikan mereka (Dan. 7:12, 13).
4. Perumpamaan:
ditempatkan disamping (dari para = beside, dan ballein
= to cast) dua hal yang naturnya berbeda tapi memiliki beberapa
kesamaan; suatu simile yang diperluas, sebuah narasi anekdot
dibuat untuk mengajarkan sesuatu. Perluasan dari perbandingan harus
ditebak dan diuji oleh petunjuk lain dalam tulisan (lihat Bullinger,
pp. 751-753).
?Perumpamaan? digunakan sekitar 30 kali untuk
menerjemahkan lvm, masal, dan
hanya kata itu; tapi contoh yang paling terkenal ditemukan dalam
Perjanjian Baru.
-
?The kingdom of heaven is likened unto a man that sowed good seed
in his field.? (Matt. 13:24ff.)
Perumpamaan sebenarnya merupakan sebuah cerita yang
didasarkan pada sebuah simile, artinya, simile yang diperluas. Tidak
selalu mudah untuk menentukan berapa banyak cerita yang sebaiknya
ditafsirkan sebagai bagian dari simile. Cukup aman mengatakan kalau
tujuan utama dari perumpamaan adalah apa yang dimaksud oleh cerita;
tapi bersamaan dengan itu perbandingan lain juga jelas terlihat
(e.g., saudara laki-laki tertua mewakili orang Farisi).
5. Alegory: (dari allos =
another dan agourein = to speak in the agora [i.e., tempat
orang berkumpul]); sebuah metafora yang diperluas (lihat
Bullinger, pp. 748-750).
Para ekspositor sering berkata kalau sebuah
alegori merujuk pada sesuatu yang non histories dalam perbandingan;
tapi ini lebih bersifat pembelaan daripada factual, dibuat untuk
mempertahankan diri terhadap penggunaan alegori Alkitab yang hampir
tak terbatas oleh beberapa Bapa Gereja. Tapi dalam arti klasiknya
sebuah alegori merupakan metafora yang diperluas; hal yang digunakan
dalam perbandingan bisa bersifat histories atau fiksi, masing-masing
alegori membutuhkan perhatian tertentu. Maka dari itu, penggunaan
istilah itu dalam Galatia 4:24 adalah sah ?karena itu tidak menolak
historitas dari peristiwa Perjanjian Lama.
Tidak banyak contoh alegoris dalam Perjanjian
Lama; dan yang teringat, gambarannya tidak histories atau aktual.
-
Alegori mengenai Fig, Olive, Vine, and Bramble (Ju. 9:7-15):
Ini bukan sebuah perumpamaan karena tidak ada
kemiripan yang dinyatakan secara eksplisit. Tapi, sebuah
hypocatastasis yang diperluas, hanya satu dari dua hal dalam
perbandingan yang secara jelas dinyatakan. Dalam konteks maksudnya,
hanya yang tidak berharga, yang ingin memerintah bangsa.
-
Alegori mengenai Kebun Anggur yang tidak Produktif (Isa. 5:1-7):
TUHAN dibandingkan dengan tukang kebun yang setia,
Sang Kekasih, dan Israel dengan kebun anggur yang tidak produktif
(v. 7). Pendapat umum antara Israel dan kebun anggur adalah suatu
pendapatan yang tidak adil, dan perasaan umum adalah jijik. Israel
seharusnya menghasilkan ?fruit? karena pekerjaan seksama dari
?gardener.?
6. Personifikasi: Personifikasi:
(dari Latin persona: topeng aktor, person + facio = to
make; dibuat atau meniru seseorang); peletakan subjek non-manusia
(e.g., abstraksi, objek mati, atau binatang) kepada kualitas
manusia atau kemampuan. Sama seperti seluruh kiasan diatas,
kiasan ini juga ada dalam sub-group kiasan yang melibatkan
kemiripan. Disini, hal-hal yang dibandingkan adalah naturnya tidak
mirip, tapi hal yang selalu dibandingkan adalah seseorang. Kiasan
digunakan untuk mengatur emosi dan menciptakan empati terhadap
subjek (lihat Bullinger, pp. 861-869).
-
?The land mourns--the oil languishes.? (Joel 1:10)
Kecenderungan manusia untuk mourning dan
languishing diatributkan kepada tanah, dan dibandingkan. Tapi
maksudnya adalah bencana agricultural yang ekstrim, dan perasaannya
adalah kesedihan dan duka.
-
?The voice of your brother?s blood cries to me from
the ground.? (Gen. 4:6)
Darah Habel yang tertumpah dipersonifikasikan
dengan suatu suara yang berteriak. Maksudnya adalah darah itu adalah
sebuah saksi kalau suatu pembunuhan telah dilakukan. Hal itu
menuntut pembalasan; dan membawa perasaan penghukuman dan kemarahan.
-
?Your rod and your staff, they comfort me.? (Ps. 23:4)
Disini kemampuan manusia untuk memberi penghiburan
saat kesulitan diberikan pada gadah dan tongkat TUHAN. Tentu saja,
?rod? dan ?staff? juga kiasan, meneruskan perbandingan antara
aktifitas TUHAN dengan gembala (jadi mereka adalah hypocatastases).
Baris ini pada intinya menegaskan kalau cara TUHAN melindungi
mendatangkan penghiburan bagi pemazmur yang sedang khawatir. Ini
menjadi contoh yang baik mengenai bagaimana sebagian kiasan dibangun
diatas kiasan lain.
7. Anthropomorphism: Suatu
perbandingan implicit atau eksplisit Tuhan dengan beberapa aspek
jasmani umat manusia. Melalui perbandingan ini penulis tidak ingin
menimbulkan kesan tapi bersifat didaktik, viz., untuk
mengkomunikasikan kebenaran mengenai pribadi Tuhan. Penulis akan
memilih bagian dari kehidupan manusia yang paling berhubungan dengan
karakteristik pribadi Tuhan: yaitu, wajah menunjukan kehadiranNya,
mata menunjukan kewaspadaanNya, telinga menunjukan perhatianNya,
hidung menunjukan kemarahanNya, dan hati berbicara mengenai maksud
moralNya (lihat Bullinger, pp. 871-881, 883-894). Pernyataan
Ketuhanan menuntut penggunaan bahasa anthropomorphic, yaitu,
mengkomunikasikan nature Tuhan dalam bahasa yang dimengerti manusia.
Diseluruh PL Tuhan digambarkan sepertinya Dia memiliki semua bagian
dan fungsi manusia. Hal inilah mungkin menjadi alasan Yesus
digambarkan sebagai wahyu Tuhan yang sempurna, alpha dan
omega, Logos?inkarnasi Firman (Word) (atau apakah kita
bisa mengatakan ?perkataan-perkataan (words)??) menjadi daging.
-
?His eyes behold, his eyelids try, the sons of men.?
(Ps. 11:4)
Pemazmur, ingin menunjukan perhatian Tuhan terhadap
seluruh kegiatan manusia, menggunakan ekspresi ?eyes? dan ?eyelids.?
Tuhan adalah Roh dan bukan jasmani; lebih lagi, kemaha-hadiran ilahi
tidak memerlukan eyelids untuk lebih focus memperhatikan. Tapi apa
arti semua itu bagi hidup manusia memampukan kita untuk mengerti
aktifitas investigasi dan penghakiman ilahi.
-
?Incline your ear to me.? (Ps. 31:3 [2])
Sekali lagi, ekspresinya manusia ?kita
mencondongkan badan untuk mendengar lebih baik apa yang seseorang
katakana. Tuhan tidak perlu melakukan hal ini (dia tidak perlu
telinga yang dicondongkan untuk mendengar doa seseorang).
Anthropomorphisms seperti itu untuk kepentingan kita ?itu suatu
seruan pada Tuhan untuk mendengar doa.
-
?Hide your face from my sins.? (Ps. 51:11 [9]).
Ini ada dalam pengakuan dosa Daud. Dia berdoa agar
Tuhan mau mengampuninya dan tidak melihat dosannya lagi. Kegiatan
manusia ?hiding one?s face.? Artinya tidak melihat sesuatu,
penggambarannya menunjukan keinginannya dan mendatangkannya
penghiburan.
Alkitab dipenuhi dengan ekspresi anthropomorphic
mengenai Tuhan yang harus ditafsirkan dengan jelas (dan hati-hati
karena banyak orang melihatnya secara literal). Tuhan digambarkan
memiliki ?tangan kekal,? ?tangan penolong,? ?nafas mematikan dari
hidungnya,? ?kaki?; dia digambarkan ?sitting enthroned,? ?hurling a
storm,? ?blotting out of a book,? ?putting tears in a bottle,? dan
berbagai ekspresi kiasan lainnya dari realitas manusia. Semuanya
dimaksudkan untuk menyatakan pribadi dan karya TUHAN dalam istilah
yang bisa kita mengerti dan hargai.
Tapi perhatikan ini: Banyak
penulis membedakan kiasan ini dari gambaran keinginan Tuhan yang
mereka sebut sebagai anthropopatheia: perbandingan
implicit atau eksplisit antara nature keinginan Tuhan dan manusia.
Melakukan hal ini memberi kesan kalau Tuhan sebenarnya tidak
memiliki keinginan atau emosi. Pernyataan ini sangat membatasi
personalitas Tuhan, secara tradisi didefinisikan seabgai
intelektual, sensibilitas dan kehendak. Saya sama sekali tidak
menggunakan kategori ini, tapi mempertahankan passion Tuhan itu
secara literal (lihat Bullinger includes it on pp. 882, 883).
8. Zoomorphism: Suatu
perbandingan eksplisit atau implicit Tuhan (atau entitas lainnya)
dengan binatang atau bagian dari binatang (lihat Bullinger, pp. 894,
895; Bullinger meletakannya dibawah anthropomorphism).
-
?In the shadow of your wings I used to rejoice.? (Ps. 63:8)
Tentu saja, Tuhan bukan burung dengan sayap.
Perlindungan Tuhan seringkali diekspresikan dalam istilah
zoomorphic, artinya, percaya dibawah bayang sayapnya. Berbicara
mengenai keamanan dan keselamatan.
N.B. Seringkali binatang memiliki suatu
signifikansi simbolis. Bullinger mengutip Genesis 4:7 (?Sin crouches
at the door?) sebagai contoh personifikasi. Walaupun kata kerja
rabats, ?to couch,? menunjukan kegiatan manusia, lebih sering
digunakan terhadap binatang, terutama singa, yang siap menerkam.
Lebih lagi, kiasan seharusnya ditafsirkan dalam terang perintah
kepada umat manusia untuk menguasai binatang. Jika demikian, maka
Tuhan memerintahkan Kain untuk menguasai dosa yang mengancamnya
seperti seekor singa. Jika penafsiran ini benar, kiasan yang
digunakan adalah suatu zoomorphism.
Kita bisa melihat melalui hal ini kalau
zoomorphism tidak terbatas untuk menggambarkan Tuhan. Mazmur 139:9
berkata, ?If I take the wings of the dawn, and settle in the
remotest part of the sea,? membandingkan sinar matahari dengan sayap
seekor burung yang terbang dari timur dan mendarat di kejauhan
barat. Maksud konteksnya adalah tidak perduli secepat atau sejauh
apa dia ?terbang / fly? (yaitu dengan kecepatan cahaya) Tuhan selalu
ada.
9. Proverb: (dari pro +
verbum = more at word); suatu witticism singkat yang populer;
sebuah ilustrasi spesifik untuk menunjukan sebuah kebenaran umum
mengenai kehidupan. ?The wit of one is the wisdom of many? (lihat
Bullinger, pp. 755-767). Maksud dari perbandingan seringkali
eksplisit (?like father--like son?), tapi lebih sering kabur.
-
?Is Saul also among the prophets?? (1 Samuel 10:11)
Tindakan Saul seperti para nabi ?tapi dia adalah
raja. Axiomnya adalah mereka kagum atas peran yang terbalik. Maksud
perbandingan menjadi jelas dalam analisa penggunaan masal.
Mazmur 49, suatu mazmur hikmat, menggunakan kata kerja itu dalam
ekspresi berulang yaitu manusia duniawi ?is like? binatang yang
binasa.
-
?The fathers eat the sour grapes,
but the children?s teeth are set on edge.? (Ezek. 18:2)
Perbandingannya jelas dalam kiasan; kebenaran umum
diekspresikan melalui perkataan, bahwa anak secara tidak adil
menerima hukuman dari orangtua.
Proverbs sangat rumit dalam tulisan Ibrani.
Pelajar Alkitab harus menelitinya lebih lanjut, terutama saat
mempelajari kitab seperti Amsal. Proverbs bukan kiasa utama dalam
mempelajari Mazmur.
10. Idiom: pemunculan regular
dari kiasan. Setiap kiasan (termasuk yang mengikutinya) bisa menjadi
idiomatic melalui penggunaannya secara sering sehingga mencapai
status leksikal. Bullinger memberi banyak contoh ekspresi idiomatic
dalam Alkitab seperti ?breaking bread,? ?open the mouth,? ?the Son
of Man,? ?turn to ashes,? ?three days and three nights? dan banyak
lagi (lihat Bullinger, pp. 819-860). Sebuah idiom juga disebut dead
metaphor, kiasan rendah, atau kiasan yang sering digunakan. Hal ini
dengan mudah dijalankan jika digunakan secara baru.
Walaupun idioms bisa langsung dikenal sebagai
idiom, ekspositor tetap harus mengevaluasi kiasan apa yang aslinya
terlibat. Saat ini dilakukan, penafsiran akan diterapkan pada
penggunaan berikutnya. Sebagai contoh, ?way? itu idiomatic. Bisa
juga metaphorical (?way? atau ?road? dibandingkan dengan pola
hidup), suatu maksud dasar yang seringkali perlu dibuat. Jangan
menganggap idiom dalam Alkitab bisa dimengerti dengan mudah.
II. Kiasan Melibatkan Pengganti
11. Metonymy: Perubahan
kata benda (atau ide apapun), perubahan satu kata dalam menamai
suatu objek dengan kata lain yang berkaitan erat dengannya. Dari
kata meta menunjukan ?change? dan onoma artinya ?a
name, noun?; tapi sebuah metonymy juga bisa dikatakan dengan sebuah
kata kerja, atau seluruh baris. Pengganti sebagian atribut atau kata
petunjuk dengan apa yang dimaksud. Sebagai contoh, ?crown? untuk
?royalty,? ?mitre? untuk ?bishop,? ?brass? untuk ?military officer,?
?pen? untuk ?writer,? ?bad hand? untuk ?poorly-formed characters.?
Berlainan dengan kiasan diatas yang didasarkan pada kemiripan,
metonymy didasarkan pada hubungan. Saat kiasan didasarkan pada
kemiripan, perbandingan yang dibuat imajinatif; dalam metonymy kata
yang memicu asosiasi merupakan realitas histories?disana memang
adalah sebuah crown, a mitre, brass, pen, dan lainnya. Tapi
maksudnya lebih dari itu.
Hal ini penting, karena anda akan mendapatkan
kesulitan terbesar dalam membedakan metonymy dari hypocatastasis.
Jika kita berkata, ?the White House said today,? itu adalah sebuah
metonymy, ?White House? pengganti President di White House. Tapi
memang ada yang namanya White House. Jika kita mengatakan ?Uncle Sam
wants you,? kita memiliki sebuah hypocatastasis. Tidak ada yang
Uncle Sam. Huruf U.S. diambil dan dibandingkan dengan seseorang
(bisa juga dikatakan sebagai personifikasi).
Bullinger menganalisa metonymy kedalam empat
bentuk; viz., sebab, efek, subjek, sisipan. Semuanya
membantu, tapi akan terlihat kalau analisa tidak selalu hanya pas
penuh pada salah satunya (lihat Bullinger, pp. 538-608).
a. Metonymy dari Sebab: Saat
penulis menyatakan sebab tapi memaksudkan efek (Bullinger, 540-560).
Cara untuk mengujinya adalah jika anda menyebut sesuatu itu sebuah
metonymy sebab anda harus menyatakan apa efek yang diinginkan.
Contoh dimana alat diletakan untuk akibat:
-
?And the whole earth was of one lip.? (Gen. 11:1)
Ayat itu berarti setiap orang berbicara bahasa yang
sama. ?Lip? adalah sebab, alat?jadi ekspositor harus menyatakan
akibatnya, ?language.?
-
?At the mouth of two or three witnesses? (Deut. 17:6)
Arti yang dimaksud adalah kesaksian dari saksi;
?mouth? adalah sebab, alat memberi kesaksian.
Contoh dimana hal atau tindakan diberikan untuk
akibat:
-
?Pour out your anger upon the nations.? (Ps. 79:6)
?Anger? adalah emosi dibelakang penghukuman.
Pemazmur ingin Tuhan mencurahkan (juga sebuah kiasan, suatu implied
comparison) tindakan penghukuman. Jadi sebab dinyatakan, akibatnya
--penghukuman?yang dimaksud.
-
?Continue your loyal love to those who know you.? (Ps.
36:10)
Atribut dinyatakan, tapi berkat spiritual dan
materi yang dibawa kasih setia Tuhan yang dimaksudkan. Sebagian
besar kasus, atribut Tuhan merupakan metonymy sebab, karena
komunikasi atribut-atribut itu yang dimaksud (maka dari itu: atribut
yang bisa dikomunikasikan).
Contoh dimana tindakan seseorang, agen atau aktor,
diberikan untuk akibat:
-
?They have Moses and the Prophets.? (Luke 16:29)
Hal yang dimaksud adalah mereka memiliki Alkitab
yang Musa dan Para Nabi tulis. Sebab dinyatakan, akibatnya yang
dimaksud. Maksudnya ingin mengatakan dua hal satu kali; menenkankan
otoritas dengan memberikan identifikasi penulisnya, tapi dengan
jelas menyatakan kalau Kitab Sucilah yang dimaksud (mereka tidak
memiliki Musa).
b. Metonymy Akibat: Saat penulis
menyatakan akibat tapi memaksudkan sebab yang menghasilkannya
(Bullinger, pp. 560-567).
Terkadang satu baris parallelism puisi akan
memberi metonymy sebab dan metonymy akibat bersamaan untuk
mengekspresikan keseluruhan ide: ?Then he will speak (sebab)
to them in his anger, and terrify (akibat) them in his fury.?
(Ps. 2:5).
Contoh dimana akibat diberikan untuk hal atau
tindakan yang menghasilkannya:
-
?Entreat the LORD your God, that he may take away from me this
death only.? (Exod. 10:17)
Belalang! Itulah yang ingin disingkirkan Firaun.
Tapi jika mereka diijinkan untuk tinggal, mereka akan menghancurkan
tanah dan penghuninya. Untuk membuat permintaannya lebih jelas dia
mengganti akibat dengan sebab.
-
?Cause me to hear joy and gladness.? (Ps. 51:10[8])
Seluruh baris merupakan sebuah metonymy akibat.
Pemazmur ingin mendengar ucapan kuno mengenai pengampunan dari nabi.
Akibat diampuni adalah pemazmur sekali lagi bisa bergabung bersama
jemaat dengan teriakan sukacita kepada Tuhan dan mendengar seluruh
jemaat bersukacita. Dia ingin keduanya diampuni dan masuk kedalam
pujian; dia menyatakan akibat dan mengimplikasikan akibat.
Contoh dimana akibat diberikan untuk objek
material yang darinya dihasilkan:
-
?You split the fountain and the flood.? (Ps. 74:15)
Dia membelah dua batu itu, dan air keluar.
Penggunaan metonymies disini sangat ekonomis, karena jelas bahwa
Tuhan tidak membelah air. Pembaca ingin tahu sebab, batu itu, yang
dimaksud, tapi akibatnya, air dari batu itu, yang dinyatakan.
?Fountain? dan ?flood? juga merupakan ekspresi kiasan dari air. Jadi
baris itu ?berbicara? lebih dari ekspresi literalnya.
Contoh dimana akibat diberikan sebagai instrumen
atau sebab organis:
-
?Awake, my glory? (Ps. 57:9[8])
Akibat yang dinyatakan adalah ?glory?; sebab yang
maksud adalah lidah yang memuji adalah untuk memuliakan Tuhan.
Mungkin juga ?glory? mewakili seorang pribadi (bandingkan Keluaran
33:18, ?show me your glory,? yang bisa berarti ?show me yourself? [
= LXX], the real you).
Contoh dimana akibat diberikan bagi pribadi atau
agen yang menghasilkannya:
-
?But you, O LORD, be not far off;
O my help, hasten to my assistance.? (Ps. 22:19[181)
Akibat yang dinyatakan disini adalah help, hal yang
akan diterima pemazmur. Sebab yang dimaksud adalah TUHAN.
c. Metonymy Subjek: saat subjek
atau benda diberikan sebagai atribut atau sisipannya, yaitu tempat
atau konteiner diberikan bagi isinya (Bullinger, pp. 567-587).
Contoh dimana penampung diberikan bagi isi:
-
?The grave cannot praise you.? (Isa. 38:18)
Ini merupakan motif umum dalam Alkitab Ibrani. Sang
nabi bermaksud mengatakan kalau orang mati dalam kuburan tidak bisa
memuji Tuhan. Menggunakan kata ?grave? menambah tekanan dan
menggerakan Tuhan untuk menjaga individu agar tetap hidup untuk
memujiNya.
-
?You prepare a table before me? (Ps. 23:5)
Subjek-ide yang dinyatakan adalah ?table,? tapi
yang dimaksud adalah makanan dan minuman dimeja. Arti literal dari
mempersiapkan meja, yaitu, i.e., carpentry, tidak tepat disini,
karena pemazmur menyatakan pemeliharaan spiritual dan fisik bagi
kehidupan.
-
?The voice of the LORD shakes the wilderness.? (Ps. 29:8)
Sebagai sebuah metonymy subjek ?wilderness?
menunjukan flora dan fauna dibelantara. Dalam kalimat ?voice of
Yahweh? juga kiasan, apakah merupakan sebuah metonymy sebab bagi
badai (Tuhan memerintahnya), atau hypocatastasis bagi kemiripan
guntur dengan suara itu.
Contoh dimana hal atau tindakan diberikan bagi
yang dihubungkannya (the adjunct):
?Soul? [jika itu terjemahannya, merupakan
terjemahan yang salah dari kata Ibrani vpn,,
nephesh, yang artinya keseluruhan seorang pribadi, tubuh dan
jiwa] untuk desires, appetites; ?heart? untuk thoughts,
understanding, courage, will; ?kidneys? untuk conscience,
affections, passions; ?liver? untuk emotions, center of immaterial
part (lihat Bullinger, pp. 567-570; see also Hans W. Wolff,
Anthropology of the Old Testament).
-
?You are near in their mouth (i.e., words [met. of cause]) but far
from their kidneys.?
Ibraninya dihubungkan dengan organ visceral dengan
kehendak dan emosi, seperti dunia barat modern menggunakan kata
?heart? untuk strong will (?believe with your heart?) atau strong
affection (?love with all my heart?). Semua ini kita kelompokan
sebagai metonymy subjek, dan kemudian tafsirkan sisipan yang
berhubungan --will, desire, thoughts, etc.
Contoh dimana kepemilikan diberikan bagi hal
yang dimiliki:
-
?Saul, Saul, why are you persecuting me?? (Acts 9:4)
Subjek-ide yang dinyatakan adalah ?me,? i.e.,
Jesus; tapi ide yang dimaksud adalah GerejaNya. Maksudnya adalah
sesuatu yang umum dalam Alkitab ?menindas Gereja sama dengan
menindas Kristus.
Contoh dimana tanda diberi bagi hal yang
dimaksud:
-
?The scepter shall not depart from Judah.? (Gen. 49:10)
Maksud dari perkataan leluhur adalah Judah (disini
suku bukan patriarch [met. of cause]) akan mendapatkan supremasi
atas suku atau kepemimpinan.Tanda kepemimpinan adalah sebuah
tongkat, jadi kita mengelompokannya sebagai metonymy subjek karena
maksudnya lebih daripada (secara literal) mendapat sebuah tongkat.
-
?Kiss the son? (Ps. 2:12)
Dalam contoh ini kita memiliki sebuah ide kata
kerja yang digunakan sebagai sebuah metonymy. Hal ini tidak terlalu
umum, tapi bisa terjadi. Ide yang dikemukakan yaitu mencium anak
dimaksudkan untuk menunjukan sisipan, yaitu, apa yang dihubungkan
dengan tindakan tunduk, memperlihatkan homage. ?Son? juga kiasan
dalam mazmur itu, disini merupakan sebuah implied metaphor, tapi
menyatakan lebih dulu metafor dalam bagian tersebut (?you are my
son?).
d. Metonymy Sisipan: Penulis
meletakan sisipan atau atribut atau beberapa keadaan yang berkaitan
dengan subjek bagi subjek tersebut (Bullinger, pp. 587-608).
Contoh dimana atribut diberikan bagi hal atau
objek:
-
?Then shall you bring down my gray hairs with sorrow to the
grave.? (Gen. 42:38)
Sekarang kita memiliki kebalikan dari metonymy
subjek. Disini sisipan --gray hairs?diberikan bagi subjek --old
Jacob. Jelas, lebih sekedar gray hairs yang akan dibawa kekubur
(?grave? adalah sebuah metonymy subjek bagi kematian).
Contoh dimana waktu diberikan bagi hal yang
dilakukan didalamnya:
-
?For the shouting for your summer? (Isa. 16:9)
Maksud yang diinginkan adalah panen yang terjadi
dimusim panas. Dengan mengganti musim panas nabi itu mengekonomisasi
deskripsinya dan membawa lebih daripada sekedar ?harvest?. ?Summer,?
waktu panen, adalah ide sisipan (sesuatu deskripsi yang dihubungkan
dengan ide itu).
Contoh dimana isi diberikan bagi penampungnya:
-
?And when they had opened their treasures? (Matt. 2:11)
Mereka membuka peti yang menampung treasures.
Disini sisipan ini dikemukakan (isi dari penampung) tapi subjeknya
yang dimaksud (penampung).
Contoh dimana pemunculan satu hal diberikan bagi
hal itu sendiri:
-
?His enemies shall lick the dust.? (Ps. 72:9)
Ini merupakan deskripsi jelas mengenai kekalahan
musuh. Subjek-ide yang dimaksud bahwa musuh yang dikalahkan, ada
dalam suatu keadaan menyedihkan; tapi deskripsi yang dikemukakan
adalah sebuah sisipan dari kekalahan itu.
Contoh dimana hal yang dirujuk diberikan bagi
tanda itu:
-
?because the separation is on his head? (Num. 6:7)
Ekspresi ini berasal dari pasal mengenai sumpah
Nazirite dimana pelakunya tidak akan memotong rambutnya. Tanda yang
diinginkan dari sumpah adalah rambut yang tidak dipotong
(subjeknya), tapi hal yang ditunjukan dikemukakan --pemisahan.
?Separation? bukan sebuah metonymy akibat, karena akan berkata kalau
rambut panjang menyebabkan sumpah.
Contoh dimana Nama seseorang diberikan bagi
orang itu:
-
?May the name of the God of Jacob protect you.? (Ps. 20:2)
Judul yang dikemukakan adalah ?name?; tapi maksud
yang diinginkan adalah TUHAN sendiri, atau lebih lagi, seluruh
atribut TUHAN. Ini sama dengan ?ask anything in my name.?
12. Synecdoche: pertukaran ide
yang berhubungan satu sama lain. Didalam kiasan ini satu kata
menerima sesuatu dari yang lainnya yang tidak terekspresikan tapi
dihubungkan dengannya karena berasal dari genus yang sama. Seperti
metonymy kiasan itu didasarkan pada suatu hubungan bukannya
kemiripan. Tapi saat dalam metonymy pertukaran bisa dilakukan antar
kata-kata yang berhubungan tapi berasal dari genera yang berbeda
(karena itu hubungannya tipis melalui kontak atau ascription).
Didalam synecdoche pertukarannya dilakukan antar dua kata yang
berhubungan secara generic. Sebagai contoh, ?ends of the earth?
sebagai sebuah metonymy subjek yang artinya orang yang hidup
diujung bumi, tapi sebagai sebuah synecdoche itu bisa berarti lokasi
yang secara geografis jauh sebagai bagian dari tanah --tanahs, bukan
orang.
Sebagai petunjuk umum, kita bisa menggunakan
synecdoche bagi kiasan yang benar-benar merupakan sebagian dari
keseluruhan, atau keseluruhan bagi sebagian ?lebih berhubungan
dengan hal yang dimaksud daripada sebuah metonymy umumnya.
Penggunaan Genus dan Species tidak sesering Seluruh dan Sebagian,
tapi bisa digunakan bagi hal-hal yang benar-benar berhubungan secara
generis.
a. Synecdoche dari Genus: Genus
digantikan dengan species: e.g., senjata dengan pedang, mahluk
dengan manusia, tangan dengan senapan, kendaraan dengan sepeda
(Bullinger, pp. 613-656).
Kata-kata dari arti luas bagi arti yang lebih
sempit:
-
?The glory of the LORD shall be revealed, and all flesh
shall see it together.? (Isa. 40:5)
Kata umum ?flesh? digunakan menggantikan ide
tertentu ?mankind? (mereka ada dalam suatu hubungan genus-species).
Metonymy tidak akan berhasil (sebab? akibat? subjek? sisipan?); jika
anda pikir itu sebuah metonymy, anda perlu memberikan ide yang
dimaksud untuk kepentingannya.
-
?Preach the gospel to every creature.? (Mark 16:15)
Genus yang dikemukakan adalah ?creature?; species
yang dimaksud adalah ?people.? Ingat bagaimana St. Francis
melihatnya secara literal.
?All? bagi bagian yang lebih besar:
-
?All the people were gathered to Jeremiah.? (Jer. 26:9)
Penggunaan ?all? bisa ditangani sebagai suatu
masalah leksikal. Genus yang dikemukakan disini adalah ?all the
people,? tapi arti yang diinginkan adalah ?the greater number of the
people.?
?All? untuk semua jenis:
-
?It contained all four-footed animals.? (Acts 10:12)
Kita akan ragu kalau penglihatan berisi seluruh
binatang-binatang berkaki empat. Maksudnya adalah seluruh jenis
binatang berkaki empat (i.e., every kind) diwakilkan.
Universal dengan particular:
-
?Saul said nothing that day.? (1 Sam. 20:26)
Synecdochenya adalah ?nothing,? tapi arti yang
diinginkan adalah ?nothing about David.? Kita juga menemukan dalam
bahasa Inggris kalau kata-kata universal seringkali dimaksudkan
untuk menandai sesuatu yang lebih spesifik. Saya teringat tentang
kalimat yang ditujukan bagi Yogi Berra, ?Nobody goes there anymore,
the place is too crowded.?
b. Synecdoche dari Species: Species
digantikan dengan genus, sebagian bagi seluruh; e.g., roti dengan
makanan, pemotong leher dengan pembunuh (Bullinger, pp. 623-635).
Kata-kata berarti sempit bagi arti yang lebih
luas:
-
?I will not trust in my bow, neither shall my sword
save me.? (Ps. 44:7 [6])
Bentuk synecdoche ini lebih membantu secara
eksegetis. Didalam mazmur ini ?bow? dan ?sword? dikemukakan, tapi
arti yang diinginkan adalah ?weapons.?
Artinya lebih luas daripada kiasan yang dikemukakan
?tapi termasuk memasukannya.
Species dengan genus proper:
-
?A land flowing with milk and honey? (Ex. 3:8, 17)
Seringkali sebuah bus wisata di Israel akan membawa
orang ke sebuah lokasi yang terdapat sapi dan sarang lebih dan
mengutip ayat ini. Tapi artinya lebih luas: maksud genus itu adalah
seluruh makanan mewah.
-
?Give us this day our daily bread.? (Matt. 6:11)
Arti yang dimaksud adalah ?makanan dasar.? ?Daily
bread? adalah sebuah species dari genus makanan.
c. Seluruh bagi sebagian: (Bullinger,
pp. 636-640). Banyak contoh yang diberikan Bullinger lebih baik
diperlakukan sebagai masalah leksikal, terutama saat ?all / seluruh?
digunakan bagi sebagian.
-
?Behold, the world has gone after him.? (John 12:19)
Synecdoche keseluruhannya adalah ?world?; arti yang
diinginkan (sebagian) adalah semua orang.
Banyak dari kiasan ini juga melibatkan metonymy
subject?penampung bagi isi. Biasanya itu cukup untuk
mengelompokannya sebagai sebuah metonymy dan menjelaskan artinya.
Penjelasan itu akan menunjukan kalau keseluruhan diberi bagi
sebagian. Perlu diperhatikan kalau synecdoche seringkali juga
hyperbolic, atau bahkan merendahkan.
-
?And he shall serve him forever.? (Ex. 21:6)
Keseluruhannya adalah ?forever?; bagian yang
dimaksud adalah ?as long as the slave lives.? Tapi sekali lagi, ini
bisa merupakan masalah leksikal, atau caranya diterjemahkan harus
dibahas.
d. Sebagian bagi Seluruh: e.g.,
berlayar dengan kapal, kanvas dengan berlayar (Bullinger, pp.
640-656). Ini juga bisa dikelompokan dibawah ?species bagi genus,?
lebih lagi, banyak dari hal ini dekat dengan metonymy. Ini merupakan
penggunaan paling umum dari synecdoche.
Sebagian pria bagi seluruh pria:
-
?Their feet run to evil.? (Prov. 1:16)
Bagian yang dikemukakan adalah ?feet?; keseluruhan
yang dimaksud adalah ?their entire bodies? = evil people. Maksudnya
adalah hati dan jiwa mereka menuju keperbuatan jahat.
-
?The one who lifts up my head.? (Ps. 3:4 [3])
Bagi bagian yang dikemukakan, ?head,? artinya
adalah keseluruhan pribadi dalam dignity. Tapi ?to lift up the head?
lebih baik dijelaskan sebagai metonymy akibat atau sisipan, i.e.,
pemulihan dignity dan kehormatan.
Sebagian hal untuk seluruh hal:
-
?Your seed shall possess the gate of his enemies.? (Gen.
22:17)
Bagian yang dikemukakan adalah ?gate.? Tapi
keseluruhan yang dimaksud adalah kota. Sebagai sebuah synecdoche
?gate? mewakili batu bata ?kota sebenarnya. Jika anda pikir gate
berarti orang dalam gerbang itu, maka itu adalah metonymy subjek,
karena orang dan gerbang tidak terhubung secara generik.
Bagian integral manusia bagi asosiasi lainnya:
-
?Before Ephraim, Benjamin, and Manasseh, stir
up your might.? (Ps. 80:2)
Melalui bagian ini pemazmur merujuk suku diutara,
suku diselatan, dan suku Transjordan. Didalam konteks lain nama-nama
patriarchal bisa merupakan metonymies sebab (e.g., ?Judah gathered
against him? artinya keturunan Judah [met. of cause] atau orang yang
hidup di Judah [met. of subject]?tapi bukan Judah itu sendiri.
Kata-kata seperti ?seed? dan ?sons of? akan menerima pertimbangan
yang sama.
13. Merism: penggunaan dua
pernyataan berlawanan untuk menunjukan keseluruhan; e.g., siang dan
malam, musim semi dan panen, hell and high water (Bullinger, p.
435). Perhatikan daftar Bullinger dimana bagian-bagian ini terdapat
dibawah synecdoche, karena merism adalah sebuah bentuk dari
synecdoche. Tapi kiga akan menggunakan kategori yang berbeda.
-
?You know when I sit down and when I get up.? (Ps.
139:2)
Ide dari ?sitting down? dan ?rising up? adalah
berlawanan; keseluruhan yang dimaksud adalah seluruh aktifitas yang
berkaitan dengan waktu ?termasuk duduk dan berdiri. Itu berarti,
?You know every move I make??didalamnya ada kedua tindakan itu.
Disini ide yang diekspresikan memang literal, tapi maksudnya lebih
dari itu.
-
?If I ascend to heaven, You are there;
-
I make my bed in Sheol, You are there.? (Ps. 139:8)
?Heaven? dan ?Sheol? adalah berlawanan; keseluruhan
yang dimaksud adalah ruang universal dan seluruh situasi yang ada
didalamnya. Baris ini, mengekspresikan suatu vertical merism?semua
tempat dari sorga diatas dan Sheol dibawah.
-
?From the rising of the sin to the place where it sets,
the name of the LORD is to be praised.? (Ps. 113:3).
Ayat ini bisa diterjemahkan dalam salah satu cara;
bisa berarti semua tempat ?dari timur ke barat; atau, bisa berarti
seluruh waktu ?dari matahari terbit sampai matahari terbenam (?the
place? ditambahkan oleh NIV, Ibraninya hanya memiliki ?its going
in?).
14. Hendiadys: Dua untuk Satu,
ekspresi dari satu ide melalui dua istilah yang diatur secara formal
dan dihubungkan oleh ?and,? bukannya sebuah kata benda atau
adjective, atau kata kerja dan adverb. Satu komponen menentukan yang
lain (Bullinger, pp. 657-672).
-
?I will greatly multiply your pain and your conception.?
(Gen. 3:16)
Dua kata benda dihubungkan dengan sebuah konjungsi,
tapi baris berikut menjelaskan itu adalah sebuah hendiadys: ?in pain
you shall bring forth children.? Jadi satu-satunya ide adalah usaha
keras dalam membesarkan dan menjaga anak (?conception? adalah sebuah
synecdoche, sebagian bagi keseluruhan proses, karena tidak ada sakit
dalam conception).
-
?My soul shall be satisfied with fat and fatness.? (Ps.
63:6[5])
Satu ide diekspresikan lebih baik dengan membuat
salah satu kata bendanya sebagai modifier: ?abundant fatness.?
Inilah cara kita menguji katergori ini.
-
?But Abel, he also brought from the firstborn of his flock
and from the fat of them.? (Gen. 4:4).
Saya menyatakannya secara sangat literal sehingga
anda bisa melihat titik awal dari penafsiran. Penafsiran kita akan
merujuk pada: ?he also brought the fattest firstborn of his flock.?
-
?Who is like Yahweh our God? He makes high to sit.? (Ps.
113:4).
Teks ini memiliki sebuah participle diikuti oleh
sebuah infinitive; hendiadys akan memberikan suatu pembacaan yang
mulus --?He sits on high.? Ide dari ?sitting? juga adalah
anthropomorphic, ditunjukan dalam ide duduk bertahta atas bumi.
15. Euphemism: penggantian
terhadap sebuah ekspresi yang tidak ofensif atau tenang dengan yang
ofensif (Bullinger, pp. 684-688).
-
?Then his wife said to him, Do you still hold your integrity?
Bless (= curse) God and die.? (Job 2:9)
Teks itu telah menggantikan kata ?bless? karena
lebih cocok dengan kata ?God?; tapi ?curse? jelas diharuskan dalam
konteks. Mungkin sebagian besar dari euphemisms telah memasuki teks
melalui aktifitas juru tulis dan bukan bagian dari tulisan asli.
Tapi karena mereka ada, harus dimengerti.
16. Apostrophe: suatu penyisihan
subject-matter langsung untuk membahas yang lain yang hadir dalam
fakta atau imajinasi (Bullinger, pp. 901-905).
Daud berbalik dari doa tentang kesulitannya
untuk membahas mereka yang telah masalah itu padanya:
-
?Depart from me, you workers of iniquity.? (Ps. 6:9[8]).
-
?Your glory, O Israel, is slain upon your high places ? . You
mountains of Gilboa ?? (2 Sam. 1: 19-21)
-
?When Israel went forth out of Egypt ? What ails you, O
sea, that you flee?? (Ps. 114:1-5)
17. Type: sebuah ilustrasi ilahi
yang dikiaskan sebelumnya dari sebuah realitas yang berhubungan
(disebut antitype) (Bullinger, p. 768). Typology adalah sebuah
bentuk prediksi nubuat, perbedaan utama adalah bagian itu hanya bisa
dimengerti sebagai nubuat saat pemenuhan antitypenya sudah muncul
sepenuhnya. Topik ini akan dibahas dalam catatan mengenai mazmur
kerajaan.
-
?My God, my God, why have you forsaken me?? (Ps. 22:2 [1])
Kata-kata dari mazmur secara hiperbola
menggambarkan penderitaan Daud, tapi secara histori menjadi nyata
dalam Yesus. Beberapa dari ayat mazmur ini digunakan dalam
Perjanjian Baru untuk menggambarkan penderitaan Yesus.
18. Symbol: sebuah objek materi
digantikan dengan sebuah kebenaran moral atau spiritual, sebuah
tanda terlihat dengan sesuatu yang tidak terlihat. Tanda terlihat
sebagai sebuah kemiripan tetap terhadap kebenaran spiritual.
-
?I will appoint you ? a light to the nations.? (Isa. 42:6)
?Light? menjadi sebuah symbol bagi perintah rohani
dan moral (dibandingkan dengan ?darkness? diayat berikutny).
Sebenarnya, symbol ini berasal dari sebuah kiasan pembanding.
19. Irony: ekspresi pikiran dalam
sebuah bentuk yang berlawanan (dari eironeia =
dissimulation). Arti kata itu dibalik dengan menukarnya kedalam
suatu wilayah semantic yang tidak pas dengan pembicara dan/atau
subjek. Dengan menaruh kata itu kedalam suatu konteks yang tidak pas
penulis menstimulasi sebuah respon mental (Bullinger, pp. 807-815).
Didalam komedi Yunani karakter yang disebut
eiron adalah sebuah ?dissembler? yang biasanya berbicara
merendahkan atau dengan sengaja berpura-pura tidak pintar dari yang
sebenarnya, tapi menang atas alazon?si sombong yang bodoh dan
menipu diri. Pada sebagian besar penggunaan kritisnya yang beragam
istilah ?irony? memiliki arti akarnya dissimulation, atau sebuah
perbedaan antara apa yang dikatakan dengan yang sebenarnya (Abrams,
A Glossary of Literary Terms).
-
?Where are their gods, their rock in whom they trusted?? (Dt.
32:32)
Kata ?rock? (sebuah hypocatastasis menunjukan
kekuatan dan stabilitas) disini digunakan dengan maksud berlawanan.
Ilah mereka kekurangan stabilitas dan tidak bisa diandalkan.
-
?Cry louder, for he is a god.? (1 Kings 18:27)
Jelas, Elijah tidak percaya kalau Baal adalah
Tuhan, karena kalau dia adalah allah mereka tidak perlu berteriak
lebih keras. Maksud dari ironi adalah mereka seharusnya tahu kalau
dia bukan allah, dan berhenti berseru kepadanya. Seluruh baris juga
menjadi contoh dari ejekan (lihat dibawah).
20. Chleuasmos: Mengejek, sebuah
ekspresi perasaan melalui ejekan (Bullinger, p. 942).
-
?He who sits in the heavens laughs,
The LORD holds them in derision.? (Ps. 2:4)
Selain membentuk chleuasmos, baris ini sangat
anthropomorphic, baik dalam ekspresi sitting dan laughing/mocking.
Baris ini bermaksud mengatakan kalau Tuhan melihat rencana sia-sia
mereka sangat menggelikan.
21. Maledictio: Imprecation,
sebuah ekspresi perasaan melalui malediction atau execration
(Bullinger, p. 940). Lihat pembahasan mengenai imprecations dalam
tulisan tentang mazmur ratapan dan doa.
-
?When he shall be judged, let him be condemned,
and let his prayer become sin;
Let his days be few,
and let another take his office;
Let his children be fatherless,
and his wife a widow;? (Ps. 109:7f)
Pemazmur dipenuhi dengan kerinduan akan rencana
Tuhan, dan berdoa agar mereka yang melawannya akan dihukum.
Penghukuman mengambil bentuk gambaran kutukan; tapi kutukan hanya
efektif jika itu semua adalah kehendak Tuhan.
III. Kiasan Melibatkan Penambahan atau Perluasan
22. Parallelism: Baris Paralel,
hubungan satu ayat atau baris dengan lainnya (untuk pembahasan utuh
lihat pendahuluan mengenai Mazmur). Hati-hati dalam menggunakan buku
Bullinger karena dia membahasnya secara berbeda (pp. 349-362). Kita
akan mengikuti klasifikasi yang diberikan dalam tafsiran Mazmurnya
Anderson.
23. Repetisi: Repetisi dari kata
yang sama atau kata-kata dalam bagian itu. Fenomena ini memiliki
banyak variasi; dan ekspositor harus memberitahu tipe dan tujuan
dari repetisi (lihat Bullinger, pp. 189-263, merupakan bagian agak
diperluas).
-
?Whom shall he teach knowledge ? for it is precept upon precept,
precept
upon precept, line upon line, line upon line, here a little, there
a little ? .? (Isa. 28:10)
-
?My God, my God, why have You forsaken me?? (Ps. 22:2[1])
Intensnya pathos dari ayat ini diperluas oleh
repetisi melebihi apa yang dibawa oleh ekspresi orang itu.
Perhatikan juga ironinya --my God should not be forsaking me.
24. Paronomasia: repetisi
kata-kata yang mirip bunyinya dan seringkali juga dalam arti atau
asal mula (Bullinger, pp. 307-320). Jika kata-kata itu secara
etimologis berhubungan, maka itu merupakan sebuah paronomasia dalam
arti klasik; jika kata-kata itu tidak begitu berhubungan, maka itu
merupakan sebuah paronomasia longgar, atau, permainan kata phonetic.
Anda perlu bekerja dengan bahasa Ibrani untuk melihat kiasan ini.
-
?Now the earth was waste and void.? (Gen. 1:2)
Dua kata itu adalah tohu wabohu, sebuah
permainan kata phonetic. Mereka terdengar seperti berhubungan, tapi
berasal dari kata-kata yang berbeda. Frase yang mudah diingat
membantu ingatan dan mengatur pasal itu.
-
?Therefore, the name of it was called Babel, because there
the LORD confused (balal, i.e., turned into a
babble) their language? (Gen. 11:9).
Nama Babel secara etimologis tidak
berhubungan dengan kata kerja Ibrani balal, ?to
confuse??mereka adalah bahasa berbeda. Bab-ili adalah sebuah
kata Babilonia yang berarti ?gate of God?; tapi kata kerja dalam
Ibrani menangkap bunyi nama itu dan memberi komentar mengenainya
dalam konteks.
-
?God has taken away (?asaph) my reproach; and she called
his name Joseph (yoseph), saying, ?May Yahweh add (yoseph)
to me another son?.? (Gen. 30:23, 24)
paronomasia yoseph adalah benar, secara
etimologis berhubungan (dari yasaph) dan secara morphologis
identik ?keduanya adalah hiphil jussives artinya ?may he
add.? Tapi paronomasia dengan ?asaph hanyalah sebuah
permainan kata phonetic, disamping usaha yang dilakukan beberapa
sarjana untuk melacak akar dari ?Joseph? sampai ?asaph.
25. Acrostic: repetisi dari huruf
yang sama atau berikutnya dipermulaan kata atau klausa (Bullinger,
pp. 180-188).
Mazmur 119 adalah bagian yang sudah biasa bagi
kebanyakan orang; setiap baris dalam setiap bagian dimulai dengan
deretan huruf alfabet. Didalam Mazmur 34, setiap ayat dimulai dengan
sebuah huruf alfabet secara berderet, mengeluarkan waw dan
berakhir dengan ayat 21. Ayat 22, dimulai dengan sebuah pe?,
ada diluar deretan dan mungkin ditekankan. Lihat juga kitab Ratapan;
setiap pasal memiliki 22 ayat untuk deretan alfabet, tapi pasal
ketiga melipat tigakan penggunaan setiap huruf. Acrostics berlaku
sebagai mnemonic dan juga retorik.
26. Inclusio: kiasan retoris
dimana sebuah unit tulisan dimulai dan diakhiri dengan kata, frase,
atau klausa yang sama (atau mirip). Repetisi ini berlaku sebagai
alat framing, menekankan tema dari bagian itu. Biasanya muncul
dengan konstruksi chiastic.
-
?O LORD, our Lord, how excellent is Your name in all the earth!?
(Ps. 8:2[l] and 10[9])
-
?My God, my God, why have you forsaken me? and
? ?You are my God.? (Ps. 22:2[l] and 11[10])
27. Hyperbole: penggunaan istilah
berlebihan untuk menekankan akibat; artinya lebih dari makna
literalnya (Bullinger, pp. 423-428).
-
?The cities are great, and walled up to heaven.? (Deut.
1:28)
Maksud dari pernyataan itu adalah kota-kota itu
sangat tinggi, luar biasa.
-
?I am worn out from groaning;
all light long I make my bed swim with weeping
and drench my couch with tears.? (Ps. 6:6).
Membanjiri dan membasahi tempat tidur dengan air
mata mungkin secara literal tidak benar. Tapi hal itu menunjukan
satu malam dengan sakit yang sangat dan tangisan yang tak
terkontrol.
IV. Kiasan Melibatkan Penghapusan atau Supresi
28. Ellipsis: Penghapusan,
penghapusan satu kata atau kata-kata dalam sebuah kalimat
(Bullinger, pp. 3-113).
-
?When you shall make ready [ ] upon your strings.? (Ps. 21:13[12])
?Your arrows? tidak ada dalam teks; itu seharusnya
diberikan dari konteks. Terkadang kata-kata ditanggalkan karena
tidak diperlukan konteks; atau ditanggalkan untuk penekanan, seperti
dalam contoh berikut.
-
?there is in my heart [ ] like a burning fire? (Jer. 20:9b).
NIV memberi subjek yang dihapus: ?your word is in
my heart.? Konteksnya menunjukan kalau inilah subjek yang benar dan
terpenting.
29. Aposiopesis: Diam yang
tiba-tiba, berhenti berkata-kata, dengan diam yang tiba-tiba (dalam
kemarahan, duka, depresiasi, janji) (Bullinger, pp. 151-154).
-
?My soul is greatly troubled; but You, O LORD, how long--?? (Ps.
6:3)
Kalimat itu tidak lengkap karena emosi yang intens
terlibat. Pemazmur berhenti dalam kalimat ini dan menyerahkan
semuanya dalam pemeliharaan TUHAN. Contoh lain adalah Yesaya 1:13
yang menyatakan TUHAN ?kapok? dengan kepura-puraan ibadah Israel
?walaupun NIV memuluskannya sedikit.
32. Erotesis: disebut juga
Pertanyaan Retoris, bertanya tanpa mengharapkan jawaban (untuk
mengekspresikan penegasan, demonstrasi, kekaguman, pemujaan,
keinginan, penolakan, keraguan, permohonan, larangan, kasihan,
teguran, ratapan, absurditas ?anda harus memutuskan yang mana
maksudnya [lihat contoh-contoh dalam buku Bullinger]). Melalui
penggunaan kiasan kita berusaha membujuk pendengar untuk mengadopsi
sudut pandang. Respon yang diinginkan harus ditebak dan diuji dari
komposisi itu (Bullinger, pp. 943-956).
-
?Is anything too hard for the LORD?? (Gen. 18:14)
Maksud pertanyaan adalah tidak ada yang ?too hard?
(literalnya ?marvelous, wonderful, surpassing?). Bentuk pertanyaan
itu digunakan untuk mendesak Abraham dan Sarah menyadari maksudnya.
-
?Who can find a virtuous woman?? (Prov. 31:10)
Maksudnya adalah membangkitkan sebuah perasaan
menginginkan sesuatu yang begitu jarang; ini bukan sebuah pertanyaan
literal yang harus dijawab. ?Virtuous? dalam baris itu agak kurang
tepat untuk kata Ibrani khayil, kecuali kita berpikir dalam
istilah kebajikan.
-
?Why do the nations rage?? (Ps. 2:1)
Pemazmur mengekspresikan kekaguman, mungkin juga
kemarahan, bahwa bangsa-bangsa mau memberontak melawan TUHAN.
33. Meiosis: Mengecilkan satu hal
untuk memperbesar yang lain (disebut juga litotes) (Bullinger, pp.
155-158).
-
?And we were in our own sight as grasshoppers,
and so were we in their sight.? (Num. 13:33)
Perhatikan ini juga sebuah simile, membandingkan
orang dengan belalang. Pengecilan dimaksudkan untuk memperbesar
jumlah dan kekuatan musuh.
34. Tapeinosis: Mengurangi satu
hal untuk meningkatkannya (Bullinger, pp. 159-164).
-
?A broken and contrite heart, O God, you will not despise.?
(Ps. 51:19 [17])
Kita mengharapkan ?you will joyfully receive.? Tapi
sebuah pengurangan digunakan untuk menyatakan dua ide: ide pertama
adalah Tuhan akan menerima dan senang akan hati yang hancur?inilah
maksud yang diinginkan; lainnya adalah jika kita tidak memiliki hati
yang hancur Tuhan akan membiarkan. Tentu saja, ?broken? dan ?heart?
juga kiasan (hypocatastasis dan juga metonymy).
Ringkasan dan Ilustrasi
Ada beberapa kiasan diatas yang mudah disalah
artikan jika dilihat sekilas. Klasifikasi kiasan yang lebih luas
kedalam empat kelompok terbukti membantu, karena kita bisa bertanya
apakah penulis itu sedang membandingkan, mengganti, menambah atau
menghapus dalam kalimat.
Kiasan pembanding yang terlihat seringkali
adalah simile, metafora, hypocatastasis (atau implied metaphor),
anthropomorphism dan zoomorphism. Semuanya pada intinya melakukan
hal yang sama, i.e., membuat sebuah perbandingan; tapi melakukannya
secara berbeda. Jika kita menabelkan bagaimana kerja mereka, kita
harus memberikan perbandingan antar genus.
|
GENUS |
GENUS |
|
TUHAN |
perisai |
Properti dari satu wilayah semantic digubah
keying lainnya, membentuk sebuah perbandingan, apakah dinyatakan
atau diimplikasikan. Seringkali konteksnya membatasi atau
mensyaratkan bahasa metaforis, membatasi jangkauan perbandingan atau
ubahan. Tugas eksegetor adalah menentukan maksud dari perbandingan.
Salah satu cara melakukannya adalah menulis satu GENUS baru yang
merangkul kedua kata, kemudian membuatkan masing-masing speciesnya.
Metafor diatas bisa ditabelkan sebagai berikut:
| |
|
|
|
PERLINDUNGAN
(posited genus) |
|
TUHAN |
= |
perisai |
Kiasan pengganti yang perlu diperhatikan adalah
synecdoche dan metonymy. Kiasan dari synecdoche bisa ditabelkan
dengan cukup mudah karena melibatkan hubungan satu GENUS (atau
SELURUH) dan SPECIES (atau BAGIAN).
|
GENUS |
> |
e.g., military weapons/
peaceful implements |
|
SPECIES |
< |
e.g., swords/ploughshares |
Jadi jika kiasannya adalah synecdoche, kita
harus berpikir dalam kerangka pengganti kearah genus atau kelompok
yang lebih besar dimana kiasan itu berasal, atau kearah species
(atau bagian) yang dimaksud oleh genus.
Salah satu kiasan yang paling umum digunakan
dalam mazmur adalah metonymy. Ini juga sebuah kiasan pengganti, tapi
saat synecdoche benar-benar merupakan bagian dari seluruh atau
seluruh dari sebagian, metonymy kurang terhubung dengan hal yang
dimaksud ?tapi terhubung, dan disinilah perbedaannya dengan kiasan
pembanding. Dengan metonymy terdapat kelanjutan antar kiasan dan
topik. Melalui tabel berikut saya berusaha mengilustrasikan empat
tipe dasar (sebenarnya dua tipe dengan arah berlawanan). Contoh
kiasan dikotak.
|
SEBAB |
|
AKIBAT |
|
Musa |
> |
Hukum yang Musa tulis |
?They have Moses? tidak dilihat secara literal.
Mereka memiliki Kitab Suci yang Musa tulis. Maka dari itu, sebab
(penulis) dikemukakan, tapi dampaknya yang dimaksud. Antara penulis
dan tulisannya ada hubungan yang nyata, tapi tidak dalam pengertian
sebuah synecdoche.
|
SEBAB |
|
AKIBAT |
|
Batu yang Musa pukul |
< |
Mata air |
?You split the fountain? menggantikan kata
?fountain? dengan batu yang dipukul Musa, dari situ keluar mata air
setelah dia melakukannya. Ini adalah hubungan nyata antara kiasan
(fountain) dan apa yang dimaksud (rock) melaluinya.
|
SUBJEK |
|
SISIPAN |
|
kubur |
> |
Orang mati didalamnya |
?The grave cannot praise you? menggantikan
penampung dengan isinya (dan diagram saya dibuat untuk menunjukan
subjek menegaskan realitas yang dimaksud). Ada satu hubungan antara
?grave? dan ?dead?; tapi bukan sebuah perbandingan. ?Grave? sebagai
sebuah synecdoche mewakili tanah, atau bumi, atau Sheol.
|
SUBJEK |
|
SISIPAN |
|
Rambut panjang menunjukan sumpah |
< |
pemisahan |
?The separation is on his head? menggantikan
satu istilah deskriptif dengan apa yang dimaksudnya, the long hair
of the vow. Pernyataan utuhnya akan mengatakan bahwa long hair
mewakili dipisahkannya dia bagi TUHAN ada pada kepalanya.
Pada praktek nyata terkadang sulit untuk
membedakan tipe-tipe utama ini, tapi saat seorang semakin melatihnya
semakin mudah dibedakan. Tentu saja, ada saat dimana perbedaan
penafsiran dimungkinkan, tergantung pada bagaimana bagian itu
dilihat. Perjamuan Kudus melukiskan hal ini, Roma Katolik melihat
perkataan Yesus ?This is my blood? secara literal (tapi dengan
syarat-syarat), Lutheran secara metonymy, dan Baptist secara
metaforis.